Orang Cerdas Di Mata Rasulullah

0
123

Orang Cerdas Di Mata Rasulullah

Oleh : Pipit era martina

Tidak dapat dipungkiri, dalam kehidupan saat ini pandangan terhadap kecerdasan seseorang terlihat dan dinilai dari indikator bendawinya saja. Seperti, mendapat nilai tertinggi di kelas, menempuh pendidikan di universitas yang mentereng, bekerja di kantor ternama dan masih banyak lagi. Cara pandang ini  memang tidak sepenuhnya salah. Karena indikator-indikator tersebut merupakan cara termudah bagi seseorang untuk mengukur tingkat kecerdasan.

Akan tetapi, cara pandang kecerdasan di mata Rasulullah tentulah bukan hanya bersifat duniawi saja, melainkan juga mengenai kecerdasan dalam bekal ilmu akhirat. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA, “Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang berakal”

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa orang yang banyak mengingat kematian termasuk orang yang cerdas. Mengapa dikatakan demikian? Karena orang yang senantiasa mengingat kematian maka ia akan mempersiapkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan akhirat kelak, tidak terpaku hanya pada duniawi yang jelas bersifat sementara.

Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakan orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah lalu menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas” (HR Ibnu Majah, Thabrani dan Al Haitsami)

Sangat jelas sekali, bahwa Rasulullah memandang umatnya dari ingatan yang memenuhi pikirannya, pikiran yang selalu dipenuhi dengan kematian dan kesiapan menuju akhirat. Pikiran yang selalu dipenuhi dengan khayalan kenikmatan dunia, mengejar jenjang tertinggi di dunia tidaklah masuk kategori orang cerdas di mata Rasulullah jika tidak di imbangi dengan pikiran yang berisi tentang kematian. Karena setinggi apapun jabatan yang kita kejar dan capai, pada akhirnya tidak memberi syafaat di akhirat kelak.

Sebagian orang beranggapan bahwa dengan uang hidupnya akan bahagia, jika sakit nanti bisa masuk rumah sakit terpilih, bekerja keras demi mendapatkan impiannya dari kenikmatan-kenikmatan duniawi. Sebesar itukah keyakinan kita bahwa kita akan hidup sampai mendapatkan semua yang diimpikan? Uang memang bisa membeli segala apa yang kita inginkan di dunia, tapi tidak dapat membeli tiket eksekutif menuju akhirat, hanya bekal taqwa dan amal sholih lah yang dapat menjadi jembatan apik menuju akhirat.

Belajarlah jadi manusia yang bijak dalam  menjalani kehidupan, berjuanglah untuk kebahagiaan dunia namun jangan pernah lalai mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat. Berikan keseimbangan pada pikiran untuk menyetarakan urusan dunia juga akhirat. Semangat yang terbangun guna menumpuk harta di dunia akan pudar seketika tanpa kita tahu waktunya, sedang bekal yang kita persiapkan akan berguna sewaktu-waktu di waktu yang tak di sangka.

Manfaatkan sisa usia dengan segala kebaikan, tanam benih amal sebanyak mungkin dan pupuk kebaikan agar terus bersemi. Jika kita tak mampu  menjadi orang cerdas di mata Rasulullah, setidaknya tidak menjadi umat yang bodoh dengan menyia-nyiakan waktu yang di sediakan dengan berfoya-foya tanpa ingat tempat berpulang. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang melupakan kematian.

Lampung, 04 February 2019

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of