Gara-Gara Pecel Lengguk

0
21

Gara-Gara Pecel Lengguk
Oleh : Lailatul Mufidah

“Pecel lengguk nduk, makan ya,” ucap ibu mertua sembari meletakkan bungkusan dari daun pisang dengan aroma bumbu kacang.
“Baru bikin, masih seger,” lanjutnya lagi.
“Terima kasih, Bu.” Aku mengangguk dan tersenyum, kemudian ibu mertua kembali pergi ke warung bulek.

Siang itu, sama seperti siang sebelumnya. Matahari masih setia dengan terik yang menyengat. Aku berbaring gusar di kasur, merasa tidak nyaman. Bukan karena cuaca yang panas, saat itu aku justru merasakan dingin di seluruh tubuh meski hembusan nafas terasa hangat.

Sendi-sendiku terasa ngilu, kepala pusing dan terasa berat. Dengan kondisi seperti itu, merebahkan diri di kasur adalah hal yang paling membuatku enjoy, sebagai waktu istirahat setelah beberapa tugas sebagai ibu rumah tangga aku selesaikan dengan penuh perjuangan.

Selain sebagai ibu rumah tangga, aku juga berjualan air kesehatan, yang aku produksi sendiri dengan mesin ionisasi buatan Jepang. Hari itu, aku telah berjanji pada beberapa pelanggan untuk mengantarkan pesanan mereka. Tapi, persediaan galon di rumah habis. Artinya, aku harus membeli beberapa galon dan toko yang menjualnya lumayan jauh.
Ah, malas pergi rasanya. Badan ga enak begini! Batinku, membayangkan pekerjaan membawa beberapa galon dari daerah Bojong yang terletak sekitar lima belas kilometer dari rumahku.

Aku pun masih berbaring dan berpikir untuk menunda pergi dan meminta maaf pada pelanggan karena tidak bisa mengantarkan air kangen water hari itu, karena badan sedang tidak sehat. Aku yakin, pelanggan akan paham dan mau mengerti.
Cup! Sebuah kecupan di kening menyadarkan aku. Ternyata aku tertidur sehingga tidak menyadari kedatangan suami yang baru pulang dari tempat kerja.

“Tumben, umi tidur? Udah makan?” tanyanya padaku yang masih setengah sadar.
“Belum Bi, Umi kok rasanya kurang enak badan. Ga pingin makan.”
“Ya udah istirahat aja.”
“Tapi ada pesanan air dan persediaan galon habis. Gimana ya, Bi?” tanyaku ragu.
“Gimana kalau umi makan dulu saja, nanti siapa tahu jadi sehat,” saran suami sembari mengelus pipiku.

Aku pun menurut kata suami. Yah, meskipun aku sama sekali tidak berselera. Sedari pagi aku memang hanya minum air putih. Melihat makanan rasanya tidak minat sama sekali. Bahkan, pecel lengguk yang dibawa ibu mertua sama sekali tidak membuatku bersemangat untuk makan. Padahal, biasanya, daun ketela rebus dipadu dengan sambal kacang pedas itu adalah salah satu makanan favoritku.

Meski kupaksa makan, tetap saja hanya satu sendok nasi yang masuk. Perutku seperti tak mau menerima makanan. Kutengok bungkusan daun pisang berisi pecel lengguk. Ya Allah, kalau sampai nggak dimakan kan jadi mubazir. Eman-eman, pikirku. Ya, karena suamiku tak suka pecel lengguk.

Akhirnya, aku putuskan untuk membeli galon ke Bojong sekalian niat mau memberikan pecel lengguk kepada Bu Lilis, pemilik toko galon di daerah Bojong. Bismillah …
”Umi ke bojong dulu ya, Bi. Assalaamu’alaikum…,” pamitku sambil mencium punggung tangan kanan suami.
”Tangan umi kok hangat?” Dia memandangku, menunggu jawaban.
”Nggak apa-apa, Sayang. Bentar lagi juga sehat kok, insyaAllah.” Aku mencoba meyakinkan laki-laki di hadapanku, mengukir senyum termanis untuknya.
”Ya sudah, hati-hati ya, jangan lupa beri kabar kalo sudah sampai.” Suamiku berpesan sambil mengecup pelan keningku.

