Islam Kembali Terasing

0
38
terasing

Islam Kembali Terasing

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

***

Syariat Islam datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dimulainya turun Ayat 1-5 Surat Al Alaq di Gua Hira pada usia 40 tahun usia beliau. Saat itu, masyarakat jahiliyah dipenuhi dengan kesyirikan. Mereka

Menyekutukan Allah dengan sesembahan lain yang tak terbilang banyaknya. Bahkan, setiap kaum memikiki sesembahannya sendiri.

Lalu, datanglah Islam dengan perantara Malaikat Jibril yang membawa wahyu pertama. Setelah itu datanglah perintah kepada Rasulullah untuk menyampaikan apa yang telah Allah wahyukan.

Apakah orang-orang langsung menerimanya? Tidak. Mereka menolak dan merasa asing atas apa yang Rasulullah dakwahkan. Mereka ucapkan, “Apakah kami harus meninggakan sesembahan-sesembahan kami dan menyembah Tuhan Yang Satu?”

Ya, saat Islam datang rasanya memang asing bagi mereka. Karena Islam menghapuskan apa yang selama ini selalu mereka lakukan. Islam mengajak pada peribadahan Tuhan Yang Satu, serta meninggalkan para sesembahan selain-Nya. Mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.  Yang tentu saja semua hal ini terasa asing bagi mereka semua.

Memang, Islam datang dalam keadaan asing. Begitu pula akan menjadi asing kembali. Hal ini pernah diterangkan oleh Rasulullah dalam salah satu hadits, “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya.”  (Syarh Shahih Muslim , 2: 143)

Dan saat ini, jika kita melihat keadaan Umat Islam benarlah apa yang Rasulullah sabdakan. Bahwasanya, saat ini Umat Islam ada dalam keadaan terasing sebagaimana dahulu datang.

Mengapa bisa begitu? Karena saat ini, orang-orang Islam yang taat menjalankan ibadah serta perintah syariat lainnya dianggap aneh dan asing. Bahkan, seringkali dicurigai sebagai orang-orang berbahaya. Begitu pula dengan mereka yang menampakkan simbol-simbol Islam. Seringkali menjadi bahan perbincangan yang negatif.

Padahal, bukankah ketika semakin seorang muslim menampakkan identitas keailamannya maka kita bisa meyakini bahwasanya mereka adalah orang-orang yang baik? Karena Islam adalah agama yang damai serta mengajak pada kebaikan.

Maka, janganlah putus asa dan mundur dari menampakkan keislaman kita meskipun orang-orang di sekitar mengnggap kita aneh dan asing. Tetaplah tunjukkan bahwa Islam adalah Agama yang indah dan bisa diterima di semua zaman. Dakwahkanlah Islam dengan akhlak mulia yang kita lakukan.

***

Salatiga, 28 Mei 2018