Didiklah Anakmu Sejak Ia Masih di Kandungan

0
48
janin dalam kandungan

Didiklah Anakmu Sejak Ia Masih di Kandungan

Oleh : Asadullah Al Faruq

Masa janin (pre-natal atau pralahir) sampai dengan usia remaja (sekitar 15 tahun) merupakan periode yang sangat menentukan bagi pembentukan kualitas seseorang. Namun demikian, dari masa itu, periode yang paling kritis dan perlu mendapatkan perhatian serius adalah tatkala anak berusia di bawah lima tahun (balita), termasuk pula masa ketika anak masih berada di dalam kandungan.

Keadaan di dalam kandungan dapat dikatakan sebagai fenomena yang penuh dengan keajaiban dan keagungan. Di antaranya, otak dan indera pendengaran bayi yang ada di dalam kandungan ibunya sudah mulai berkembang. Seorang bayi dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupannya. Ia mendengar suara ibunya. Ia juga mendengar suara-suara lain yang ada di sekitarnya. Meskipun ia ada di dalam rahim seorang ibu yang bernuansa gelap dan sepi, namun ia dapat merasakan setiap detak kehidupan yang ada di dunia luar.

Otak bayi di dalam kandungan mengalami perkembangan dengan kecepatan yang luar biasa dan mencapai proporsi terbesar, yaitu 90 % dari jumlah sel otak normal. Baik buruknya fungsi otak pada bayi sangat dipengaruhi faktor-faktor yang juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak itu sendiri. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan otak bayi dalam kandungan adalah kondisi psikis ibu, nutrisi yang masuk dan rangsangan dari luar.

Pendidikan bayi dalam kandungan pada dasarnya mendidik ibu yang sedang mengandung bayi tersebut. Pendidikan itu dapat mencakup mendidik ibu agar mampu mengontrol emosinya, mengatur konsumsi yang dikonsumsi, serta memperbaiki pola interaksi dia dengan bayi yang ada di dalam kandungannya.

Saat inilah terjadi keajaiban yang benar-benar ajaib, bayi belajar di dalam kandungan ibunya. Ia belajar banyak hal dari dunia luar yang belum pernah ia melihatnya. Rangsangan suara khususnya, menjadikan ia mampu untuk bereaksi dengan baik, serta menumbuhkan perkembangan positif bagi otaknya.

Pendidikan pralahir memang tidak secara langsung ditujukan kepada bayi yang ada di dalam kandungan, namun dampaknya akan langsung dirasakan oleh si bayi. Pemeran utama dari pendidikan pralahir adalah ibu, sedangkan yang menjadi tujuan adanya pendidikan pralahir adalah bayi itu sendiri.

Ia Bisa Mendengarkanmu

Para peneliti neurologi mengungkapkan, bahwa otak dan indera pendengaran bayi di dalam kandungan mulai mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Karena itu, hendaknya otak dan indera pendengaran diberikan rangsangan, sehingga akan membantu proses tumbuh kembangnya.

Indera pendengaran mulai berkembang pada minggu ke-8 dan selesai pembentukan pada minggu ke-24. Indera pendengaran juga dibantu oleh air ketuban yang merupakan penghantar suara yang baik. Bayi akan mulai mendengar suara aliran darah melalui plasenta, suara denyut jantung dan suara udara di dalam usus. Selain itu, bayi di dalam kandungan akan bereaksi terhadap suara-suara keras, bahkan bisa kaget karenanya.

Usia kehamilan minggu ke-25, bayi sudah dapat mendengar dan mengenali suara orang-orang terdekatnya, seperti suara ibu dan ayahnya. Dr. Richard Woolfson dalam bukunya, What is My Baby Thinking, mengungkapkan bahwa arus listrik dalam gelombang otak bayi (dalam kandungan) menunjukkan janin dapat merespon suara sejak usia 25 minggu setelah pembuahan.

Sebuah studi dilakukan terhadap sekelompok wanita hamil. Para ibu hamil tersebut merekam tiga cerita anak yang berbeda. Para psikolog memilih satu cerita dan tugas ibu adalah memutar rekaman satu cerita pilihan berulang kali dalam sehari sejak bayi berusia 6 bulan dalam kandungan.

