Ridho Suami Mengantarkanku Mendapat Beasiswa S2

0
52
suami istri

Perjalananku Meraih Beasiswa S2

Oleh : Rokhaniah Hanie

Debar ini tak beraturan, antara senang dan khawatir. Senang karena beasiswa S2 yang kuimpikan akhirnya ada di depan mata tapi khawatir karena keadaanku saat ini sedang mempunyai bayi mungil berusia tiga bulan. Dan yang membuatku semakin galau, aku diterima di Universitas yang lokasinya jauh, di Jawa Timur, Univeristas Negeri Malang.  Ya Allah apa yang sebaiknya aku lakukan?

Kegalauan ini sebenarnya telah ada sejak pengumuman lolos seleksi administrasi. Aku yang waktu itu masih belum yakin, meminta pertimbangan dan nasihat suami.

Aku pun telpon suamiku yang masih bekerja. Aku bercerita tentang panggilan tes itu, dan meminta pendapatnya.

“Jalani aja mi, dicoba dan diikhtiarkan dulu aja.
“tapi kan Aisya masih bayi banget Bi,” jawabku ragu. Aisya adalah nama anak ketigaku yang masih berusia tiga bulan. Bayi perempuan yang diharapkan karena kedua kakaknya laki-laki.
‘Kan ada Bude, nanti minta tolong bude untuk jagain,” jawab suami enteng. Bude adalah tetangga yang telah mengasuh dua anakku dan sekarang ia juga yang mengasuh Aisya.

Aku pun menutup telpon tanpa berkomentar lagi.  Tapi dalam hati, kecamuk rasa galau masih mendominasi. Ya Allah, bagaimana ini? Gumamku sambil memegang surat panggilan itu. Ini kesempatan langka, karena dari ribuan peserta yang mendaftar hanya ratusan yang mendapat panggilan tes. Tapi aku masih punya bayi yang masih sangat mungil.

Kriing! Bel tanda masuk berdering, membuyarkan lamunan dan kegundahan hatiku. Aku pun bergegas ke kelas melanjutkan tugas untuk mengajar. Tapi gara-gara memikirkan surat panggilan tes, aku menjadi kurang fokus saat mengajar

Lagi-lagi, lamunanku buyar oleh bunyi nyaring. Kalau tadi bunyi bel yang mengagetkanku, kini dering telfon dari suami yang sukses membuatku terlonjak. “Anak-anak, Bu guru ijin angkat telefon sebentar di luar ya?” tanyaku pada muridku di kelas.

Setelah murid-murid mengangguk setuju, aku pun keluar dan segera memencet tombol terima di layar HP.
“ Gimana Mi, sdh ada keputusan?” tanya suamiku.
“ Belum Bi, Umi masih bingung.” Jawabku.
“ Umi kan sudah terlanjur daftar, sudah jalani aja prosesnya. Hasilnya kita serahkan ke Allah, yang penting Umi berproses dulu”.
“ Ya Bi, tapi jauh Bi tesnya, Di Surabaya. Nanti Aisya dan anak- anak bagaimana?” jawabku dengan nada gamang.
“Anak-anak gampang, Abi Insyaalloh bisa menghandle. Kan Cuma 2 hari to?” Abi meyakinkanku agar aku berangkat tes.
“ Ya, sudah Bi. Bismillah, umi mau berangkat tes,” jawabku masih setengah yakin.

Setelah percakapan itu, aku segera mencari tiket untuk berangkat ke Surabay. Awalnya aku ingin naik pesawat saja karena semua biaya perjalanan juga nantinya akan diganti. Suami pun menyarankan seperti itu. Namun, karena temanku yang sedang hamil tua tidak berani naik pesawat akhirnya aku pun membeli tiket kereta api.

Pagi itu, di Bulan September 2013, aku sudah bersiap untuk tes penerima beasiswa S2 dari P2TK (Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan). P2TK merupakan sebuah lembaga yang memberikan  pelayanan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan bidadari kecilku, Aisya Nur Rahma. Namun, demi menuntut ilmu aku kuatkan hati ini untuk berangkat ke Surabaya.

Anak-anak mengantarkan kepergianku di stasiun. Suami yang menggendong Aisya terus menerus memberiku semangat. Tapi, beginilah aku, seorang ibu yang begitu rapuh jika berhadapan dengan anak-anak.

