Memaknai Luasnya Kasih Sayang Allah

0
20
kasih sayang Allah

Memaknai Luasnya Kasih Sayang Allah
Oleh: Shofi Nur Bani

Allah adalah Rabb yang Maha Penyayang. Kasih sayang Allah diwujudkan dalam bentuk rahmat begitu luas yang diberikan untuk seluruh ciptaannya. Sebab begitu sayang dengan hambanya, Allah selalu memberikan lebih banyak porsi rahmat daripada murka untuk kita dalam banyak situasi. Bahkan ditegaskan bahwa rahmatNya mengalahkan murkaNya.

Salah satu kebutuhan asasi manusia adalah kebutuhan untuk dihargai dan disayangi. Orang yang kering dari kasih sayang maka kemungkinan besar hidupnya akan kering pula dari kebahagiaan. Mengapa demikian? Sebab manusia lahir ke dunia ini karena kasih sayang. Alam pertama yang dihuni oleh seorang manusia adalah rahim ibunya. Penggunaan kata rahim, yang seakar dengan kata ‘rahmah’ tentu bukan sesuatu yang kebetulan. Terdapat jalinan kasih sayang yang kuat antara seorang Ibu dengan anak yang dikandungnya.

Karena itu, seorang ibu akan lebih sayang kepada anaknya daripada suaminya. Demikian pula seorang anak akan lebih sayang kepada ibunya daripada bapaknya. Hal demikian pula ditunjukkan dalam perilaku hewan. Misalnya, yang mati-matian melindungi anaknya dari setiap gangguan.

Rasulullah SAW berkata,
“Tidak akan sempurna keimanan kalian hingga kalian saling menyayangi.”

Para sahabat pun bertanya : “Wahai Rasulullah, kami semua penyayang.” Beliau menjelaskan: “Kasih sayang yang dimaksud bukan kasih sayang antar sesama kalian saja, melainkan kasih sayang kepada seluruh manusia dan kepada seluruh makhluk.” (HR At Tabrani)

Rahmat Allah yang kita rasakan di dunia hanya satu dari seratus rahmatNya. Dia menyimpan sembilan puluh sembilan rahmat lainnya, dan baru diperlihatkan kepada kita kelak, pada hari kiamat.

Rasulullah SAW bersabda :
“Sungguh pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, Dia juga menciptakan seratus rahmat (kasih sayang). Setiap rahmat yang diciptakan-Nya seluas jarak yang terbentang antara langit dan bumi. Dengan satu rahmat inilah seorang ibu menyayangi anaknya, binatang-binatang buas dan burung saling mengasihi antar sesama. Pada hari kiamat, Allah akan menyempurnakan (sembilan puluh sembilan rahmat-Nya) dengan satu rahmat itu, maka genap menjadi seratus rahmat. (HR. Muslim no.7153)

Dalam riwayat lain disebutkan :
“Sungguh Allah menciptakan rahmat (kasih sayang) dalam seratus bagian. Allah pun menahan sembilan puluh sembilan rahmat dan hanya meletakkan satu rahmat di muka bumi ini. Dengan satu rahmat inilah makhluk hidup saling mengasihi. Seekor kuda mengngkat kakinya dari anaknya yang berada di bawahnya, karena ia khawatir akan menginjaknya.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim.)

Satu banding sembilan puluh sembilan.
MasyaaAllah, ternyata kasih sayang yang tergambar dan bisa dirasakan di dunia ini, sejatinya hanyalah satu persen dari kasih sayang yang telah disiapkan Allah untuk masing-masing kita kelak.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah ketika menciptakan kasih sayang, Dia menciptakannya 100 bagian. Disimpan-Nya 99 bagian di sisi-Nya, dan Dia memberikan untuk seluruh makhluk-Nya satu bagian.”
(HR. Thabrani).

Jika kita mau menelaah kembali, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan bentuk kasih sayang yang rasanya dinilai telah cukup besar. Seperti kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang dengan rela dan penuh asih dirawat setiap hari sepenuh hati, kasih sayang seorang nenek pada cucunya yang selalu ingin dekat dan berusaha untuk selalu membuat senang. Keseluruhan bentuk tersebut mungkin kita nilai telah cukup besar, tapi ternyata kuantitasnya hanya satu persen dibandingkan kasih sayang yang Allah simpan.

Rasulullah bersabda,
“Siapa yang tidak menyayang apa yang ada di bumi maka dia tidak akan disayang oleh Siapa yang ada di langit” (HR. Thabrani).

Jika demikian, maka berharap untuk mendapatkan atau merasakan kasih sayang Allah sudah sewajarnya menjadi cita-cita dari seorang hamba. Bukan hanya karena besarnya wujud kasih sayang tersebut, tetapi juga karena kasih sayang yang dapat dirasakan di dunia ini begitu terbatas.

Dengan demikian, maka tumpuan harapan dari kehausan akan kasih sayang manusia hanya akan terpuaskan manakala dia mendapatkan lagi kasih sayang yang hakiki di akhirat kelak. Persoalannya adalah bagaimana cara mendapatakan kasih sayang yang hakiki tersebut.

Dalam sebuah hadist Nabi SAW bersabda,
“Siapa gerangan yang tidak menyayang maka dia tidak akan disayang”.(HR. Bukhari).

“Kaum mukminin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, yang paling lapang dadanya, yang mudah bersahabat dan mudah disahabati; tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mudah bersahabat dan mudah disahabati.” (HR At Thabari)

Sifat penyayang merupakan pertanda kelapangan dada, kelembutan hati, dan keluhuran budi pekerti. Dipenuhinya hati dengan kasih sayang merupakan tanda kebahagiaan, dan itu merupakan sebab diraihnya rahmat Allah. Seseorang yang berakhlak mulia akan dimudahkan untuk mengetahui kebenaran. Ia menyayangi seluruh manusia serta seluruh makhluk, maka ia disayangi oleh manusia dan seluruh makhluk. Jadi, cara dan upaya yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kasih sayang yang hakiki adalah dengan mengeluarkan modal berupa menyayangi siapa pun yang ada di bumi ketika hidup, serta mudah bersahabat dan disahabati. Hadis di atas memposisikan diri sebagai hukum sebab akibat.

Artinya, ketika seseorang tidak memiliki dan tidak mengusahakan menyayang ketika di bumi, maka jangan berharap dirinya akan mendapatkan kasih sayang di kehidupan berikutnya. Sebaliknya, siapapun yang telah mengusahakan dan menabur benih kasih sayang ketika hidupnya di dunia, maka patut dia berharap mendapatkan kasih sayang yang sejati di akhirat kelak. Hati yang keras akibat kosongnya hati dari kasih sayang.

Al-Baghowi berkata “Hati kalian kering, dan keringnya hati dengan keluarnya rahmat dan kelembutan darinya” Dan hal ini merupakan tanda kesengsaraan. Sungguh orang yang sengsara adalah orang yang tidak memiliki kasih sayang. Seseorang yang tidak memiliki kasih sayang tidak akan pernah disayangi.

Betapa sengsara hidup seorang yang tidak menyayangi sesama manusia dan tidak disayangi mereka. Jika penduduk bumi saja tidak menyayanginya terlebih bagaimana dengan penduduk langit? Dan diantara orang-orang yang masuk surga adalah kaum yang hatinya penuh dengan rahmat dan kelembutan disertai keimanan.

Referensi:
– Aktualisasi Akhlak Muslim : Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsari
– https://firanda.com/1401-tebarlah-kasih-sayang-niscaya-engkau-disayang-allah.html
– http://www.ulilalbab.com/2011/09/meraih-99-rahmat-allah.html

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of