Memaknai Perihal Tawar-Menawar

0
69
jualan
Ilustrasi Pedagang

Memaknai Perihal Tawar-Menawar
Oleh: Aannisah Fauzaania

Saya tengah membantu bibi membawa plastik berisi sayuran hijau dan beberapa potong ikan ketika tak sengaja mendengar percakapan suatu sore di sebuah pasar tradisional.

“Berapa bayamnya Nek?” ucap seorang ibu-ibu yang baru saja datang. Usianya sekitar tiga puluh tahunan.

“Seikatnya dua ribu Nak.”

“Mahal amat. Tadi tanya disana tiga ribu dua ikat.”

“Sayurannya masih segar Nak. Ini nenek cuma ambil untung sedikit.”

“Tiga ribu dua ikat lah nek. Kalau nggak boleh saya beli di tempat lain aja nih.”

“Ya sudah, ambillah ndak apa.” raut mukanya tiba-tiba berubah sayu.

Saya ikut terenyuh, namun tak bisa lama-lama memperhatikan setelah panggilan bibi saya terulang dua kali.

Sahabat, kita mungkin sering menemukan situasi seperti di atas, atau bahkan mengalami sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tengah belanja di pasar tradisional, kemudian melihat seorang penjual tua yang tengah berusaha mengais rezeki halal di antara sisa-sisa kekuatannya, dan pembeli-pembeli yang berusaha menawar dengan harga serendah mungkin.

Padahal harga yang dipatok di pasar tradisional mayoritasnya telah termasuk murah jika dibandingkan dengan harga sayur dan lauk pauk di supermarket besar. Kita semua tentu mengetahui pedagang-pedagang di pasar tradisional adalah pedagang eceran yang tak mengambil untung terlalu banyak dari setiap dagangannya yang berhasil dijual.

Jika kita mau merenung sebentar, mengapa rasanya begitu berat mengikhlaskan uang yang tidak seberapa untuk membantu seorang pedagang kecil? Sedangkan kita selalu punya alasan tak berbilang untuk tak pernah sayang menghabiskan uang ketika akan membeli baju mewah, sepatu mewah, makan di tempat-tempat yang harga satu porsi makanannya seharga ratusan ribu?

Padahal kalau kita telaah kembali, Seberapa berpengaruhkah uang kembalian dalam kisaran kurang dari dua ribu rupiah itu untuk menambah kekayaan yang kita miliki, dibanding pahala yang akan kita dapatkan jika mau membantu nenek tersebut menjemput rezekinya? Seberapa takutkah kita akan menjadi kekurangan, jika mau membeli sesuai harga pada pedagang-pedagang kecil?

Jika saja kita mau lebih melembutkan hati untuk membayar tanpa menawar, atau bahkan mau melebihkan sebagai sedekah, maka insyaallah Allah yang maha kaya akan melipatgandakan lebih banyak lagi rezeki kita. InsyaaAllah Allah yang maha baik akan memudahkan setiap harapan kita untuk dapat terwujud.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). Sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lag Maha Mengetahui” [al-Baqarah/2 : 268]

Dalam tafsirnya, ibnu katsir menyebutkan maksud ayat ini ialah setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan agar manusia kikir dengan harta yang ada di tangan kalian sehingga kalian tidak menginfakkannya ke jalan yang diridai oleh Allah Swt.

وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشاءِ

dan menyuruh kalian berbuat fahsya (kekejian). (Al-Baqarah: 268)

Selain setan mencegah untuk berinfak dengan mengelabui akan jatuh miskin karenanya, dia pun memerintahkan  untuk melakukan perbuatan maksiat, dosa-dosa, serta hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang bertentangan dengan akhlak yang mulia.

Bagaimana jika nenek yang usianya telah renta itu menyimpan kecewa? Atau bagaimana jika ternyata sedikit rasa kecewa yang muncul dalam hatinya Allah gantikan dengan pembalasan secara langsung pada kita?

Bisa jadi, hanya karena takut kehilangan uang yang sedikit tadi. Niat kita ingin memasak banyak dan lezat tiba-tiba menghitam mutung sebab kelupaan mematikan api, bukankah itu pun termasuk bentuk kerugian yang lebih besar dibanding kembalian sejumlah seribu rupiah tadi?

Bisa jadi, hanya karena alasan sayang dengan uang, saat akan menyantap makanan kita masih terus merasa kurang dan kelaparan, padahal telah banyak melahap nasi beserta lauk pauknya.

Atau bisa jadi, saat kita telah lelah memasak banyak makanan, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tak diharapkan sehingga makanan yang telah disiapkan jadi terbuang mubazir.

Dalam firman Allah Azza wa Jalla yang lain,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” [al-Baqarah/2 : 261]

Sahabat, tulisan ini sungguh bukan untuk menyalahkan. Setiap orang tentu boleh memiliki pilihan masing-masing. Pun boleh memilih sikapnya masing-masing. Namun, alangkah baiknya jika kita mau lebih peduli dan lebih banyak peka terhadap keadaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Mungkin menurut beberapa dari kita, membeli di seorang nenek tua yang berdagang sayuran tak punya banyak arti penting, namun bagi sebagian lain, kita tentu dapat berpikir nenek tersebut meletakkan banyak harapan pada dagangannya. Dalam sayur mayur yang dapat dihitung jari itu, mungkin ia meletakkan harapannya untuk bisa makan hari ini. Dalam beberapa ikat sayur itu, Mungkin ia meletakkan harapan untuk bisa membayar sekolah cucunya. Atau harapan-harapan lain yang menurut kita remeh, namun memiliki arti penting untuk penjual-penjual tersebut.

Maka sahabat, marilah kita sama-sama belajar kembali untuk menjadi pribadi yang selalu mau memaknai dengan baik setiap kejadian yang berlalu dalam kehidupan ini. Kalau hidup sekedar hidup, maka monyet pun hidup, gajah pun hidup, Ikan pun hidup. Maka, berusahalah untuk menjadi manusia yang tak hanya sekedar memiliki hidup, tapi juga membentuk kehidupan yang penuh makna. Pandai menyesuaikan diri, mau berbagi, mau peka terhadap kondisi saudara-saudara kita, mau berbaur dengan yang lain, dan mau selalu berusaha untuk terus belajar.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat diri untuk kita semua, aamiin.

Palembang, Mei 2018.