Qodarullah, Dia, yang hatiku ada dalam genggaman-Nya, Dia menggerakkan hatiku untuk tetap pergi membeli galon dan beberapa keperluan lain guna menunaikan tanggung jawab, menjaga hak mereka yang telah menjadi pelangganku untuk mendapatkan pelayanan yang baik.

Kucantolkan kresek hitam berisi pecel lengguk di sisi samping depan motor. Aku berpikir akan memberikan pecel itu pada Bu Lilis, di toko nanti, jika aku tak sungkan. Sebelum melajukan sepeda motor, terlebih dulu ku tata hati, membenahi niat. Aku tak mau kepergianku menjadi sesuatu yang sia-sia. Apalagi dengan kondisi badan meriang saat itu. Ya, agar kepergianku mendatangkan ridho-Nya dan berbuah kebaikan, niatku harus lillaah.

****

Pelan kulajukan motor, menikmati setiap panorama yang tertangkap netra. Keringat dingin menderas sepanjang perjalanan membuat rasa lapar semakin nyata, namun tak ku hiraukan hadirnya. Hamparan hijau di sisi kiri dan kanan jalan, biru langit dengan awan seputih bulu burung-burung berkaki dan berleher panjang yang terbang rendah kemudian landing di pematang sawah, terpa angin yang sedikit menampar, meluluhlantakan segala keangkuhan jiwa. Segala puji bagi-Mu ya Robb, Pencipta alam semesta dengan segala keindahannya.

Lima belas menit aku menyusuri jalanan yang di dominasi persawahan dan perkampungan. Setelah itu aku membaur dengan lalu-lalang jalan raya Pekajangan-Kedungwuni yang sangat ramai, kemudian menuju jalan Surabayan-Bojong.

Aku berhenti saat lampu merah menyala di pertigaan jalan Bojong, tiba-tiba aku menyadari jarum indikator bahan bakar di depanku hampir mengarah ke garis merah.
Aku harus mengisi bensin kuda besiku sebelum ke toko Bu Lilis. Saat pulang nanti, sudah pasti jok belakang akan penuh dengan galon dan akan sangat repot kalau harus membuka jok untuk mengisi bensin.

pom bensinToko Bu Lilis berada di sebelah utara pom bensin Bojong. Sepanjang jalan dari pertigaan, tak ada satupun penjual bensin yang ku dapati, dan aku hampir sampai di pom bensin. Karena toko Bu Lilis sudah dekat, aku berniat untuk mengisi bahan bakar motorku di sana.

Sebenarnya cukup lama aku tak pernah lagi membeli bensin di pom, kira-kira sudah hampir satu tahun, aku lebih memilih membeli bensin yang dikemas dengan botol-botol bening dan biasanya berjajar di rak kayu sederhana, di depan rumah atau warung, di pinggir jalan.

Saat aku tiba di pelataran pom, kulihat antrian cukup panjang. Tanpa berhenti, aku meneruskan laju motor, meninggalkan SPBU yang berjarak kurang dari 1 kilometer dengan toko Bu Lilis, itu.

Tak sampai 5 menit aku sampai ke tempat yang kutuju, ku lihat ada beberapa orang di sana. Aku tetap melaju, melewati toko yang menjual galon dan berbagai perlengkapan untuk usaha produksi air kesehatan yang sudah satu tahun ku jalani.

Motorku bergerak semakin jauh, meninggalkan toko itu, tapi aku belum juga menemukan penjual bensin. Akhirnya aku memutar arah, melajukan motor ke selatan. Aku kembali melewati jalan yang sama. Untuk kedua kalinya juga, aku lewat di depan toko yang sama. Ya, hanya lewat, karena aku harus membeli bensin dulu sebelum ke sana.

