Investasi Akhirat Terbaik Bagi Orang Tua

0
137
anak investasi akhirat

Sebagai orang tua, pernahkah kita berpikir tentang amal terbaik apa yang bisa menjadi insvestasi paling menguntungkan di kampung akhirat? Sebuah amal, namun nilainya jauh melebihi amal itu sendiri. Pahalanya terus mengalir tanpa henti bagaikan mata air yang tidak pernah mengering.

Amal ini sederhana, tetapi bermakna di sisi Allah. Ia menggabungkan tiga amal dalam sebuah perbuatan. Sebutlah amal three in one, tiga amal shalih yang dilakukan hanya dengan satu tindakan. Ia memenuhi hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara (yaitu); sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim No. 1631).

Ternyata, ketiga amalan tersebut, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya, dapat diwujudkan dengan satu perbuatan. Perbuatan itu adalah orang tua dengan segenap daya upayanya mendidik anak-anaknya memahami ilmu agama dengan sebaik mungkin.

Perhatikan, sebuah amal yang nampak biasa saja! Apa istimewanya? Mendidik anak memahami ilmu agama mungkin dapat menjadikan anaknya sebagai pribadi yang shalih, namun apa kaitannya dengan sedekah jariah dan ilmu yang bermanfaat?

Orang tua sering melupakan bahwa aset yang paling berharga bagi mereka adalah anak-anak yang dimilikinya. Anak-anak yang shalih yang dapat menggandeng orang tuanya memasuki surga bersama-sama. Dan melalui doa anak shalih, orang tua akan dimudahkan hisabnya, diampuni dosa-dosanya dan dimasukkan ke dalam surga, karena Allah telah mengabulkan doa anak-anak mereka yang shalih.

Sayangnya, aset yang paling berharga ini mulai diabaikan. Atau kalaupun mendapat perhatian, orang tua lebih ingin mendapati anaknya memperoleh kesuksesan duniawi, seperti anak menjadi pengusaha atau pejabat, memiliki gelas akademis yang tinggi, atau menjadi publik figur yang terkenal. Mereka lupa bahwa hal tersebut sama sekali tidak bermanfaat bagi kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya di kampung akhirat kelak. Sungguh amat merugi jika orang tua menyia-nyiakan anaknya padahal mereka adalah aset utama untuk mendapatkan aliran pahala meski orang tuanya sudah meninggal dunia.

Memaksimalkan aset yang dimiliki sebagai modal berharga yang dapat menjadi invstasi di kampung akhirat perlu dilakukan oleh orang tua. Ya, dengan mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shalih, memahami ilmu agama dengan baik, kemudian mengamalkan dan mendakwahkan ilmu yang dimilikinya merupakan langkah terbaik untuk mewujudkan investasi bagi kehidupan setelah kematian.

Orang tua hendaknya menggunakan harta atau modal duniawi lainnya untuk mendukung anaknya menjadi anak yang shalih. Ia mendidiknya di rumah dengan pendidikan agama yang baik. Memberikan fasilitas belajar agama secara baik, meski harus mengeluarkan uang cukup banyak. Menyekolahkan anak di tempat di mana ia dapat memperoleh ilmu agama secara baik seperti di pondong pesantren atau boarding school, walaupun harus merogoh koceknya jauh lebih mahal.

Setiap harta yang keluar dalam rangka menjadikan anaknya sebagai orang yang faham agama, sebagai calon juru dakwah, mencetak generasi yang menolong agama Allah, maka uang tersebut akan menjadi sedekah jariyah bagi orang tua. Sedekah jariah tidak sekedar hanya membangun saran fisik seperti masjid dan sarana sosial lainnya. Ia juga dapat berupa menggunakan harta yang dimiliki untuk membentuk anak sebagai orang shalih, juru dakwah, generasi yang ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Apabila anak yang kita didik dan kita sekolahkan di tempat terbaik untuk belajar agama, mampu menjadi anak yang shalih dan berilmu, lalu ia ajarkan pada orang lain, atau ia menulis buku-buku agama yang bermanfaat bagi umat, maka ia akan memperoleh pahala dari ilmu yang didakwahkannya, sebagaimana pahala orang yang mengikuti seruannya.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim No. 1893).

Adapun kita sebagai orang tua yang telah memaksimalkan usaha dan harta untuk membentuk anak yang mampu menjadi seorang ‘alim (berilmu) dan da’i, maka insya Allah kita juga akan mendapatkan kucuran pahala dari setiap ilmu yang dimanfaatkan oleh anak kita, dan oleh setiap orang yang mengikuti dakwahnya.

Anak yang faham terhadap ilmu agama, niscaya ia juga faham tentang kewajibannya untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia akan menjadi anak yang selalu mendoakan orang tuanya, baik ketika keduanya masih hidup maupun setelah keduanya meninggal dunia. Anak tersebut menjadi sebab orang tuanya masih mendapatkan pahala, meskipun orang tuanya telah tiada.

Ayah, Ibu… Inilah saatnya ketika kita masih hidup di dunia, memanfaatkan waktu, tenaga, pikiran dan harta yang kita miliki untuk membentuk anak-anak kita sebagai anak yang shalih, faham terhadap agama, dan menyeru pada kebaikan serta mencegah kemungkaran. Inilah investasi yang paling berharga bagi kehidupan kita di kampung akhirat. Hendaknya kita mempergunakan harta sebagai jariyah dalam rangka membentuk generasi yang faham agama, sehingga ia akan menjadi da’i yang mampu mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya, sekaligus juga sebagai anak shalih yang selalu berbakti dan mendoakan orang tuanya. Tidakkah Engkau menginginkannya, wahai Ayah, Ibu?