Pluralisme Agama, Racun Dalam Beragama

0
75
pluralis sesat

Pluralisme agama telah merasuki pemikiran para pemeluk agama dari berbagai agama. Ia seperti virus yang dengan mudah menyebar dan menggerogoti keyakinan umat terhadap agamanya. Keyakinan akan kebenaran mutlak atas agama yang dianut mulai digoyahkan dan diruntuhkan dengan berbagai alasan. Pada akhirnya, banyak pemeluk agama yang menanggalkan agamanya hanya karena persepsi bahwa ia tidak yakin dengan kebenaran agama yang selama ini dianutnya.

Pengertian Pluralisme Agama

Paham ini lahir dari adanya paham relativisme yang berpendapat bahwa semua persepsi dan penilaian manusia terhadap agama adalah relatif, tidak mutlak. Tidak ada absolute truth claim (klaim kebenaran mutlak) atas agama yang dianut. Relativisme menekankan semua agama sama benarnya. Konsekuensinya, kebenaran bukan monopoli agama tertentu, sehingga tidak boleh pemeluk suatu agama menyalahkan agama lainnya. Relativisme ini kemudian melahirkan tiga paham turunan, yaitu esensialisme, sinkretisme dan pluralisme.

Pengertian pluralisme agama disebutkan secara jelas oleh Peter Byrne dalam Prolegomena to Religious Pluralism. Menurutnya, pluralisme agama merupakan persenyawaan dari tiga proposisi; (1) Semua tradisi agama-agama besar adalah sama, semuanya menuju pada sebuah realitas tunggal yang transendental dan suci; (2) Semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan; dan (3) Semuanya tidak ada yang final.

Tidak ada agama yang memiliki kebenaran mutlak dan tidak ada yang final. Itulah dasar pluralisme. Ajaran agama sangat memungkinkan mengandung kekeliruan atau ketidaksesuaian dengan tuntutan sosial dan perkembangan jaman. Di satu sisi, pluralisme agama memaksa untuk menganggap semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun jalannya tidak sama. Di sisi lain, pluralisme agama memaksa setiap agama harus siap menerima konsekuensi selalu terbuka untuk dikritisi, direvisi dan didistorsi.

Kaum pluralis menganggap bahwa penilaian agamanya sendiri yang paling benar merupakan kesombongan. Dalam pluralisme, tidak ada agama yang lebih superior daripada yang lainnya.

Setiap Agama Mengklaim Kebenaran

Agama adalah urusan keyakinan, keimanan yang terhubung antara hamba dengan Rabb-nya. Ia telah ditentukan oleh Tuhan melalui kitab suci-Nya. Setiap agama meyakini kebenaran agamanya dan menganggap sebagai satu-satunya jalan terbaik dan paling benar. Tidak ada suatu agama yang menyatakan bahwa ajarannya sama baiknya atau serupa dengan agama lain. Keyakinan semacam inilah yang kemudian disebut sebagai paham eksklusivisme oleh pengusung pluralis.

Islam menegaskan kepada pemeluknya bahwa ia adalah Dien yang paling benar. Hal ini ditegaskan di dalam kitab sucinya, “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19). Ayat lain memberikan penegasan kembali, “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Klaim kebenaran mutlak oleh Al Qur’an terhadap Islam bukan berarti menimbulkan konsekuensi untuk memaksa orang lain memeluk Islam. Tidak. Karena bentuk toleransi yang jelas juga diajarkan di dalam Islam. Penegasan itu terdapat dalam ayat, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al Baqarah: 256) dan, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” (QS. Al Kafirun: 6).

Keyakinan semacam itu tentu menjadikan Islam tegas menolak paham pluralisme. Bagi pemeluk Islam, kebenaran hanya ada pada agamanya, namun di sisi lain mereka diajarkan untuk menghormati pemeluk agama yang berbeda untuk meyakini dan menjalankan agamanya.

Klaim kebenaran terhadap agama tidak hanya dimiliki oleh Islam. Agama lain pun menyatakan ajarannya yang paling benar dan satu-satunya jalan menuju keselamatan. Kristen misalnya, dalam Bibel disebutkan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4: 12). Penegasan juga didapatkan dalam Yohanes 14: 6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”

Paham pluralisme terang-terangan ditolak oleh Gereja Katolik dengan diterbitkannya penjelasan ‘Dominus Jesus’ pada tahun 2000 oleh Vatikan. Selain menolak pluralisme agama, juga memberikan penegasan kembali bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara keselamatan ilahi dan tidak ada orang yang bisa menuju Bapa (Tuhan) tanpa melalui Yesus.

Sikap Tegas Kaum Muslimin

Pluralisme agama menjadi racun dan parasit yang menggerogoti keimanan dan keyakinan pemeluk terhadap ajaran agamanya. Pemahaman seperti ini yang perlu diingatkan kepada setiap muslim. MUI juga mengeluarkan Fatwa tanggal 29 Juli 2005 yang menyatakan secara tegas bahwa paham pluralisme agama bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluk paham ini.

Jelas tidak mungkin Islam menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Faktanya, banyak ajaran agama lain yang bertentangan dengan Islam. Jika dua hal atau lebih saling bertentangan, maka hanya ada satu sisi yang berada dalam kebenaran. Mengakui dan menerima keberagaman agama bukan dengan mengakui dan menerima kebenaran semua agama. Islam mengakui dan menerima perbedaan agama, menghormati pemeluknya dalam menjalankan kewajiban agamanya, tetapi Islam mempunyai standar untuk menyatakan bagaimana agama yang benar.

Kembali kepada Islam secara kafah dan meyakini kebenarannya sebagi satu-satunya agama yang diridhai adalah sikap yang seharusnya dilakukan kaum muslimin. Hal ini juga tentunya dilakukan oleh umat Kristiani yang meyakini bahwa agamanya adalah satu-satunya jalan keselamatan. Dalam koridor kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Islam tetap menghargai dan menghormati pemeluk lain dalam menyakini dan menjalankan agamanya, tetapi tidak menyamakan antara Islam dengan agama yang lain. Sikap toleransi terbaik dalam masalah akidah adalah, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.”

 

Ditulis oleh :

Even Kurniawan, S.H., M.H.

(Pengamat Ghazwul Fikr dan Peradaban Islam)