Mana Yang Lebih Utama? Berbakti Kepada Orang Tua Atau Suami?

0
37
berbakti pada suami

Oleh: Pipit Era Martina

Antara Berbakti Pada orang tua atau berbakti pada Suami – Pada hakikatnya, berbakti adalah kewajiban semua anak kepada orang tuanya dan juga istri kepada suaminya. Akan tetapi tahukah anda mana yang lebih utama? Ketika menjadi seorang anak, tidak ada tempat lain untuk kita berbakti selain kepada orang tuanya saja. Sedangkan ketika seorang wanita menyandang status sebagai seorang istri, ada dua tempat untuk kita berbakti, yaitu pada orang tua dan juga pada suami. Memilih antara menuruti keinginan suami atau mematuhi perintah orang tua merupakan dilema yang banyak sekali dialami oleh wanita yang sudah menikah. Lalu bagaimana Islam mendudukkan perkara ini?

Seorang wanita apabila ia telah menikah, maka suami lebih berhak atas dirinya dibanding kedua orangtuanya. Ketika seorang suami mengucapkan ijab qabul, disitulah semua hak atas wanita berpindah kepada suaminya, termasuk urusan berbakti. Sehingga ia lebih wajib untuk menaati suaminya terlebih dahulu sebelum menaati kedua orang tuanya. Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa ayat 34 yang memiliki arti: “Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…”

Salah satu kemuliaan istri ialah menjaga kehormatan keluarganya selagi suami tidak berada dirumah, serta menjaga harta suaminya. Tidak dikatakan durhaka ketika seorang anak perempuan yang telah menikah lebih mengutamakan keinginan suaminya dibanding perintah orang tuanya. Selagi keinginan suaminya tersebut bertujuan untuk kebaikan. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya: “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.”

Tidak ada yang lebih mulia dari seorang wanita yang memenuhi kewajiban dan mentaati suaminya dalam segala hal kebaikan. Tidak mengkhianatinya ketika ia bepergian dan tidak pula berbohong tentang apa yang telah dilakukan. Dalam shahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Ketika wanita masih berperan sebagai seorang anak, segala apa yang ia lakukan mestilah mendapatkan ridho orang tua. Karena dimasa itu, ridho orang tua adalah ridhonya Allah. Nah, hal ini akan berubah ketika seorang wanita telah menikah, karena segala apa yang ia lakukan harus dengan rihonya suami, karena dimasa ini ridho suamilah ridhonya Allah. Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”

At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan”.” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “ Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” Dengan demikian seorang istri di sisi suaminya diserupakan dengan budak. Karena ia tak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya. Meskipun ayahnya atau ibunya memerintahkannya untuk pergi, jika suami tidak menghendaki maka tidak diperbolehkan untuk seorang istri melangkahkan kakinya keluar rumah.

Namun apabila kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya memerintahkan dalam perkara yang merupakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya ia diperintahkan untuk menjaga shalatnya, jujur dalam berucap, menunaikan amanah dan melarangnya untuk membuang-buang harta suaminya serta bersikap boros, maka wajib baginya untuk menaati keduanya dalam perkara tersebut. Dan apabila seorang suami justru melarangnya dari mengerjakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka tidak wajib baginya untuk taat kepada suaminya dalam perkara tersebut.

Taatilah suami dalam perkara kebaikan. Utamakan berbakti kepada suami selagi itu tentang kebaikan, alangkah lebih baiknya lagi jika seorang istri dapat menyeimbangkan antara berbakti kepada orang tua dan berbakti kepada suaminya. Karena sebaik-baiknya istri adalah yang selalu berbuat kebaikan, berbakti dan juga membuat senang orang tua dan juga suaminya.  Meskipun berbakti kepada suaminya ialah hal yang utama, tapi tidak pula dibenarkan seorang istri yang menaati suaminya dalam hal kemaksiatan. Bagaimana mungkin pintu surga akan terbuka bagi seorang istri apabila suami mengajaknya pada jalan kemaksiatan. Karena kebaikan itu seluruhnya dalam menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sebaliknya kejelekan itu seluruhnya dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of