Kesulitan Yang Mendekatkan

0
52
kesulitan hidup

Kesulitan yang Mendekatkan

Oleh: Aannisah Fauzaania

Setiap orang tentu pernah bertemu dengan kesulitan dalam hidupnya. Kesulitan yang kecil, maupun kesulitan yang besar pasti telah dialami. Allah bagikan rata-rata kesulitan itu pada setiap hamba yang dicintaiNya. Bukan marah. Allah maha baik. Kitalah sebagai hamba yang mesti banyak ingat-ingat. Ujian berbentuk kesulitan adalah salah satu tanda sayang dariNya.

Allah berkata dalam firmanNya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ  ﴿٢﴾؅

“ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabut :2 )

Marilah kita meyakini perihal, Allah memberikan kita ujian selalu sepaket dengan solusinya. Terkadang, solusi itu memang tak dapat ditebak kapan akan muncul. Dari mana arah datangnya, dalam waktu cepat atau lama. Tapi percayalah, solusi itu pasti akan diberikan. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba yang mesti pandai memanajemen hati, manajemen pikiran, dan sikap agar kesulitan tersebut tak hanya datang sebagai hal yang tak menyenangkan, tapi juga sebagai pembuka jalan menuju kemudahan untuk lebih mendekat pada Allah.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 214,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Artinya:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah : 214).

Dalam firmanNya yang lain,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ 

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Pertolongan Allah sangat dekat.

Sebabnya Allah tentu tak mungkin menurunkan ujian yang tak sanggup untuk dipikul hambaNya. Ia lah yang maha tau bahwa hambaNya bernama manusia ini hanya makhluk-makhluk lemah serupa butiran debu jika tak ditopang oleh kuasa Allah yang senantiasa menolong.

Dalam sebuah hadist disebutkan,

“Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.”(HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, Ibnu Muflih berkata, “Isnad hadits ini baik”)

Mestinya, malulah kita jika lisan ini terlalu banyak mengucap keluh saja sepanjang hari. Malulah kita jika hari-hari ini tak dipenuhi dengan rasa syukur. Malulah jika kita terus menerus mengeluh hanya sebab diberi satu ujian yang lumayan berat. Padahal hari-hari lalu Allah selalu penuhi hidup kita dengan banyak kenikmatan, banyak kesenangan, dan banyak keberkahan. Malulah kita yang tak pandai bersyukur atas banyak sekali hal-hal baik yang telah Allah berikan. Lalu mengapa ketika diberi kesulitan sedikit, keluhan kita langsung berderet panjang?

Barangkali, satu kesulitan itu adalah satu teguran dari Allah agar kita yang sering lupa dengan kefanaan dunia ini mau kembali ingat. Barangkali, satu kesulitan itu adalah pertanda bahwa Allah tengah rindu dan ingin kita kembali mendekat. Barangkali kita yang telah terlalu lama tak pernah menangis dalam sujud-sujud. Ingatkah? Mungkin ketika kesulitan datang saja kita cari-cari Tuhan lalu mengadu dalam tangis, esoknya saat kembali diberi kenikmatan, tak teringat lagi dimana kemarin simpan tangis-tangis menyayat hati itu.

Allahu musta’an. Sahabat, semoga kita bisa menjadi hambaNya yang senantiasa ingat untuk mengurangi berkubang dalam keluh-keluh. Semoga kita bisa menjadi hambaNya yang terus bersyukur.

Palembang, Sya’ban 1439H.