Sepanjang jalan, selama di kereta, air mataku tak henti mengalir. Terbayang tawa dan celoteh Aisya, pun keramaian di rumah gara-gara pertengkaran antara anak pertama dan kedua. Ya Allah … kuatkan aku, kuatkan dan jadikan perjalanan ini penuh barokah dan ridho-Mu. Aamiin ….

“Sudah Bu, InsyaAllah anak-anak baik di rumah. Njenengan kan juga dalam rangka belajar, jadi nggak usah terlalu sedih. Bismillah ….” Temanku memberiku motivasi dan membuatku semakin haru.

Akhirnya, perjalanan penuh drama itu berakhir sudah. Entah sejak kapan akhirnya aku tertidur dalam kereta. Tahu-tahu kereta telah sampai di stasiun Surabaya. Aku dan dua teman satu kereta bergegas mencari transportasi menuju hotel tempat singgah.

Hotel yang megah ternyata sama sekali tidak mengurangi rasa sedihku. Di saat teman yang lain berfoto sewaktu sampai di hotel, aku kembali terbayang wajah anak-anak di rumah. Apalagi, ASI-ku yang terasa sangat penuh karena seharian tidak diberikan. Sakit sekali rasanya melihat ASI menetes-netes tak terbendung. Dalam bayangan, Aisyaku pasti haus dan membutuhkan ASI ini, tapi di sini justru kubuang-buang.

Aku pun kembali berdoa dengan penuh rasa nelangsa, ‘Ya Allah … kuatkan, sehatkan, dan berkahi aku dan anak-anak di rumah. Aamiin ….’

Malam itu, pertama kalinya aku jauh dari Aisya. Acara pembukaan dan ramah tamah dengan pihak P2TK Jakarta dilanjutkan dengan makan hidangan mewah semakin membuatku sedih.. Apakah anak-anak di rumah baik-baik saja? Apa yang mereka makan malam ini? Apa Aisya tidak mencari-cariku? Jangan-jangan dia nangis karena menunggu kedatanganku tapi tidak juga sampai di rumah.

Acara malam itu pun berakhir, tapi tidak dengan rasa sedih yang kurasakan. Ah! Aku ini memang wanita cengeng.

Pagi harinya aku menjalani tes, ada beberapa mata uji. Alhamdulillah semua kulalui dengan lancar. Sorenya aku dan temanku pulang dengan naik kereta api, kebetulan tiket kereta api jurusan Kutoarjo habis, akhirnya kami naik kereta api jurusan Yogyakarta. Sampai di Yogyakarta pukul 09.00 malam, suami, budhe dan anak-anakku sudah menjemputku di stasiun. Aku senang sekali bisa bertemu mereka kembali, padahal hanya 2 hari aku meninggalkan mereka tapi rasanya seperti sepekan. Si kecil Aisya pun dibawa, aku langsung menggendong dan menciuminya..
*****
Aku kembali dengan aktivitasku, menjadi pendidik di sebuah Sekolah Islam Terpadu di kota kecilku, Purworejo. Masalah beasiswa S2 pun telah kulupakan. Aku benar-benar memasrahkan semuanya pada kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saat aku sedang istirahat, tiba-tiba teleponku berdering, aku lihat nomor yang masuk berkode area Jakarta. Hatiku bedebar- debar. “Jangan-jangan dari P2TK” gumamku.

Aku pun mengangkat telepon. Benar, itu telepon dari P2TK Jakarta menanyakan tentang kesediaanku menjadi penerima beasiswa pendidikan S2. Awalnya ku minta pindah ke UNY saja yang lebih dekat, ternyata tidak bisa. Akhirnya aku minta waktu 2 hari lagi untuk berpikir. Alhamdulillah pihak P2TK mengiyakan.

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan persetujuan suami dan juga restu orang tua akhirnya walau dengan hati agak berat aku memutuskan menjawab YA. Aku berharap ini adalah keputusan yang terbaik, yang menjadi penguatku adalah ridho suamiku. Semoga dengan ridho suami semua akan berjalan dengan lancar. Bukankah yang dicari seorang istri adalah ridho suami?

Bersambung…..(Ridho Suami Adalah Ridho Allah)

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
MUHAMMAD FARID Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
MUHAMMAD FARID
Guest
MUHAMMAD FARID

Bersakit dahulu senang kemudian, menginspirasi sekali
Proud of u my beloved sister 😊😊

MUHAMMAD FARID
Guest
MUHAMMAD FARID

Akun bapake izie 😁😁