Mencari Rezeki Yang Berkah

0
31
rezeki yang berkah

Mencari Rezeki Yang Berkah
Oleh : Lulu Rizkia Fajrin

Memulai aktivitas apapun harus didasari dengan motivasi yang baik, lillah hanya untuk mengharap ridho Allah SWT. Islam memotivasi umatnya untuk bekerja menjemput rezeki yang berkah sebagaimana yang sudah di janjikan-Nya. Bahwasannya Allah SWT telah menetapkan rezeki manusia ketika manusia itu dalam buayan perut ibu ketika berusia 4 bulan. Maka tugas kita sekarang adalah menjemput rezeki tersebut dengan ikhtiar dan do’a.

Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (Profesional atau ahli). Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla. (HR. Ahmad)

Serupa dengan seorang mujahid artinya nilainya sangat besar dimata Allah SWT. Ini menjadi motivasi besar umat islam dalam mencari rezeki dan perpeluang mendapat ampunan Allah SWT.

Setiap manusia memiliki kewajiban untuk mencari rezeki demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi sebagai kaum adam yang menjadi tulang punggung keluarga sebagai kepala rumah tangga. Syariat islam telah mengajarkan kepada umat muslim untuk melakukan usaha yang halal dalam memenuhi kebutuhannya. Abu Hurairoh ra. Berkata : Muhammad Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepada hambaNya apa yang sudah ditetapkan bagian rezeki untuk dirinya, ambillah apa yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” (HR. Buhkori Muslim).

Rasulullah SAW menambahkan bahwa barang siapa yang yang bertakwa kepada Allah SWT maka Allah akan memberikan jalan yang tidak disangka-sangka. Makna dari hadits diatas adalah mencari rezeki haruslah lillah, dan pastikan setiap rezeki yang didapatkan jelas kehalalannya.

Tanamkan motivasi diri dalam hati bahwa rezeki yang baik hanya karena Allah SWT, sesuai dengan keinginan Allah SWT, hingga Allah SWT yang akan mencukupkan sendiri seluruh kebutuhan financial kita. Janganlah sekali-kali terbesit dalam hati dan fikiran untuk berburu harta untuk memperkaya diri, karena itu termasuk kedalam akhlak yang tercela.

Sayang di akhir zaman ini banyak orang yang mencari rezeki tidak dengan cara sewajarnya, tanpa memperhatikan halal atau haram. Mereka berfikir yang penting dapat uang untuk memenuhi hajatnya, meskipun dengan cara yang haram. Perkataan Rasullallah sudah terbukti apa adanya. “akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (HR. Bukhori)

Bagi seorang muslim, sedikitnya ada 4 hal yang diajarkan dalam islam yang harus diperhatikan dalam mencari rezeki agar mendapat ridho dari Allah SWT.
Pertama, jadikan motivasi kerja sebagai ibadah. Langkah pertama yang harus dilakukan agar kerja itu bernilai ibadah adalah harus diawali dengan niat. Sebab apapun amal seseorang tergantung dengan niatnya.

Niatkanlah bahwa kerja atau usaha yang dilakukan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Rasulullah telah mengingatkan kepada kita bahwa pentingnya niat seiiring dengan motivasi, dua hal ini harus dijadikan sebagai indikator utama dalam kinerja kita. Langkah kedua ialah pastikan bahwa setiap kerjaan atau usaha yang dilakukan tidak bertentangan dengan syariat islam, tidak termasuk dalam perbuatan riba.

Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imron ayat 130-131 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberunungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” Tidak mencari rezeki dengan cara yang bathil, seperti korupsi, suap, tipu-menipu dan perbuatan tercela lainnya.

Kedua, professional dan ahli. Rasulallah telah berpesan bahwa dalam bekerja umat muslim harus menunjukan performanya dengan baik dan menunjukan sikap profesionalisme yang baik. Melakukan pekerjaan dengan bidang yang sukai dan hati hati serta tidak tergesa gesa dalam bergerak. Dalam hadis diatas di jelaskan Allah menyukai orang yang berkerja dengan terampil.

Jika motivasi kerja sudah karena Allah pasti akan melakukannya dengan sepenuh hati dan sebaik mungkin. Terus mengasah diri untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bekerja, jangan malas untuk belajar dan berlatih agar semakin ahli dibidangnya. Kemauan seseorang dalam meningkatkan potensi diri bisa dijadikan tolak ukur apakah motivasi kerja tersebut untuk ibadah atau bukan.

Ketiga, etos kerja seorang muslim. Etos kerja seorang muslim harus lebih tinggi dari kaum lainnya. Muslim harus menunjukan jati dirinya bahwa dalam bekerja seorang muslim pantang menyerah. Sebab motivasi seorang muslim tidak hanya harta dan jabatan, melainkan pahala dari Allah SWT. Jadi tidak ada kata malas dan harus bersunggung-sungguh dalam bekerja. Ingat seorang mujahid akan mendapatkan pertolongan dari Allah dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Keempat, seorang muslim harus adil dalam bekerja. Artinya seorang yang professional itu harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika waktunya bekerja, maka bekerja. Jika waktunya istirahat, maka istirahatlah. Jika waktunya sholat, maka sholatlah. Adil juga berarti bekerja sesuai dengan wewenang, tugas dan tanggung jawabnya.

Tempatkanlah harta didalam genggaman tangan, jangan didalam hati. Selama harta ada di tangan dan tidak sampai ke hati, maka harta itu tidak akan memberikan pengaruh lahiriyah, namun jika harta itu sudah bersemayam didalam hati maka harta itu akan membahayakan diri. Sebab karakter harta itu adalah melalikan. Bukan tidak boleh mencari harta dunia, tetapi selalu ada warning dalam memperolehnya. Sehingga kita harus menyikapinya dengan proporsional. Dan jangan lupa untuk mengeluarkan hak dari rezeki tersebut dengan zakat, infaq dan shodaqoh. Karena dalam rezeki kita ada hak orang lain.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of