Mengapa Muslim Harus Kaya?

0
24
muslim harus kaya

Mengapa Muslim Harus Kaya?
Oleh : Ilham Fatahillah

Orang Islam itu kehidupannya sangat menakjubkan, karena apapun kondisinya selalu disikapi dengan positif. Ketika mendapat nikmat, bisa bersyukur. Dan ketika ditimpa kesusahan, mampu bersabar. Sebagaimana hadits dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Jadi tidak masalah bagi seorang musim jika ternyata kehidupannya dipenuhi dengan kenikmatan dan banyaknya harta asalkan bisa tetap bersyukur. Dan sebaliknya juga tidak menjadi problem bagi seorang muslim ketika dirundung kesusahan dan kemiskinan, karena hal itu bisa disikapi dengan sabar. Dan pahala orang yang sabar adalah ghoiru muhtasib, tidak terhitung (maksudnya tidak ada batasnya)

Namun ada sesuatu yang menjadi perhatian saya, ketika dalam kegiatan training entrepreneur, sang trainer menyampaikan tentang wajibnya seorang muslim untuk menjadi kaya. Dan mungkin bagi sebagian peserta ada yang berfikiran, hah,. berarti membuat hukum baru dong? Kalau dikatakan wajib kaya, berarti yang miskin berdosa dong? Mana dalilnya?

Sabar bro… tidak usah terburu-buru menyimpulkan dan memvonis bahwa Trainer telah menyimpang dari aturan Islam dengan munculnya kata, “wajib kaya” itu. Karena trainer menyampaikan tentang wajibnya seorang muslim menjadi kaya itu bukan dalam rangka membuat hukum fikih baru. Kalau boleh menganalogikan seperti adanya iuran syahriah yang dikatakan wajib dibayarkan tiap bulan dari wali murid kepada pihak sekolah.

Jadi, ketika sekolah membuat aturan adanya iuran wajib atau syahriah atau bahasa umumnya SPP, bukan berarti kepala sekolahnya telah membuat hukum fikih baru. Sama halnya dengan trainer yang menyampaikan kalimat “wajib kaya”, juga bukan berarti membuat hukum fikih baru yang konsekuensinya akan berdosa jika kita ternyata miskin (lagi pula kaya dan miskin juga bagian dari taqdir), demikian juga wali murid yang gagal memenuhi kewajiban bayar SPP jika memang benar-benar tidak mampu. Dan konsekuensi tergantung bagaimana sikap sang pembuat kebijakan. Ada juga pihak sekolah yang lunak dan mengatasi tunggakan SPP dengan cara musyawarah bersama wali murid yang bersangkutan.

Kata “wajib kaya” sengaja dimunculkan seorang trainer dalam rangka untuk memotivasi para peserta dan sekali lagi tidak ada hubungannya dengan hukum fikih. Kemudian apa dasar munculnya kata “wajib kaya”? Karena trainer melihat mashlahat yang lebih besar manakala kita para muslim memiliki kekayaan. Meskipun ketika miskin juga tidak ada masalah, asal bisa menikmati kesabaran dalam menghadapi kemiskinan. Silahkan hidup miskin, yang penting bisa sabar dan tidak mudah mengeluh, karena pahala sabar bisa hilang dengan banyaknya keluhan atas kemiskinan itu.

Kemudian apa mashlahat yang didapat seorang muslim ketika mereka mampu menggenggam dunia? Banyak sekali, diantaranya, bisa digunakan dalam perjuangan fi sabilillah, sedekah, menunaikan rukun Islam ke 5, membantu orang lain dan masih banyak lagi. Sebaliknya, mengambil pilihan hidup miskin juga banyak mashalahatnya, diantaranya : hati lebih tenang, ibadah bisa lebih khusyu’, tidak mudah terlalaikan oleh dunia, mendapatkan pahala sabar, dan saya kira masih banyak lagi. Tak perlu lah yang merasa miskin berkecil hati, karena pahala kesabaran telah menanti. Dan bagi mereka yang mampu menggenggam dunia juga wajib hati-hati. Jangan sampai lupa diri dan jauh dari rahmat Ilahi gara-gara secuil dunia yang tidak ada harganya di akhirat nanti.

Musim wajib kaya

Mengapa muslim wajib kaya? Apa landasannya? Landasannya dengan menggunakan dalil ushul fiqih yang berbunyi,

ا لأ مــر بــا لــشــيـئ أ مــر بــو ســا ئــلــه

“amru bisyai’in amru biwasa’ilihi”, artinya perintah sesuatu berarti memerintahkan wasilah atau perantaranya”. Ketika Islam menganjurkan sedekah, maka wajib ada wasilahnya yaitu adanya harta yang bisa disedekahkan (Meskipun sedekah tidak melulu berupa harta juga sih).

Dan ketika seorang aktivis muslim yang dalam perjuangannya tidak bisa mengabaikan finansial. Maka keberadaan finansial menjadi wajib ada manakala perjuangan itu akan berhenti tanpa adanya finansial. Maka sangat wajar jika akhirnya ada ungkapan, “Muslim Harus Kaya”.

Sebalikya jika ada seorang aktivis muslim bisa tetap mampu menggerakkan roda perjuangan tanpa finansial, maka tidak ada kewajiban menyiapkan finansial. Lagi pula perjuangan itu tidak melulu harus dengan finansial. Bisa juga berjuang dengan tenaga dan fikiran saja. Intinya kita memerlukan finansial sesuai tuntutan kebutuhan dalam perjuangan.

Ingat, seorang muslim yang baik itu mestinya akan menggunakan kekayaan bukan untuk dinikmati sebagai gaya hidup yang nyaman, akan tetapi sebagai wasilah perjuangan.
Bagi anda seorang muslim yang punya potensi untuk bisa meraih kekayaan atau menggenggam dunia, silahkan ambil peluang itu demi kelancaran perjuangan fi sabiillah. Dan bagi anda yang punya pilihan hidup miskin atau memang taqdirnya menjadi miskin, silahkan ambil peluang pahala kesabaran, dan jauhkan diri dari berkeluh kesah terhadap kesulitan hidup atau justru memandang sinis orang lain yang dianugerahi harta kekayaan.

Rezeki dan pilihan hidup kita berbeda-beda. tak sepatutnya saling mengklaim bahwa pilihan hidup kita lah yang paling benar. Yang kaya tidak perlu jumawa, karena akan menghilangkan keberkahan. Yang miskin jangan berkecil hati, karena dunia ini bukan tujuan akhir. Masih ada kehdupan setelah kehidupan di dunia ini berakhir. Mari ikhlaskan niat dalam setiap pilihan hidup kita. Dan mantapkan hati untuk senantiasa mengharap ridho Ilahi. Apapun kondisi kita, semoga kita bisa istiqomah. Amiin.

Ditulis di atas bukit pasirmuncang, Purwokerto
24 September 2018