Hari Terkelam Di New Zealand

2
22
aksi teroris

Hari Terkelam Di New Zealand

Oleh : Luthfina M. (Penulis buku, pemerhati social dan remaja)

Tanggal 15 Maret 2019 pukul 13.40 waktu New Zealand, umat islam kembali disuguhkan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Umat muslim yang hendak sholat jumat di masjid Al Noor di Christchurch dan Linwood Avenue diberondong tembakan brutal oleh teroris bengis yang menewaskan setidaknya 49 orang dan melukai 20 lainnya. Lebih parahnya pelaku secara barbar menyiarkan secara langsung serangan berdarah ini melalui akun media sosialnya. Dalam video tersebut terlihat bagaimana pelaku dengan sangat brutal menyerang jamaah masjid  yang hendak sholat jumat bak main game menggunakan senapan mesin selama lebih dari 6 menit. PM Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan serangan teror yang menyebabkan 50 orang meninggal dunia di Christchurch, Jumat (15/3) sebagai ‘hari terkelam di Selandia Baru’.

Polisi telah menahan pelaku atas nama Brenton Tarrant, 28, warga Australia. Dia sudah hadir di persidangan pada Sabtu (16/3) tanpa pembelaan dan kini dikembalikan ke tahanan. Dia akan kembali hadir di persidangan pada tanggal 5 April mendatang. Penembakan pertama berlangsung di Masjid Al Noor, di pusta kota Christchurch. .Ini terjadi sekitar pukul 13.40 waktu setempat (07.40 WIB).

Serangan kedua berlangsung beberapa saat kemudian di Masjid Linwood, lima kilometer dari Masjid Al Noor dan sebelah timur dari pusat kota. Keterangan soal serangan di Masjid Linwood, yang berada di pinggiran Kota Christchurch, kurang terperinci.Sejumlah penyintas mengatakan kepada media setempat, mereka melihat seorang pria bersenjata memakai helm motor hitam melepaskan tembakan ke arah 100 jemaah yang sedang salat. Komisaris Polisi, Mike Bush, menilai kedua serangan “sangat terencana dengan baik. Beberapa senjata api ditemukan di kedua lokasi kejadian. Adapun dua bom rakitan ditemukan di dalam mobi dan dijinakkan oleh militer, sebut keterangan polisi. Si penyerang menyasar baik ruangan pria maupun ruangan perempuan. Sejumlah saksi mata mengatakan kepada media setempat bahwa mereka berlari menyelamatkan diri dan melihat orang-orang berdarah terkapar di tanah di luar masjid. “Tubuh-tubuh bergelimpangan,” ujar seorang pria

Hanya dikecam, tanpa solusi

Dari latar belakang pelaku sangat jelas bahwa ini adalah aksi teror terhadap kaum muslim. Jelas bahwa kaum muslim adalah korban terorisme sebenarnya, namun dunia memandang bahwa kaum muslim adalah teroris itu sendiri. Lalu apa reaksi dunia, terutama negri – negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim? Mereka hanya bisa mengecam, bahkan tak sedikit yang diam. Arab Saudi, UAE, Turki, Yordania, Indonesia, Malaysia, Afghanistan, Pakistan menyatakan kesedihan dan kecamannya melalui cuitan di twiter atau video singkat yang diunggah di media sosial.

Dengan kecaman itu seolah-olah telah gugur kewajiban mereka dan merasa bangga bak pahlawan yang sudah menyelamatkan dunia. Bahkan parahnya ada upaya untuk menutupi fakta teror ini kepada masyarakat umum dengan melarang penyebaran video yang dianggap sebagai “konten negative”. Salah satunya Indonesia melalui Mentri Kominfo Rudiantara melarang penyebaran video ini dengan dalih mengandung aksi kekerasan dan melanggar UU No 11 Tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Bahkan segala cara ia kerahkan, instansinya sudah bekerja sama dengan media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan lainnya untuk mengatasi peredaran konten ini. Sudah sekitar 500 unggahan yang dihapus dari berbagai platform sampai sore ini,” kata dia lewat akun Twitter @rudiantara_id, Jumat (15/03/2019).

