Persimpangan Hati

0
29
jatuh hati

Persimpangan Hati
(based on true story)
Oleh : Deasy Hana

Pertama kali dalam hidup, aku jatuh cinta saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku sadar semua itu adalah kesalahan. Kemaksiatan yang kulakukan terlihat begitu indah, atas nama cinta, setan menggoda dengan halusnya. Hingga suatu ketika penyesalan itu begitu dalam terasa karena telah mempermalukan keluarga.

***

Sejak pandangan pertama bertemu dengan Ferdi, rasa itu tumbuh begitu saja. Bahkan berbunga dengan lebat dan indah tanpa mampu mencegahnya. Ya Allah, maafkan aku jika ini salah. Doaku selalu setiap kali menangis karena merindukannya. Berkali-kali Mbak Sofi, kakakku mengingatkan untuk tidak terlalu dalam mencintai Ferdi.

Ferdi seperti magnet. Aku seolah tidak berdaya dibuatnya. Bertemu langsung dan bicara dengan Ferdi hanya dua kali, selebihnya lewat pesan atau telepon. Tidak seperti teman-teman yang lain bisa bertemu setiap saat, itu dikarenakan kami berdua aktif di Rohis. Apa kata dunia nanti jika kami ketahuan pacaran, bisa ramai sekolah.

Hanya teman-teman terdekat yang tahu hubunganku dengan Ferdi. Hampir semua temanku berbicara yang sama dengan Mbak Sofi, menolak hubungan kami dan mengingatkan dengan berbagai macam dalil dan ayat Al-Quran. Telingaku seolah tuli tidak mau mendengar semua nasihat teman-teman.

***

Aku menangis karena rasa sakit hati. Ini sekian kali Ferdi menyakiti hatiku namun, kembali memaafkannya. Dia mempunyai hubungan dengan perempuan lain. Awalnya tidak percaya, tapi temanku sendiri yang mengatakannya jika Ferdi ingin menjalin hubungan yang serius. Ferdi mengakui karena khilaf dan meminta maaf. Sebenarnya, Mbak Sofi sudah berkali-kali menyuruh untuk putus dengan Ferdi.

“Man, pacaran dalam Islam jika belum halal sangat dilarang. Kau sudah faham betul itu. Ferdi belum tentu jodohmu, Manda. Ingat pacaran itu gerbang menuju zina! Banyak manusia terpedaya dengan cinta padahal nafsu mereka yang berbicara. Berapa banyak anak gadis kehilangan kehormatannya karena pacaran. Siapa yang bisa menjamin kalian berdua bisa menahan diri jika setan membutakan mata kalian dengan indahnya pacaran. Renungkan dan pikirkan jangan sampai berbuat dosa,” nasehat Mbak Sofi.

Kata-kata Mbak Sofi ada benarnya. Aku menangis betapa malunya di hadapan Allah dan betapa sakitnya sering dikhianati oleh Ferdi. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Hampir setiap hari menangis, hidup terasa begitu hampa.

Anehnya, dalam hitungan hari, kami pun menjalin hubungan pacaran kembali karena dia meminta maaf dan aku luluh. Akhirnya sembunyi-sembunyi kami pacaran lewat telepon dan berlangsung sampai Ferdi kuliah di sebuah universitas jurusan pendidikan agama sedangkan aku membantu mengajar di madrasah.

Ferdi mengajak menikah walau dia masih kuliah dan aku pun menyetujuinya. Sungguh aku takut berbuat dosa lebih banyak lagi, apalagi aku begitu cinta padanya. Sebenarnya, Mbak Sofi kurang setuju karena pribadi Ferdi yang menurut Mbak Sofi kurang baik, namun aku meyakinkan orangtua dan semua saudara bahwa keputusan kami sudah bulat.

“Bu, kami tidak mau menambah dosa lagi. Seharusnya Ayah  dan Ibu mendukung kami agar kami tidak terperosok pada lubang yang lebih dalam.” Semuanya diam ketika ku jelaskan alasannya dan semuanya setuju untuk segera menikahkan kami.

Ferdi datang untuk melamar tapi hanya dengan temannya. Orang tua Ferdi tinggal jauh di pulau seberang dan dengan kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk datang ke tempatku. Kami sekeluarga memaklumi dan acara lamaran pun berjalan lancar. Alhamdulillah, ya Allah…

                     ***

Orang tua Ferdi meneleponku. Kami berkenalan. Uminya berbicara tentang rencana pernikahan kami. Dia langsung pada duduk permasalahan.

