Hukum Mengambil Barang Temuan

0
35
barang temuan

Bagaimana Hukum Mengambil Barang Temuan?

Oleh: Aannisah Fauzaania

Dua orang gadis berkhimar panjang dengan wajah yang cerah melangkahkan kaki menuju ma’had tempat mereka mencari ilmu. Sesekali mereka tertawa kecil sembari bercerita perihal banyak hal. Namun tiba-tiba sepasang langkah itu berhenti,

“Ukh, ini dompet siapa ya?”

Sebuah dompet kulit berwarna cokelat tampak tergeletak di tengah trotoar.

“Ngga tau, kayaknya dompet ini ga sengaja jatuh tadi. Mungkin pemiliknya ndak sadar.”

“Jadi kita cari pemiliknya atau dibiarin aja?”

“Aku takut buka-buka isinya. Gimana ya?”

—-

Sahabat, adakah diantara kita yang pernah mengalami situasi seperti ilustrasi di atas?

Ketika kita tengah berjalan atau sedang berada di suatu tempat kemudian menemukan barang hilang yang tak diketahui siapa pemiliknya. Lalu bagaimana sikap kita seharusnya menurut pandangan islam? Lebih baik membuka isi dompet dan mencari pemiliknya, atau membiarkannya di tempat tersebut?

Berbicara dalam konteks ini, mungkin mayoritas orang menganggap pembahasan luqathah ini adalah hal sepele. Padahal, jika kita mau memahami dan belajar lebih banyak lagi, selalu saja ada ilmu baru yang bisa kita petik.

Bagaimana sebaiknya seorang muslim bersikap ketika menemukan suatu barang yang bukan miliknya?

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd dituliskan, para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang lebih baik antara mengambil atau membiarkan barang temuan.

Imam Abu Hanifah dan Imam syafi’i menyatakan bahwa sikap yang lebih utama ialah mengambilnya, sebab seorang muslim wajib memelihara harta saudaranya yang juga muslim

Sedangkan Imam malik dan segolongan fuqaha berpendapat bahwa mengambil barang temuan hukumnya adalah makruh.

Pendapat mengenai hukum makruh ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas dan dilisankan oleh Imam Ahmad. Penyebab makruhnya ada dua poin, yang pertama adalah berdasarkan hadist dari Nabi SAW.

ضالة المؤمن حرق النار

“Barang hilang milik orang mukmin adalah nyala api neraka.

Poin kedua, dikhawatirkan orang yang menemukan barang hilang tersebut menjadi lalai, lupa mengumumkan, atau terjadi penyia-nyiaan sehingga menimbulkan kerugian di kemudian hari.

Ahli fiqih yang lebih mengutamakan pengambilan barang tersebut memberikan penafsiran pada hadist Rasul di atas dengan oemahaman baahwa yang tidak diperbolehkan mengambil ialah mengambil manfaat dari barang tersebut dan bukan untuk diumumkan pada khalayak ramai.

Dalam riwayat lain dinyatakan, apabila barang temuan tersebut berada di antara kaum yang tidak dapat dipercaya sedang imam disana adalah seorang yang adil, maka yang diwajibkan ialah mengambilnya.  Apabila barang temuan tersebut ditemukan di tengah kaum yang dapat dipeecaya namun pemimpin disana adalah seorang yang tidak adil, maka yang lebih utama ialah tidak mengambilnya. Sedangkan apabila barang tersebut berada di tengah kaum yang tidak dapat dipercaya dan imam atau pemimpinnya bukanlah orang yang adil maka orang yang menemukan tersebut boleh memilih menurut dugaan terkuatnya, apakah lebih baik diambil atau dibiarkan dengan mempertimbangkan keselamatan barang tersebut.

Bagaimana jika setelah diumumkan tidak ada pemilik yang datang?

Para ahli fiqih dari negeri besar, seperti Imam Malik, Al Auza’i, Ats-Tsauri, Abu hanifah, Syafi’i, Ahmad, Abu Ubaid dan Abu Tsaur berpendapat bahwa barang yang hilang tersebut harus diumumkan selama satu tahun pertama di hadapan khalayak ramai. Namun, jika setelah satu tahun kemudian tak ada yang datang dan mengakui barang tersebut, maka menurut fuqaha tadi orang yang menemukan barang itu diperbolehkan untuk memakannya jika ia orang miskin dan disedekahkan apabila ia orang kaya. Jika kemudian hari pemiliknya tiba-tiba datang maka ia boleh memilih antara meluluskan sedekah hingga ia mendapat pahalanya atau memilih mengganti harganya saja.

Dari beberapa poin di atas, maka ketika kita menemukan sebuah barang milik saudara kita yang hilang, baik itu berupa dompet maupun barang lainnya, kita dapat memilih pendapat di antara imam besar yang telah disebutkan di awal. Namun, sebagai sudara muslim yang baik, kita pun tentu harus jeli memahami situasi. Jika barang tersebut tampak sangat berharga dan tak dapat dijamin keselamatannya, maka sebaiknya kita ambil dan mengumumkannya. Namun jika barang tersebut terlihat tidak terlalu beresiko untuk mengundang pikiran negatif, maka sebaiknya biarkan sampai pemiliknya kembali datang.

Wallahu a’lam. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat:)