mimisan

Mengenal ‘Epistaksis’ atau ‘Mimisan’

Oleh: Pipit Era Martina

Epistaksis atau sering dikenal dengan kata ‘mimisan’ ini cukup populer di kalangan masyarakat. Banyak orang yang mengalami hal ini, baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Akan tetapi banyak yang tidak mengetahui tentang apa itu mimisan dan apa penyebabnya hingga mimisan tersebut dapat terjadi bahkan berulang kali. Kondisi ini cenderung menakutkan dan menyebabkan kepanikan, khususnya jika terjadi pada anak-anak atau lansia.

Mimisan berasal dari bahasa Yunani, epistaxis yang berarti darah yang mengalir melalui hidung. Dalam bahasa Inggris sering diberi istilah nose bleed. Keluarnya darah dari hidung ini disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah vena kecil yang terdapat pada dinding septum hidung. Septum hidung adalah jaringan ikat lunak yang merupakan perpanjangan dari tulang hidung bagian tengah yang membagi rongga hidung menjadi dua bagian, kanan dan kiri.

Jika perdarahan terjadi pada septum bagian bawah disebut perdarahan bagian depan (anterior) dan jika terjadi pada bagian tengah dan atas septum disebut perdarahan bagian belakang (posterior). Yang paling sering terjadi adalah perdarahan anterior septum, sedangkan perdarahan posterior septum biasanya berkaitan dengan penyakit lain.

Jika perdarahan yang terjadi hanya sedikit, seringkali tidak disadari karena darah cepat membeku dan baru terlihat pada saat membersihkan hidung terdapat bekuan darah, tetapi jika perdarahan cukup banyak maka darah dapat keluar melalui lubang hidung, dapat juga mengalir ke belakang melalui rongga mulut dan tertelan ke lambung, bahkan bisa naik ke saluran pembuangan air mata (ductus nasolacrimal) sehingga terlihat  darah yang mengalir pada tepi kelopak mata.

Mimisan atau Epistaksis adalah perdarahan yang mengalir secara deras keluar dari rongga hidung atau nasofaring. Ini bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu kelainan, menjadi alarm bahwa tubuh sedang mengalami ketidakseimbangan akan tetapi dapat juga diartikan sebagai gejala terjadinya suatu penyakit.. Darah dapat keluar dari salah satu atau kedua lubang hidung dengan durasi yang berbeda-beda. Ada yang mengalaminya hanya selama beberapa detik, dan ada yang lebih dari 10 menit. Akan tetapi, hampir 90% kasus mimisan/ epistaksis dapat berhenti dengan sendirinya.

Epistaksis anterior biasanya mudah diatasi, bukan pertanda hal serius dan dapat ditangani dengan perawatan rumahan. Sementara itu, epistaksis posterior (di mana darah mengalir ke rongga mulut dan tenggorokan) lebih rumit dan butuh tangan ahli untuk mengatasinya. Kondisi ini bisa menyerang semua usia, namun lebih sering dialami oleh anak-anak berusia 2–10 tahun dan orang dewasa berusia 50–80 tahun.

Secara keseluruhan ada dua tipe epistaksis, yaitu:

  1. Epistaksis Anterior. Ini adalah tipe epistaksis yang paling sering dijumpai pada anak-anak dan remaja. Mimisan berasal dari bagian depan hidung (anterior). Perdarahan jenis ini dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.

  2. Epistaksis Posterior. Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari bagian belakang hidung (posterior). Epistaksis tipe ini lebih sering terjadi pada orang dewasa yang menderita hipertensi, arteriosklerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan biasanya hebat dan jarang bisa berhenti sendiri (spontan). Memerlukan tangan medis untuk dapat mengatasinya.

Berikut beberapa penyebab epistaksis anterior:

  • Kondisi udara kering bisa membuat bagian dalam hidung Anda menjadi kering. Hal ini lebih rentan membuat hidung mengalami perdarahan dan infeksi.
  • Suhu udara yang tinggi (udara panas).
  • Mengupil dengan kuku yang tajam.
  • Membuang ingus dengan terlalu keras.
  • Sedang berada di dataran tinggi.
  • Cedera ringan pada hidung.
  • Hidung tersumbat akibat pilek atau flu.
  • Sinusitis.
  • Alergi.
  • Penggunaan dekongestan secara berlebih.
  • Hidung bengkok (septum deviasi) bawaan lahir atau akibat cedera.

Penyebab epistaksis posterior:

  • Hidung patah.
  • Pengerasan dinding pembuluh darah arteri (aterosklerosis).
  • Operasi hidung.
  • Penyakit genetik yang memengaruhi pembuluh darah.
  • Terjadi pukulan keras pada kepala atau terbentur.
  • Penggunaan obat yang bisa memicu perdarahan, seperti aspirin dan antikoagulan.
  • Adanya gangguan pembekuan darah.
  • Tumor di rongga hidung.
  • Leukimia.

Diagnosis

Diagnosis mimisan atau epistaksis ditentukan dari wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan apabila diperlukan oleh dokter.

Pemeriksaan yang dilakukan antara lain:

  • Rinoskopi anterior. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat sumber perdarahan yang ada di dalam hidung.
  • Rinoskopi posterior. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat sumber perdarahan dari bagian nasofaring atau bagian hidung yang berhubungan dengan faring (napas di belakangnya). Apabila terjadi mimisan berulang terutama pada orang dewasa, pemeriksaan ini bertujuan untuk menyingkirkan adanya kemungkinan kanker nasofaring.
  • Pengukuran tekanan darah. Tekanan darah perlu diukur untuk menyingkirkan diagnosis hipertensi, karena hipertensi dapat menyebabkan epistaksis posterior yang hebat dan sering berulang.

Demikian pengertian tentang Epistaksis atau lebih dikenal dengan mimisan, semoga dapat membantu pengetahuan pembaca dan dapat bermanfaat.

Malang, 19 Juli 2018