Ah, kenapa tadi aku tidak mengantre saja di pom? Seandainya tadi aku mau menunggu sebentar, mungkin sekarang aku sudah selesai belanja dan bersiap pulang. Aku berbicara sendiri dalam hati. Menyesal? Mungkin. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang tak suka menunggu. Tidak. Menunggu adalah hal biasa bagiku. Apalagi hari itu aku tidak sedang buru-buru, seharusnya tak ada alasan untuk tidak menunggu.

Aku sampai di depan SPBU yang tadi aku tinggalkan. Harusnya aku senang dan segera masuk ke deret antrean kendaraan yang tidak terlalu panjang seperti yang ku lihat sebelumnya. Tapi, aku tak melakukan itu. Entahlah, ada rasa enggan yang aku sendiri tak mengerti apa penyebabnya.

Aku justru berhenti di depan bengkel motor yang posisinya berhadapan dengan SPBU. ”Mas, jual bensin ga?” tanyaku pada seorang laki-laki yang sedang mengutak-atik motor di hadapannya. ”Ga ada mbak. Itu ada pom bensin, beli aja di situ mbak.” Dia menunjuk ke arah SPBU.

Bukannya menuruti saran laki-laki itu, aku malah melanjutkan pencarianku, melaju pelan menyusuri tepi jalan. Ada rasa sedikit tak percaya saat hampir sampai di pertigaan,tiba-tiba nampak penjual bensin eceran dalam penglihatanku.

”Assalaamu’alaikum, bensin…!” cukup keras suaraku, berharap bisa membuat penghuni rumah di hadapanku mendengar dan segera keluar. Pintu rumah itu terbuka, sehingga aku bisa melihat ke dalam. Tak ada seorang pun yang nampak.

Aku melongok ke warung kecil yang ada di depan rumah. Bangunan yang terbuat dari lempeng kayu itu menyatu dengan tembok rumah bagian depan. Sepi. Aku mengulangi salamku sampai tiga kali.

Syukurlah, seorang wanita tua akhirnya keluar, menghampiriku dengan senyuman. Wanita berdaster itu berjalan tergesa-gesa.
”Beli bensin, Bu.” Aku memperjelas maksudku dan balas tersenyum padanya.
”Ya, nduk. Berapa?” Jawab wanita itu pelan.
”Dua. Pertamax ya, Bu.” Aku segera membuka jok, melepas penutup tangki bahan bakar motorku.

Si ibu mengambil corong besar berwarna merah dan sebuah botol berisi bahan bakar, memasang corong pada lubang tangki dan menuangkan cairan dalam botol itu. Ia mengambil botol satu lagi dan menuangkan kembali isinya ke dalam tangki.
”Berapa, Bu?” tanyaku, setelah menutup kembali tangki dan jok motor.
”Delapan belas ribu, Nduk,” jawab wanita itu.

Mendadak aku ingin menawarkan pecel lengguk pada wanita itu. Entahlah, ada bisikan hati yang membuatku ingin melakukannya. Padahal di awal keberangkatan tadi, aku telah niat akan memberikan pecel itu pada Bu Lilis.

”Maaf, Bu. Mmm…, Ibu mau pecel lengguk, Bu?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku. Aku berharap wanita itu tidak tersinggung dengan pertanyaanku. Kenapa harus tersinggung? Aku tak tahu, tapi itu yang terpikir olehku.
”Ya mau saja, nduk, kalau dikasih.” Wanita itu tersenyum.
Aku tak bisa mengartikan senyuman itu. Yang aku tahu, aku senang sekali mendengar jawabannya. Ku ambil kresek hitam di motor.
”Ini, Bu. Cuma sebungkus, tapi. Uangnya ga usah dikasih kembalian, Bu.” Aku menyerahkan plastik hitam dan selembar uang dua puluh ribuan kepada ibu penjual bensin.

Aku melihat jelas senyumannya. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Begitu sumringah. Ya, senyum bahagia. Aku tahu, karena aku juga merasakannya. Seketika, aku merasa sangat bahagia melihat wanita di hadapanku tersenyum.