“Maaf ya Manda, Umi sebenarnya kurang setuju dengan rencana pernikahan kalian. Ferdi belum lulus kuliah. Banyak mimpi kami dan harapan untuk Ferdi agar lebih sukses nantinya. Dan kau, masih muda! Banyak hal yang harus dipelajari dan dikembangkan entah kursus menjahit, memasak atau apalah. Untuk saat ini, tolong jangan ganggu Ferdi! Biarkan dia fokus belajar,” ucapnya penuh penekanan. Air mata sudah menganak sungai. Ya Allah…

Segera ku hubungi Ferdi dan menceritakan semuanya. Ferdi sempat diam, ketika menanyakan apakah mereka setuju dengan rencana pernikahan ini.

“Umi, memang kurang setuju tapi Abah terserah aku yang akan menjalani. Umi memang berharap besar padaku agar aku segera menyelesaikan kuliah dan berkarir tanpa ada gangguan sedikit pun. Aku sudah memutuskan untuk tetap menikahimu. Jadi, percayalah rencana pernikahan ini tetap berlanjut,” yakinnya. Ferdi mengakhiri pembicaraan kami. Aku hanya mampu menatap gawai yang sudah tidak bersuara. Air mata kembali luruh… Ya Allah, lancarkan pernikahan ini. Harapku cemas.

***

Hari pernikahan pun tiba, kami mengadakan walimahan secara sederhana. Ferdi datang namun sendirian. Keluarga besarnya tidak ada satupun yang datang. Ferdi hanya mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir karena jauh dan mereka kurang sehat. Keluargaku cukup kaget dengan alasan tersebut namun, akhirnya memutuskan pernikahan tetap berjalan.

Penghulu pun datang dan suami Mbak Sofi memanggil Ferdi namun dia tidak menemukan Ferdi di kamar tamu. Aku langsung menelpon Ferdi berkali-kali tapi tidak diangkat. Seluruh keluarga panik dan aku hanya mampu menangis. Rasanya hatiku sangat sakit dan malu. Ayah sangat marah dan kecewa apalagi Ibu, dia hampir saja pingsan. Aku hanya diam menatap HP yang kugenggam erat. Beginikah akhirnya ya Allah? Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke HP.

Maafkan aku Manda, orang tuaku tidak merestui hubungan kita. Aku tidak ingin menikah tanpa restu mereka. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Sekali lagi maaf.

Pertahananku runtuh, tubuhku sangat lemas dan menangis hebat. Mbak Sofi memelukku erat. Ya Allah, seperti inikah takdirku?

Semalaman aku menangis dan menangis. Semua mata memandang iba. Orangtuaku sangat malu atas kejadian ini dan memintaku untuk segera menikah dengan pilihan mereka. Aku hanya mampu menangis dan bersabar.

Akhirnya aku dijodohkan dengan Mas Wildan, teman baik suami Mbak Sofi. Dia sangat baik mau menerimaku apa adanya. Mas Wildan begitu sabar menghadapiku yang terkadang mudah emosi.

“Makanlah, De. Seharian ini kamu hanya minum dan minum,” ucapnya lembut. Aku hanya menggeleng pelan. Netraku masih menatap ke luar jendela, “Mas, suapin ya?” tanyanya. Kembali aku menggeleng.

“Kenapa Mas Wildan mau menerima pernikahan ini? Aku bukan perempuan yang baik bahkan pacar Manda pergi saat… ” tangisku kembali pecah. Sakit rasanya hati ini bila mengingat semua itu.

“Mas Hanif dan Mbak Sofi pernah menawarkan seorang akhwat tapi…,” Mas Wildan terdiam sejenak, “akhwat itu telah memiliki pilihan hati sendiri dan memutuskan untuk menikah dengan laki-laki pilihannya. Kemudian Mas Hanif ke rumah dan menceritakan bahwa akhwat tersebut tidak jadi menikah sedangkan undangan telah tersebar, makanan segala macam sudah siap. Mas, tetap menerima akhwat itu yaitu kamu,  De.”

“Kenapa?” tanyaku Ketus tanpa memandang wajahnya.

“Setiap orang mempunyai masa lalu dan kesempatan kedua untuk memperbaikinya. Allah jualah yang menggerakkan hati untuk menerima apapun kondisimu. Kita mulai dari nol dan luruskan hati dan niat kita hanya untuk Allah, agar rumah tangga yang akan kita bangun ada keberkahan dan  ridho-Nya. Kamu mau, De.” Kini mataku yang basah menatap matanya yang penuh ketulusan. Aku mengangguk pasti. Dia tersenyum dan memelukku.

“Terima kasih, Mas,” ucapku lirih. Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik penolong. Mungkin dengan jalan seperti inilah  cara-Mu menyadarkanku. Selalu ada hikmah di setiap ujian , Engkau memberikan jodoh terbaik. Engkau berikan ganti dengan seseorang yang jauh lebih baik, insya Allah.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of