Ketika Anda Menjadi Orang Tua

0
53
keluarga muslim

Ketika Anda Menjadi Orang Tua

Oleh : Asadullah Al Faruq

ANDA KINI MENJADI ORANG TUA!

Alhamdulillah, kini kita menjadi orang tua. Ada amanah mungil bersama dengan kita. Dialah anak kita, buah hati yang akan menjadi penyejuk mata dalam kehidupan di dunia, dan semoga pula di akhirat. Nak, untukmu, selamat datang di dunia ini, sebuah tempat di mana engkau bisa bermetamorfosis menjadi shalih, hingga kelak engkau kembali dengan membawa perbekalan nan berharga.

Sambutlah hadirnya dengan cintamu. Tak cukup senyumanmu, melainkan ia butuh disambut dengan ketulusan cintamu sebagai orang tua. Anakmu, ialah permata hatimu yang membutuhkan cinta dan kasih sayang darimu. Sambutlah ia dan bersiaplah mendidiknya, karena ia adalah ‘aset’ bagimu yang paling berharga.

Memberi perhatian khusus kepada anak sejak hari kelahirannya penting untuk dilakukan. Islam sendiri mengatur berbagai adab yang harus dilakukan oleh orang tua sebagai bagian dan amal shalih dan rasa syukur atas kehadiran buah hati tercinta. Oleh karenanya, bagi orang tua yang dikaruniai anak sudah seharusnya melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

“Kita menjadi orang tua.”

Sebuah predikat yang membahagiakan sekaligus memiliki konsekuensi tentang tanggung jawab kita sebagai orang tua. Tanggung jawab untuk memperlakukan dengan sebaik mungkin anak kita sejak hari pertama ia dilahirkan, atau bahkan sejak ia masih berada di dalam kandungan. Berusaha menjadi orang tua shalih, agar kelak anak kita pun menjadi shalih.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengingatkan para orang tua, “Allah akan menagih tanggung jawab orang tua kepada anaknya. Siapa yang meremehkan pendidikan mereka dan menelantarkan begitu saja, berarti ia telah gagal. Kebanyakan perilaku buruk anak bersumber dari kesalahan orang tua. Pengabaian nasib pendidikan mereka sangat bertentangan dengan tuntutan Ad Din dan As Sunnah.”

Dengan hadirnya buah hati, senang boleh dan sah-sah saja, namun mempersiapkan diri akan konsekuensi menjadi orang tua juga perlu disegerakan. Kita kini menjadi orang tua, maka bersegeralah memahami tanggung jawab dari tugas mulia tersebut. Singkatnya, Allah telah berfirman, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka!” (QS. At Tahrim ayat 6).

Allahu Akbar… Berat rasanya, anak baru dilahirkan, kita sudah dihadapkan pada konsekuensi yang tidak main-main. Sebuah kewajiban yang sangat serius. Namun itulah kehidupan, ketika kita menyadari bahwa anak sebagai ‘titipan’ sekaligus ‘nikmat’ dari Allah, maka wajib bagi kita menjaganya, mendidiknya dan mengajarkannya tentang bagaimana agama ini wajib ditegakkan olehnya. Dan inilah kewajiban orang tua sejak dini, sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur yang sesungguhnya. Ya, mendidik anak-anak kita akan memahami perkara apa saja yang dapat menjauhkannya dari api neraka, serta perkara apa saja yang bisa mendekarkannya kepada rahmat dan surga Allah Ta’ala.

Tunaikan Amanah Menjaga Fitrah

Sesaat setelah kelahirannya, kita bisa menikmati sungguh manis sesimpul senyumannya, terasa tulus tatapan matanya, dan betapa lembut sentuhan kulitnya. Betapa indahnya. Si mungil hadir menjadi salah satu nikmat terindah yang tentu wajib kita syukuri keberadaannya.

Ya, bersyukurlah. Syukur tak sekedar dengan ucapan ‘alhamdulillah’ lantas dianggap selesai urusan bersyukur kepada Allah. Ia butuh pembuktian, tasfirun ni’mah ‘alaa muradi mu’thiha, menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Pemberi nikmat. Dan anak kita, nikmat yang hadir dari sisi Allah, juga harus kita perlakukan sesuai dengan kehendak-Nya. Dan di antara kehendak Allah adalah menjaga anak-anak kita agar tetap berada dalam fitrahnya. Berada dalam agama yang suci ini, ISLAM!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kepada setiap orang tua, “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani.” (HR. Bukhari Muslim).

Anak-anak kita terlahir dalam keadaan ‘fitrah’! Apa maksudnya? Menurut Lisaanul Arab (5/56) dan Qamus Al Muhith (1/881), fitrah artinya al khilqah, yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’anul ‘Adzim (6/313) menjelaskan tentang keadaan ‘fitrah’, “Yaitu Allah menciptakan para makhluk dalam keadaan mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya dan mengakui tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” Dan ketahuilah, yang dimaksud dengan agama yang fitrah tersebut adalah Islam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata, “Islam adalah agama yang fitrah, yang pasti akan diterima oleh semua orang yang memiliki fitrah yang salimah.”

Anak kita pun terlahir dalam keadaan fitrah, keadaan beragama Islam. Keadaan mengenal Allah, mentauhidkan-Nya dan mengakui tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Lalu, kita yang membentuk dirinya semakin mendekat kepada Tuhannya, atau justru semakin menjauhi-Nya. Inilah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah pada hari perhitungan amal setiap hamba, salah satunya tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita.

Jangan berdiam diri saja! Perkenalkan anak-anak kita kepada Tuhannya, Nabinya, agamanya, sejak ia masih dini, bahkan sejak ia masih dalam kandungan. Ketika ia lahir, biasakan kita mengucap dan mengajarkan kalimat tauhid. Awalnya, perkenalkan asma ALLAH, kalimat thayibah, hingga mengajarkan kalimat terbaik di muka bumi ini, laa ilaaha illallaah. Terlihat sederhana, namun sungguh sangat berarti bagi anak-anak kita yang juga akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya kelak.

Sejak ia bayi, biasakan untuk memperdengarkan bacaan Al Qur’an. Kita bisa membacanya sendiri, bisa pula diperdengarkan murottal melalui media elektronik, meski tentunya bacaan orang tua jauh lebih berbekas bagi anak. Perkenalkan ia dengan firman Allah sejak dini, sehingga ketika dewasa ia akan mencintainya. Dan ketika anak sudah mulai dapat bertutur kata, ajarkanlah ia membaca dan menghafalkan ayat-ayat suci tersebut. Inilah bagian dari menjaga fitrahnya, yaitu dengan memberi pengetahuan secara bertahap tentang sebagian dari ajaran agama Islam.

Rasa syukur kita atas kehadiran buah hati tercinta, kita buktikan dengan menjaga amanah dari-Nya, yaitu menjaga fitrah anak. Mendidik anak mengenal agama, agar ia bisa mengenal dan mencintai Rabb-nya. Menjadikan anak kita sebagai anak yang shalih, sehingga Allah ridha kepada kita dan anak-anak kita. Kelak, dalam keadaan yang ridha dan diridhai, Allah akan memasukkan kita bersama dengan anak-anak kita ke dalam jannah-Nya, insyaAllah.