Rusia Libatkan 63 Ribu Tentara dalam Konflik Suriah

0
45
rusia

Moskow – Departemen Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa pihaknya telah menerjunkan lebih dari 63 ribu tentara untuk bertempur di Suriah sejak September 2015. Angka ini diungkapkan dalam video grafik yang dipublikasikan Dephan Rusia, seperti dilansir BBC pada Kamis (23/08).

Sejak September 2015, menurut video tersebut, kekuatan udara Rusia telah meluncurkan operasi pengintaian sebanyak 39 ribu dan menghancurkan 121.466 target “teroris”.

Dari ratusan ribu serangan itu, sebanyak 86 ribu lebih “ekstremis” tewas, sebagaimana klaim Dephan Rusia. Namun tidak disebutkan satu pun korban sipil dalam video grafik itu.

Lembaga Pemantau HAM Suriah (SOHR) sendiri mengatakan bahwa pihaknya mendata sedikitnya 7.928 sipil dan 10.069 pejuang bersenjata tewas akibat serangan udara Rusia.

Dalam video tersebut, Dephan juga mengungkapkan pihaknya telah menguji coba sebanyak 231 jenis senjata baru di Suriah. Di antaranya jet tempur, system rudal permukaan dan senjata lainnya.

Rusia sendiri memiliki peran kunci keberlangsungan rezim Assad. Bashar Assad berhasil merebut banyak wilayah akhir-akhir ini berkat peran militer dan politik Moskow. Suriah sangat penting bagi Rusia karena satu-satunya sekutu di Timur Tengah.

Moskow selalu mengklaim serangannya hanya menargetkan “teroris”. Akan tetapi, aktivis di lapangan melaporkan bahwa serangan Rusia juga menargetkan pejuang oposisi dan sipil.

Tak hanya itu, Rusia juga menargetkan rumah sakit, sekolah dan pasar. Padahal tempat-tempat publik itu dijamin oleh undang-undang kemanusiaan internasional.

Pada bagiannya, koalisi internasional anti ISIS pimpinan AS beberapa waktu lalu mengumumkan pihaknya telah meluncurkan sebanyak 29.826 serangan udara di Suriah dan Iraq sejak Agutus 2014. Koalisi mengakui jatuhnya korban sipil dalam operasinya namun jumlahnya sedikit, yaitu hanya 1.059 korban. Akan tetapi, aktivis membantah klaim itu dan menegaskan bahwa korban koalisi AS antara 6.500 hingga 10.000 korban sipil. [kiblat]

Sumber: BBC