Sesaat setelah bayi lahir, para peniliti memperdengarkan tiga cerita yang direkam sebelumnya kepada si bayi. Hasilnya, SUNGGUH MENGEJUTKAN! Bayi itu tidak merespon dua cerita asing yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Dia justru merespon dengan baik cerita yang selalu didengarnya selama dalam kandungan.

Para ahli neurologi dan psikolog anak merekomendasikan agar ibu mengajak berbicara bayi yang ada di dalam kandungannya. Suara ibu akan merangsang daya kembang otak dan indera pendengaran bayi, sehingga ketika bayi lahir, ia akan dilengkapi dengan sistem otak dan indera pendengaran yang siap beradaptasi dengan lingkungan barunya. Bayi yang baru lahir mengenali dan menyukai suara ibunya. Hal ini mungkin sulit dipercaya, tetapi masuk akal karena dia selalu mendengar suara ibunya selama dalam kandungan.

Mengajak berbicara bayi di dalam kandungan –bisa dimulai sejak trimester kedua—merupakan bagian dari pembelajaran bagi bayi, sekaligus menghadirkan kesan bahagia dan menjauhi stress bagi ibu dan bayinya. Ajakan berbicara dari ibu akan merangsang sensorik yang dapat membantu kemampuan bayi dalam mendengar, berbicara dan berbahasa kelak saat ia lahir hingga dewasa. Bayi yang secara rutin mendengarkan suara ibunya, maka jantungnya akan berdetak dengan cepat sehingga dapat merangsang pergerakan sel-sel syaraf dan secara aktif bayi akan menyimpan kosa kata yang diucapkan ibunya.

Saat seperti ini, pendidikan dasar terhadap bayi bisa dimulai. Ajaklah ia berbicara tentang Rabb-nya dengan mengucapkan kalimat thayibah, asmaul husna, doa-doa ketika hendak beraktivitas, atau perkara lainnya yang bisa memperkenalkan bayi dengan Tuhannya sejak dini. Contohnya, ketika ibu akan makan, ia bisa berkata kepada bayinya, “Nak, ibu mau makan, kamu juga makan ya sayang. Jangan lupa kita berdoa dulu, yuk! Bersyukur kepada Allah akan nikmat makanan ini yang telah diberikan kepada kita.” Sederhana, namun bila dilakukan berulang-ulang, efeknya tidak sesederhana perbuatannya.

Apalagi dalam keadaan tenang sambil duduk atau berbaring, ibu bisa mengajak bayinya berbicara tentang hal-hal yang baik. Pilih kata-kata yang positif dan jangan memasukkan kata-kata yang berkesan negatif. Misalnya, “Anakku, besok kalau sudah besar jangan nakal, ya!” Sebaiknya kata ‘ jangan nakal’ kita ubah menjadi, “Anakku, besok kalau sudah besar jadi anak shalih, ya!” Lebih positif, dan bermuatan doa di dalamnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School menjelaskan bahwa bayi dalam kandungan dapat mengenali elemen bahasa ketika ia sudah dilahirkan. Peneliti menyimpulkan bahwa bayi sudah dapat mengetahui suara ibunya sejak dalam kandungan, dan suara tersebut dapat mempengaruhi perkembangan otak yang berkaitan dengan kemampuan bahasa. Bayi yang secara rutin mendengarkan suara ibunya sejak trimester kedua dalam kandungan memiliki otak yang lebih besar yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan mendengar.

Ibu, (dan juga ayah) hendaknya mulai memperhatikan bayinya sejak ia dalam kandungan. Ajaklah buah hati kita berbicara tentang hal-hal yang baik dan dengan kata-kata yang positif. Terlihat sepele, namun sejatinya dari sinilah pendidikan anak dimulai. Bantulah anak kita untuk shalih sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Bantulah ia menjadi shalih, karena keshalihan bukan diwarisi secara otomatis dari orang tua shalih.