Banser, Perang Narasi dan Orkestra ‘Katak Rebus’

0
101
banser

Banser, Perang Narasi dan Orkestra ‘Katak Rebus’

Oleh : Madi Hakim

Katak jika direbus dengan proses yang pas, konon tidak pernah menyadari hingga akhirnya dia terlalu lemah untuk melompat keluar. Melihat proses yang dialami Banser, terutama kasus pembakaran bendera Tauhid, saya jadi teringat cerita Katak Rebus ini. Saya khawatir, Banser tengah dijadikan ‘Katak Rebus’ oleh kelompok-kelompok yang tidak suka dengan mereka, dan juga Ummat Islam Indonesia secara keseluruhan.

Namanya katak rebus, tentu saja Banser tidak menyadarinya. Sadar-sadar, ternyata mereka telah menjadi terlalu lemah untuk menyelamatkan diri. Jika sudah demikian, bukan saja nama Banser yang tercoreng, tetapi seluruh Muslim Indonesia akan kena imbasnya, karena bagaimanapun juga, Banser adalah bagian dari Ummat ini. Besaran dan sebaran anggota Banser, tidak mungkin dipisahkan dari eksistensi Ummat.

Bagaimana dalam kasus pembakaran bendera Tauhid, Banser diindikasikan menjadi ‘Katak Rebus’? Pertama, Banser diberi informasi yang salah, kalau setiap bendera Tauhid, adalah bendera HTI. Ini logika yang sangat keliru. Saya tidak bisa membayangkan reaksi ummat Kristiani, jika sekelompok orang membakar kayu Salib, lalu dengan entengnya mereka membela diri, ” Yang kami bakar adalah lambang organisasi ‘X’, bukan Salib yang menjadi simbol suci ummat Nasrani”. Salib, yang adalah simbol keyakinan mendasar mereka, tiba-tiba ‘dipaksakan’ hanya menjadi milik sekelompok orang saja. Apalagi yang memaksakan orang lain, tanpa dasar hukum, hanya bermodal ‘pokoknya’. Sementara organisasi ‘X’ sendiri sama sekali tidak punya dokumen, AD/ART yang menyebut kalau kayu Salib adalah simbol organisasi mereka, hak paten mereka.

Semestinya, beginilah kita menganalogikan pembakaran bendera Tauhid. Logika apa yang dipakai, ketika kalimat Tauhid kemudian direduksi menjadi hanya ‘miliknya’ HTI, sementara HTI sendiri sudah menyangkalnya. Tidak ada satupun kalimat HTI di bendera tersebut. Dan tidak ada satupun bukti otentik yang memiliki kekuatan hukum, bahwa hanya HTI-lah yang berhak dan memiliki tafsir tunggal atas bendera Tauhid. Tetapi inilah ironi negara kita, ketika bahkan para pemegang otoritas ikut-ikutan bermodal ‘pokoknya’.

Bendera TauhidDalam bahasa yang lebih umum, sebenarnya tengah terjadi Perang Narasi, antara mereka yang menyebut bendera Tauhid, dengan mereka yang memaksakannya sebagai bendera HTI. Perang narasi seperti ini, seringkali tidak disadari sebagian besar ummat, karena strategi dan taktiknya yang sangat halus. Ketika media-media mainstream selalu menyebut sebagai ‘insiden pembekaran bendera HTI’, lalu masyarakat yang membacanya-secara sadar atau tidak-menganggap sebagai hal yang wajar, maka dialam bawah sadar mereka akan muncul anggapan bahwan bendera tersebut adalah benar bendera HTI.

Kedua, proses menjadikan Banser seperti ‘katak rebus’, yaitu mereka dibuat ‘nyaman’ dengan dibekingi oleh….kita semua tahulah. Bukan hanya kasus bendera Tauhid, dalam beberapa kasus sebelumnya, saat oknum Banser melakukan pelanggaran hukum, kasus mereka tidak diproses. Proses ‘penyamanan’ lainnya adalah dengan mengisolir mereka dari informasi yang benar. Di Era media sosial kini, sangat mudah mencari informasi, bahwa bendera Tauhid adalah Panji-Panji Rasululloh SAW. HTI tidak berhak mengklaim, dan tidak satupun lembaga memiliki hak menyematkan bendera tersebut ‘hanya’ untuk HTI.

Ketiga, Banser dibuat tidak sadar, bahwa pembakaran bendera ini memiliki konsekwensi yang besar. Dan reaksi ummat sungguh luar biasa. Andai mereka sadar konsekweksi secara hukum Islam, hukum Positif maupun konsekwensi politiknya, saya yakin mereka tidak akan berani melakukannya.

Lalu, bagaimana menyelamatkan Banser agar tidak benar-benar menjadi ‘Katak Rebus’? Jujur, berat langkah-langkahnya. Belum apa-apa, NU sebagai organisasi induk mereka, terang-terangan mendukung, atau minimal tidak menyalahkan aksi pembakaran ini. Saya pribadi, sepeninggal Allahyarham KH Hasyim Muzadi, kesulitan mencari tokoh NU Struktural yang bisa dijadikan panutan. Sementara tokoh2 NU Kultural yang sepuh dan punya pengaruh besar, rata-rata memilih hidup ‘nyalaf’.

Satu-satunya cara, agar Banser bisa menjadi bagian Ummat seutuhnya, menurut saya adalah meminta para Ulama Sepuh NU turun gunung, menasehati yang muda-muda maupun pejabat NU Struktural. Menyadarkan para pejabat Struktural NU dan Banser, bahwa kasus pembakaran bendera ini sangat sensitif, jika salah mengantisipasi bisa menjadi kemarahan Ummat seperti kasus Al-Maidah 51. Dan jika membesar seperti kasus Al-Maidah 51, konsekwensinya bisa berimbas ke politik, karena dekatnya dengan Pemilu dan Pilpres 2019. Kasus-kasus seperti Buku Merah Pejabat, Divestasi Freeport yang ompong, hingga BPJS yang hampir bangkrut bisa ikut-ikutan terbawa kasus pembakaran bendera Tauhid ini.

Wallohu a’lam.