Pakai AI, Hafiz Quran Umur 10 Tahun Ini Sabet Penghargaan Teknologi Junior

0
28
yasir salman
Keluarga Yasir Salman. Foto: Twitter

YASIR Salman, bocah 10 tahun asal Karachi, Pakistan, beserta keluarganya terpilih sebagai pemenang ‘Penghargaan Teknologi’ junior’ atas penemuan mereka yang diberi nama Cavity Crusher. Alat ini bisa memantau durasi saat anak menyikat gigi dan melaporkan kesehatan mulut mereka kepada orang tua mereka. Algoritma yang digunakan Cavity Crusher ini menggunakan artifisial intelegen (AI) atau kecerdasan buatan.

Yasir mengatakan dia memikirkan ide untuk Cavity Crusher ketika dia menemukan penelitian online bahwa kerusakan gigi pada anak-anak adalah masalah global. Setelah penelitian lebih lanjut, ia menemukan bahwa ini karena banyak anak tidak menyikat gigi selama dua menit yang disarankan dua kali sehari. Dengan dukungan keluarga dan pelatihnya, ia mengembangkan tempat sikat gigi yang dapat memonitor berapa lama anak-anak menyikat gigi mereka, yang kemudian akan mengirim pesan melalui Bluetooth ke telepon orang tua. Perangkat juga dapat memonitor jika, dan berapa banyak, pasta gigi digunakan. Yasir berharap penemuannya akan membantu anak-anak mengembangkan kebiasaan positif seumur hidup.

Orang tua Yasir tidak bisa bangga dengan penemuan putra mereka. “Saya tidak bisa percaya ketika ide kami dipilih karena ide-ide luar biasa dari seluruh dunia disajikan untuk kontes,” kata Fareeha.

Yasir tidak hanya menciptakan dan berinovasi, tetapi ia juga telah menghafal seluruh Al-Quran pada usia 10 tahun. Ini menunjukkan betapa anak-anak yang cakap unggul ketika diberi kesempatan. Ibunya tahu betul akan hal itu.

“Anak-anak kita tidak kekurangan kemampuan, tetapi kita membutuhkan platform seperti ini untuk memelihara kemampuan mereka.”

Yasir dan keluarganya dipilih dari 7000 peserta lebih dan 200 peserta lainnya yang mengikuti Tantangan Keluarga Inteligensi Buatan (AI) global di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS). AI Family Challenge tersebut adalah program pendidikan AI yang “menyatukan keluarga, sekolah, komunitas, dan teknologi pengetahuan untuk memberikan kesempatan kepada semua orang untuk belajar, bermain, dan berkreasi dengan AI.” Program ini mendorong keluarga untuk memikirkan masalah di komunitas mereka (baik di sekitar transportasi, kesehatan, pendidikan, keselamatan, atau lingkungan) dan untuk membuat solusi untuk itu menggunakan teknologi AI. Program ini juga menawarkan dukungan pelatih online dan lokal untuk para keluarga.

Program ini dipantau para juri dari seluruh dunia. Mereka mengevaluasi pengajuan dan memilih enam keluarga dengan ide terbaiknya. Keluarga tersebut kemudian diminta untuk membagikan ide mereka dengan panel juri ahli di Silicon Valley. Bangku juri tahun ini (2019) juga diisi oleh Jeff Dean, Direktur Unit Inteligensi Buatan di Google. [islampos]

SUMBER: ILMFEED

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of