Ya Rabb, hanya sebungkus pecel lengguk dan uang kembalian dua ribu rupiah. Aku rasa, bukan sesuatu yang istimewa. Tapi, bukankah bahagia itu memang sederhana? Tak butuh sesuatu yang istimewa, kita hanya perlu bersyukur. Ya, bersyukur. Bukankah begitu?

”Alhamdulillah, terima kasih, nduk. Terima kasih.”
”Sama-sama. Mari, Bu, Assalaamu’alaikum,” pamitku, meninggalkan halaman rumah yang kira-kira hanya berjarak 20 meter dari pertigaan jalan, menuju toko Bu Lilis.

Aku berpikir, itulah rahasia rezeki. pecel yang diberikan ibu mertua untukku, aku niatkan memberikannya pada Bu Lilis tapi justru pada kenyataannya terdampar di tangan ibu penjual bensin.

Dan mungkin saja, tanpa sepengetahuanku, pecel itu tidak dimakan oleh ibu penjual bensin tapi dimakan orang lain semisal suami ibu tadi atau anaknya.

Aku pun menuju toko Bu Lilis dan membeli semua keperluanku di toko itu, kemudian mengikat galon dan botol-botol plastik di jok belakang. Ku cantolkan plastik putih berisi beberapa botol spray dan stiker label di samping depan motor, menggantikan posisi kresek hitam berisi pecel lengguk yang kini sudah sampai pada pemilik sesungguhnya.

Sebelum pulang, ku lirik jam dinding di toko, ternyata sudah pukul 16.25 WIB. Aku bergegas pulang. Melajukan motor yang penuh dengan muatan, menempuh perjalanan 45 menit yang penuh kesan.

Ya, sepanjang jalan dari Bojong ke Warungasem, aku tak henti-henti bersyukur dan memuji asma Allah. Mengingat rekaman peristiwa sejak pagi, hingga aku sampai di titik itu, perjalanan pulang.

Itulah cara Allah. Dia menitipkan sebungkus pecel lengguk dan uang dua puluh ribu milik wanita penjual bensin itu padaku. Sedikit pun aku tak kecewa, 20 menit waktuku habis untuk mencari bensin, padahal akan lebih cepat membelinya di SPBU.

Aku tak menyesal pergi dengan raga yang sedikit tidak sehat saat itu, padahal tiduran di kasur yang empuk tentu jauh lebih nyaman. Karena pada akhirnya aku sadar, semua tidak akan terjadi tanpa izin dari-Nya. Setiap peristiwa yang terjadi adalah bagian dari rencana-Nya. Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi.

Tak akan salah Allah mengaturnya. Begitu pula rezeki, Allah telah menjaminnya bagi setiap hamba. Tak mungkin salah sasaran ataupun kurang takaran. Rezeki Allah luas di langit dan di bumi. Bukan di tempat kerja, tapi Allah menaruh rezeki sekehendak-Nya.

Mendatangkannya dari arah yang tak disangka-sangka. Bahkan, jika engkau tak tahu di mana rezekimu, rezekimu yang akan datang mencarimu. Maka, adalah kesalahan jika kita masih merisaukannya. Berikhtiarlah sebagai bentuk ketakwaan, bukan sebagai bentuk ketakutan akan kekurangan dan kelaparan.

Langit senja tampak begitu menawan. Matahari mulai bersiap kembali ke peraduannya. Keringat masih menyisakan basah pada pakaianku. Penglihatanku semakin terang dan kepala terasa ringan. Entah kemana perginya semua rasa tak nyaman yang sebelumnya kurasakan. ‘Bahagiakan orang lain, maka engkau akan bahagia’. Kalimat itu melintas dalam ingatan. Senyum wanita itu masih sangat jelas. Terima kasih Allah, untuk pelajaran berharga hari ini. Aku bahagia.

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
MUHAMMAD FARID Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
MUHAMMAD FARID
Guest
MUHAMMAD FARID

Bersakit dahulu senang kemudian, menginspirasi sekali
Proud of u my beloved sister 😊😊

MUHAMMAD FARID
Guest
MUHAMMAD FARID

Akun bapake izie 😁😁