Islam Kotak-kotak

0
20
islam

Tulisan ini bukan untuk membahas atribut kotak-kotak yang digunakan oleh sekelompok massa dalam gelaran percaturan politik di negeri ini. Perkara utama yang menjadi topik bahasan jauh lebih penting untuk diketahui daripada sekedar simbol kotak dalam politik. Yaitu tentang Islam yang kini mulai dikotak-kotakan demi memecahnya, melemahkan dan mengalahkannya.

Islam menjadi satu-satunya tantangan terbesar bagi kejayaan peradaban Barat, dulu dan sekarang. Konsep ketuhanan dan ajaran keagamaan yang ditawarkan oleh Islam jauh berbeda –atau bertentangan—dengan agama maupun ideologi apapun yang tumbuh dan berkembang di Barat. Islam memiliki nilai-nilai universal yang bersifat final, yang dianggap menjadi ancaman bagi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Barat.

Francis Fukuyama dalam The End of History and The Last Man menyebut ajaran Islam yang bersifat universal menjadi tantangan bagi demokrasi liberal dan praktik-praktik liberal. Sebaliknya, Fukuyama juga menyebut nilai-nilai liberal Barat juga menjadi ancaman bagi umat Islam. Islam dan ideologi Barat, masing-masing saling bertentangan satu sama lain.

Memaksakan Konsep Barat

Perbedaan dan pertentangan antara Barat dan Islam memaksa Barat untuk sebisa mungkin keluar sebagai pemenang dalam persaingan. Genderang perang pemikiran telah lama ditabuh. Bahkan di bebarapa negara Islam, perang tidak hanya dalam ranah pemikiran, tetapi juga diwujudkan dalam konflik militer. Bukti bahwa Barat benar-benar memandang serius Islam sebagai musuh nomer satu yang harus ditaklukkan, atau setidaknya dilemahkan.

Barat menawarkan konsep-konsep pemikiran yang dianggap modern dan sejalan dengan perkembangan zaman. Doktrin-doktrin itu disusupkan dari aktivitas internasional hingga pada tingkat personal. Barat hendak menghadirkan kebimbangan pemikiran, bingung dalam pemahaman, hingga pada akhirnya umat Islam dipaksa untuk mengikuti konsep Barat. Jargonnya, “Jika ingin maju, ikutilah peradaban Barat!”

Pemaksaan konsep dijalankan sedemikian rupa oleh para pengusungnya, dengan didukung aksi orientalis dan misionaris. Melalui kajian-kajian akademis dan ilmiah, pemikiran ala Barat dimulai dan disebarluaskan. Cara pandang umat terhadap Islam digiring untuk sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Barat. Tujuannya sudah jelas, merusak dan mengalahkan Islam.

Disadari atau tidak, Barat bermain cantik dalam memaksa negara-negara Islam dan para pemeluk Islam agar mereka menggunakan pemahaman dan pemiikiran Barat sebagai nilai-nilai universal yang harus diikuti. Pemaksaan ini diwujudkan dengan dimasukkannya program-program Barat melalui berbagai bentuk kegiatan. Sarana dan dana difasilitasi, menunjukkan betapa seriusnya Barat menjalankan misinya. Umat Islam diperkenalkan pada terminologi yang sengaja disajikan oleh Barat demi mengubah cara pandang dan cara berpikir mereka.

Pemaksaan ini sebenarnya merupakan tindakan yang tidak toleran dan resisten bagi pemeluk Islam. Namun sayangnya, kaum muslimin tidak segera sadar, bangun dan bergegas meninggalkannya. Mereka justru terbuai, larut di dalamnya serta bangga menjadi bagian modernitas Barat. Bahkan banyak intelektual muslim yang terjebak pada keadaan menjadi pendukung dan pejuang konsep Barat, baik karena terpaksa maupun sukarela. Padahal, apa yang mereka perjuangan bertentangan dengan Islam dan akan merugikan kaum muslimin.

