Inilah Hikmah di balik Puasa Ramadhan

0
19
hikmah puasa

Inilah Hikmah di balik Puasa Ramadhan

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

***

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwasanya Ramadhan adalah bulan yang mulia. Dan ibadah yang paling utama dalam bulan ini adalah puasa. Puasa Ramadhan merupakan salah satu tiang pondasi dari rukun Islam yang lima. Sudah pasti, hal ini diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah.

Nah, apakah puasa itu?

Puasa dalam bahasa Arab dinamakan shaum yang berarti imsaak. Apa artinya? Artinya adalah menahan. Menahan dari apa? Menahan segala sesuatu yang bisa membatalkannya; seperti makan, minum, dan lain sebagainya.

Jadi, saat seorang muslin berpuasa, ia harus bisa menahan dirinya dari beberapa hal di atas. Jika dia bisa menahannya, maka sahlah puasanya. Tapi, jikalau dia gagal menahan semua itu, puasanya akan batal.

Lalu, adakah yang tahu mengapa seorang muslim harus berpuasa?

Alasan pertama adalah sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam salah satu ayatnya;

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa .” (QS. Al Baqarah: 183)

Di dalam ayat ini disebutkan bahwasanya salah satu dari  hikmah diwajibkannya puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa. Apakah takwa itu?

Seringkali dalam khutbah Jum’at kita mendengar bahwasanya takwa adalah ketika seseorang mentaati segala perintah yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangannya. Dan jika dia bisa melakukan ini semua, maka ia termasuk orang-orang yang bertakwa.

Takwa adalah salah satu derajat kemuliaan seorang hamba di depan Rabb-Nya. Maka, ini juga meeupakan derajat yang diinginkan oleh para hamba.

Begitulah juga orang yang berpuasa, ia akan termasuk dari hamba-hamba Allah yang bertakwa karena ia senantiasa melaksanakan apa yang Allah perintahkan padanya.

Hikmah yang kedua, bahwasanya puasa bisa menahan seorang hamba dari perbuatan dosa dan maksiat.

Mengapa bisa begitu?

Karena sesungguhnya, puasa tidaklah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga, tetapi puasa juga menahan diri dari hal-hal yang tak bermanfaat semisal perkataan kotor dan senda gurau. Hal ini pernah dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam dalam salah satu haditnya;

“ Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah 3/242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Beberapa ulama menjelaskan makna dari Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.  Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.

Jadi, saat berpuasa Allah perintahkan kita untuk menjauhi semua hal yang tak bermanfaat dan mendekati dosa.

Hikmah berikutnya dari puasa adalah memperoleh ampunan dari Allah. Hal ini senada dengan apa yang Rasulullah sabdakan;

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala. (Lihat Fathul Bari, 4: 115).

Hal ini memang benar, karena ketika kita telah menjadi insan yang bertakwa bersebab menjalankan apa yang Allah perintahkan, maka otomatis dengan itu Allah menjadi Ridho terhadap diri kita dan akhirnya mengampuni dosa-dosa kita.

Berikutnya, ada hikmah puasa yang terjadi pada tubuh kita. Yaitu orang yang berpuasa akan teratur pola makannya. Dan itu akan membuatnya menjadi sehat.  Memang, hadits yang mendasari hal ini diperselisihkan di kalangan ulama tentang keshahihannya. Namun, jika kita lihat lebih dalam memang puasa bisa membuat pola makan kita menjadi teratur dan itu menjadikan kita menjadi sehat.

Selain itu, salah satu dari hikmah puasa adalah kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang tak punya. Yaitu merasakan lapar. Memang, puasa Ramadhan tak sekadar masalah fiqh; batal dan tidak. Namun sejatinya, menahan lapar selama sebulan akan menjadikan kita memiliki sikap empati pada orang yang tak punya. Itu juga yang menjadi alasan setelah kita puasa sebulan penuh, syariat islam menuntun kita untuk menutupnya dengan membayar zakat fithri sebagai perwujudan kepedulian atas fakir miskin. Mengapa diwajibkan zakat fithri? Agar orang-orang fakir dan miskin bisa ikut bergembira saat hari raya datang dengan berkecukupan dan tak merasa lapar.

Sudah semestinya, ketika kita mengetahui hikmah-hikmah puasa ini, serta hikmah lain yang belum saya sebutkan akan menjadikan kita menyadari bahwasanya puasa kita tak sekadar puasa. Karena, banyak hikmah yang Allah selipkan dibalik perintah untuk beepuasa di bulan ini.

Semoga Allah menerima puasa dan ibadah kita di bulan ini. ^^

***

Salatiga, 3 Juni 2018