Tragedi berdarah yang menyerang kaum muslim sebenarnya tak hanya sekali ini, puluhan kali aksi teror bahkan genosida yang meregang nyawa kaum muslim yang tak bisa disembunyikan dari mata dunia. Sebut saja pembantaian Muslim Rohingya, genosida Muslim Uyghur, hujan bom di Palestina yang tak kunjung usai, kaum muslim di Bosnia, Suriah dan negara muslim lainnya yang sudah merenggang ribuan nyawa saudara kita.Dunia seolah bungkam tak berdaya, buta matanya dan tuli telinganya. PBB terbukti gagal, sebab masalah ini sejak lama. ASEAN tidak berkutik, Indonesia hanya sekedar menyesalkan. Dunia juga hanya bisa mengecam tanpa aksi nyata. Sebenarnya sebagai kepala negara yang memiliki kekuasaan, mereka bisa melakukan yang jauh lebih heroic daripada hanya mengecam. Mengecam, mengutuk dan yang sejenisnya sebenarnya tak menyelesaikan masalah ini secara tuntas. Kaum muslim akan terus menjadi korban kebengisan musuh – musuhnya

Dunia butuh pelindung.

Imam Al Ghazali menyatakan. “Kekuasaan itu penting demi keteraturan agama dan dunia. Keteraturan dunia penting bagi keteraturan agama. Keteraturan agama penting bagi keberhasilan dan kebahagiaan manusia di akhirat. Itulah tujuan yang pasti dari para nabi. Oleh karena itu, kewajiban adanya Imam atau Kholifah adalah hal yang penting dalam syariat islam dan tak ada jalan atau alasan untuk umat muslim meninggalkannya”

Saat ini, kaum muslimin tidak punya sebuah kapal yang kuat. Kita terombang-ambing di dalam sampan-sampan kecil yang minim kekuatan. Kebanyakan sampan pun masih berlubang. Kaum muslimin memerlukan satu bahtera untuk berlayar bersama di bawah satu nakhoda. Kita memerlukan kekhilafahan, yang mampu mengayomi muslim sedunia. Rasulullah bersabda,

الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Seorang imam (khalifah) adalah tameng atau perisai, dimana di belakangnya umat berperang, dan kepadanya umat berlindung.” (HR. Bukhari no. 2957).

Ketika ada satu wilayah Islam yang diserang oleh kaum Kafir, maka ibarat tubuh, wilayah yang lain pun dengan cepat membantunya. Saat Perang Salib di Palestina, Shalahuddin al-Ayyubi datang dari Mesir untuk membebaskan wilayah tersebut (1187 M). Yusuf bin Tasifin juga melakukan hal yang sama, ketika kaum Salibis menduduki Andalusia, Spanyol (1109 M). Bahkan Khilafah juga melindungi pemeluk agama lain. Ketika orang-orang Yahudi terpaksa mengungsi akibat praktek inkuisisi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapat perlindungan dari Khalifah Bayazid II. Selain sebagai pengayom dan pelindung rakyat, Khalifah juga sebagai pemersatu ketika ada perbedaan pendapat yang bisa menjurus kepada pertikaian. Dalam sebuah kaidah disebutkan,

أَمْر الإِماَمِ يَرْفَعُ الخِلاَفَ

“Pendapat imam menjadi juru putus ketika terjadi perselisihan.”

Keberadaan Negara Islamiyah bagaikan payung yang melindungi dari sengat matahari dan derasnya air hujan. Jika Khilafah Islam tegak maka ia berpotensi menyatukan 1,4 miliar umat Islam di seluruh dunia; menghimpun sebagian besar kekayaan sumber daya alam yang umumnya dimiliki negeri-negeri Islam; bahkan menggalang kekuatan militer dalam jumlah amat besar. Potret masa depan umat Islam inilah yang tidak dikehendaki oleh Barat. Sebab, mereka sadar, jika Khilafah tegak dan mempersatukan umat Islam sedunia, dominasi dan penjajahan mereka akan segera berakhir. Tersebab itu, umat Islam harus sadar bahwa perpecahan sejak awal memang menjadi cita-cita kaum penjajah Barat dan mereka akan terus membuat skenario untuk memeliharanya. Salah satunya adalah dengan terus-menerus memojokkan ide Khilafah sekaligus memerangi kaum Muslimin yang berjuang untuk menegakkan cita-cita tersebut.

Oleh karena itu, umat harus sadar, System Islam  adalah kunci persatuan umat Islam sedunia. System Islam pula yang bakal menegakkan agama Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, yang tentu bakal menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Walhasil, penting bagi setiap muslim untuk terus menyuarakan persatuan umat Islam. Namun, lebih penting lagi umat ini untuk terus menyuarakan, bahwa persatuan umat Islam sedunia tak akan pernah benar-benar bisa terwujud, kecuali dalam satu kepemimpinan Negara Islamiyah. Wallahu a’lam.

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Ilham Fatahillah Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Ilham Fatahillah
Admin

sangat keji

Ilham Fatahillah
Admin

mengerikan