Membagi Umat dalam Kotak

Cheryl Bernard, seorang novelis feminis sekaligus pendukung misi Barat, memberikan penjelasan strategi Barat dalam menghadapi umat Islam. Bernard menulis strategi tersebut dalam bukunya, Civil Democratic Islam, Partners, Resourses and Strategies (2003). Salah satu strategi yang digagas oleh Bernard adalah mengkotak-kotakan umat Islam dalam bagian yang berbeda-beda, kemudian diperlakukan secara berbeda sesuai dengan karakter umat dalam kotak tertentu.

Bernard membagi umat Islam dalam empat kelompok utama. Kelompok pertama, fundamentalis. Mereka adalah orang-orang yang menolak dengan tegas terhadap nilai-nilai demokrasi dan konsep Barat secara umum. Mereka memiliki komitmen tinggi untuk memperjuangkan hukum dan ajaran Islam. Perlakuan terhadap kelompok ini berupa memusuhinya secara aktif dengan menyerang nilai-nilai yang belum dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Pembuatan label negatif juga ditujukan secara aktif kepada kelompok ini, sehingga masyarakat mewaspadai dan menjauhinya.

Kelompok kedua, tradisionalis (ia juga disebut konservatif). Mereka adalah orang-orang yang berusaha mempertahankan kemapanan yang sudah lama terbentuk, menikmati keadaan sekarang dan curiga terhadap modernitas, inovasi dan pembaharuan. Barat memperlakukan kelompok ini sebatas memberi dukungan untuk mengarahkan mereka agar berlawanan dengan kelompok fundamentalis.

Kelompok ketiga, modernis. Mereka diwakili oleh orang-orang yang menginginkan agar masyarakat Islam menjadi bagian dari modernitas global. Mereka berusaha membuat Islam menjadi modern, sesuai dengan perkemangan zaman dan mengikuti peradaban Barat. Kelompok ini didukung oleh Barat dengan memberikan sarana yang luas agar mereka dapat menyebarluaskan pandangan mereka sekaligus mewakili wajah Islam kontemporer versi mereka.

Kelompok keempat, sekularis. Mereka merupakan kelompok yang menginginkan pemisahan agama dan negara. Agama hanya dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak bileh dicampuri oleh negara. Untuk kelompok ini, Barat akan memperlakukan tidakan berdasarkan kasus per-kasus selama dapat memberikan keuntungan.

Demikian, umat Islam telah dimasukkan ke dalam kotak yang telah disediakan sesuai dengan cara pandang Barat. Suka atau tidak, pengkotakan itu kini telah terjadi dan terlihat jelas. Tujuan utamanya agar umat Islam meniru konsep Barat. Bagi mereka yang menolaknya, mereka harus bersiap dengan stigma negatif yang wajib diterimanya, kemudian cap buruk itu disebarluaskan di dalam masyarakat Islam itu sendiri.

Berbeda adalah sunatullah. Tidak mungkin kita dapat menghindari perbedaan. Namun meskipun berbeda, tentu lebih utama jika kaum muslimin tetap bersama, bersatu dalam satu kotak bernama ukhuwah Islamiyah. Bukankah warna pelangi yang berbeda-beda menjadi indah ketika mereka berpadu menjadi satu kesatuan bernama ‘pelangi’?

Kaum muslimin harus segera sadar bahwa pengkotak-kotakan yang dilakukan oleh Barat telah terjadi pada umat mulia ini. Jangan merasa bangga ketika kita berada dalam sebuah kotak, lalu menghina dan memusuhi saudara kita yang berada dalam kategori di kotak lain. Ingatlah, bukankah sesama muslim adalah bersaudara?!

Sungguh, perumpamaan umat Islam digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagai satu tubuh, sebagaimana beliau bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

Wahai kaum muslimin, jika memang benar aku dan engkau adalah bersaudara, kita adalah satu tubuh, akankah kita terjebak dalam kotak-kotak yang dibuat Barat untuk memisahkan kita?!

 

Ditulis Oleh :

Even Kurniawan, M.H.

(Pengamat Ghazwul Fikr dan Peradaban Islam)