Mendidik Anak Adalah Meluruskan, Bukan “Menelanjangi”

0
95
menelanjangi

Oleh : Asadullah Al-Faruq

“Abah,” sapa anakku via whatsapp. “Aku kan nggak telat sholat, mukaku dan dua temanku dicoret pakai spidol karena dibilang telat sholat. Temanku coretannya tanda silang di pipi, aku ditulis huruf A di jidat. Pulangnya dilihat banyak orang. Maluuuu… Itu muka dicoret disuruh pak guru, yang nyoret anak kelas 6.”

Aisyah, anakku yang kini duduk di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah, memang dekat denganku. Ia suka bercerita tentang kisahnya di sekolah atau saat bermain. Saya mencoba menjadi pendengar yang baik, meski sejujurnya mendengar anak berkeluh-kesah bukan perkara yang mudah. Mendengarkan curhatnya, kadang butuh kesabaran ekstra. Sebagai seorang ayah, bagiku wajib dekat dengan anak. Dekat dan mengarahkan.

Kembali ke curhatan Aisyah, tentang hukuman sang guru. Coretan itu mempermalukan anak, membuat hatinya bersedih karena menjadi model perhatian orang lain. Dilihat, ditertawakan, dan diledek. Apakah hukuman kepada anak bertujuan untuk memperbaiki kesalahan, ataukah sekedar memberikan efek jera?

Mendidik anak bukan dengan cara menelanjangi kesalahan anak, memamerkan kepada orang lain bahwa anak ini mempunyai kesalahan. Mendidik anak itu meluruskan dan memperbaiki. Mengajarkan anak untuk belajar dari kesalahannya. Tidak sekedar main hukum ketika anak berbuat kesalahan, apalagi dipertontonkan. Bukankah hal ini termasuk perbuatan yang kurang bijaksana?

Marilah belajar dari sebaik-baik teladan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belajar tentang bagaimana meluruskan, bukan sekedar menyalahkan dan menghukum. Simaklah kisah tentang beliau yang meluruskan Ibnu Abbas di masa kecilnya, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari.

Ibnu Abbas menginap di rumah bibinya, Maimunah. Ketika Rasulullah shalat malam, Ibnu Abbas mengikutinya di sebelah kiri beliau. Rasulullah memindahnya ke sebelah kanan beliau, namun (Ibnu Abbas) kembali ke sebelah kiri, hingga terjadi tiga kali. Setelah selesai, Rasulullah bersabda, “Apa yang menghalanginya untuk diam di tempat yang telah ditetapkan?”

Ibnu Abbas menjawab, “Engkau adalah Rasulullah, tidak selayaknya seorangpun menyamaimu.”

Rasulullah mendoakannya, “Ya Allah, pahamkan ia dalam urusan agama dan ajarkan kepadanya tafsir.”

Tidak ada pernyataan menyalahkan, atau menyudutkan Ibnu Abbas kecil yang keluar dari lisan beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menegur dengan kalimat tanya yang lembut, kemudian mendoakannya.

Mendidik itu meluruskan, bukan menelanjangi. Meluruskan kesalahan anak dengan cara yang bijak, agar anak mampu memahami kesalahannya, kemudian mengarahkan bagaimana ia bersikap selanjutnya. Tidak menelanjangi kesalahannya, hingga ia menjadi malu, minder, bersedih atau bahkan bisa berakibat trauma.

Hukuman seharusnya diberikan hanya apabila langkah-langkah pra-hukuman sudah diupayakan. Misalnya, menasihati, menjelaskan dan menegur. Dan sebelum memberikan hukuman, berikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan, melakukan pembelaan diri. Hal yang perlu diperhatikan, hukuman hanya boleh diberikan atas dasar yang jelas, bukan hanya berdasarkan berita burung, aduan, atau prasangka.

Hukuman kepada anak, tidaklah diberikan kecuali dengan tujuan mendidik, dan dengan cara yang mendidik pula. Jika tujuan mendidik tidak ada, sudah selayaknya hukuman tidak dilakukan. Dan jika cara menghukum yang mendidik tidak ada, tahanlah untuk memberikan hukuman.

Bijak memberikan hukuman adalah salah satu di antara kunci sukses mendidik anak, mendisiplinkan sejak ia belia. Sebaliknya, salah dalam menyikapi kesalahan anak, ia bisa berakibat fatal bagi perkembangan anak. Jadi, pertimbangkan dan pikirkan baik-baik ketika kita hendak meluruskan dan memperbaiki kesalahan anak.

———————————–
(Ditulis ba’da Isya, tanggal 27 Agustus 2018, di Hotel Neo Tendean, Jakarta Selatan)