Apa Itu Kelainan Tingkah Laku?

0
9
kelainan tingkah laku

Apa Itu Kelainan Tingkah Laku (Behavior Disorder)?

Oleh: Pipit era martina

Setiap orang tua pastilah memiliki harapan dan cita-cita untuk memiliki anak-anak yang sehat jasmani dan rohani. Betapa bahagianya hati apabila melihat anak-anak tumbuh dengan baik, bermain dengan lincah dan riang. Dapat beradaptasi dengan lingkungan dengan baik dan lincah dalam mengutarakan pikiran serta kreativitasnya. Harapan ini tentu menyangkut dengan pertumbuhan dan perkembangan yang paling optimal dari segi fisis, emosi, mental dan sosial dari setiap anak. Tetapi ada suatu kenyataan yang tidak dapat di pungkiri adlaah adanya sejumlah anak yang memperlihatkan perilaku sumbang, bertingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku anak pada umumnya. Tingkah laku yang mengalami gangguan dan kelainan (Disorder), yang biasanya lebih dirasakan oleh lingkungannya daripada oleh anak itu sendiri.

Suatu kelainan tingkah laku tidak hanya didiagnosis berdasarkan pada tampaknya tingkah laku yang spesifik, tetapi juga berdasarkan dari gejala-gejala jamak (multiple symptomatology) yang sifatnya terus menerus (persistent) dan menyebabkan ornag yang mengalami kelainan ini lumpuh secara sosial. Pada anak-anak, kelainan tingakh laku itu biasanya berkaitan dengan perkembangan dan situasi tertentu. Misalnya, anak berumur 5 tahun masih sering mengompol bila di rumah sendiri, tetapi tidak bila menginap di tempat lain. Anak usia Sekolah Dasar biasanya ketika di sekolah sangat agresif dan sangat mengganggu, sedangkan di rumah tidak berlaku demikian.

Buckle dan Lebovici (1960) menekankan bahwa semua anak pada suatu waktu tertentu akan memeperlihatkan tanda-tanda gangguan tingkah laku. Kanner (1960) menyatakan bahwa kelainan tingkah laku itu lebih berkaitan dengan ambang ketergangguan (annoyance threshold) dari lingkungan dan bukan dari kualitas tingkah laku itu sendiri. Ditambahkannya pula bahwa  tidak ada kriteria yang mutlak tentang normalcy; penilaian tentang terganggu atau tidaknya suatu tingkah laku berhubungan erat dengan sikap dari agent yang menilai tingkah laku itu.

Anthony (1967) menyatakan ada 2 tipe kelainan tingkah laku, yaitu:

  1. Phase specific, yaitu suatu kelainan yang terjadi hanya pada satu tahap tertentu dari perkembangan. Misalnya anak membangkang pada fase umur sombong (trotz-alter). Pada kelainan jenis ini biasanya keadaan lingkungan relative baik dan tidak ada kelainan konstitusi pada diri anak. Mereka yang mengalami kelainan jenis ini akan mampu melewati masa-masa sukar tersebut.
  2. Diffuse variety, yaitu suatu kelainan tingkah laku yang muncul/ada pada setiap tahap perkembangan. Disini biasanya terdapat lingkungan yang cenderung patologis dan konstitusi anak memnag peka untuk terjadinya kelainan ini.

Hinsie dan Campbell (1960) memandang kelainan tingkah laku sebagai reaksi terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan dan kelainan ini dapat tampil sebagai masalah dalam perkembangan kepribadian (misalnya terpupuknya sifat-sifat yang tidak diinginkan), sebagai gangguan perbuatan (termasuk disini kecenderungan perbuatan anti sosial), sebagai reaksi nerotis dan sebagai masalah sekolah.

Ross (1974) menghubungkan kelainan tingkah laku ini dengan penyimpangan tingkah laku dari norma sosial yang berlaku, tingkah laku yang dinilai oleh orang lebih tua berdasarkan frekuensi dan intensitasnya. Kelainan ini dapat merupakan tingkah laku yang kurang (deficient behavior) atau merupakan tingkah laku yang berlebihan (excess behavior).

Dari pendapat beberapa ahli di atas, kita tahu bahwa kelainan tingkah laku tidak hanya di pandang secara fisik saja, melainkan harus pula dilihat dari sudut interaksi antara anak dan lingkungannya atau dengan perkataan lain. Amati setiap tumbuh kembang anak dengan baik, agar segala kemungkinan buruk tidak terjadi. Jangan pernah bosan ataupun jenuh mengamati segala kegiatan anak di saat pertumbuhannya. Jika menginginkan buah hati yang cerdas dan berkualitas, maka tingkatkan pengawasan dan juga ketelitian dalam memberi pendidikan dasar pada anak. Semoga bermanfaat.

Source: Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia