Blusukan ala Dua Umar

0
37
umar bin khatab

Blusukan ala Dua Umar

Oleh : Bunda Haifa

Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz adalah 2 khalifah yang terkenal adil. Kisah pembelaan mereka kepada umat sangatlah masyur. Umat makmur dan sejatera di bawah kepemimpinan mereka bahkan hingga tidak ditemukan mustahik,semuanya muzzaki. Umar bin Khatab mantan preman Mekkah yang meski keras namun berhati lembut,mudah tersentuh,dan mudah menangis ketika hidayah sudah menghampirinya,terlebih ketika menjadi khilafah. Cicit beliau, Umar bin Abdul Aziz yang sebelumnya selalu dalam kehidupan mewah, berubah miskin ketika menjadi khalifah. Meskipun mereka hidup di zaman yang berlainan ,namun mereka mempunyai kebiasaan unik yang sama selama menjadi khalifah yaitu blusukan .

Blusukan, kosakata yang begitu familiar di negara ini sejak menjelang tahun 2014 lalu. Konon arti busukan sendiri adalah masuk atau inspeksi ke suatu tempat demi mengetahui sesuatu. Kalau kapasitasnya sebagai pemimpin maka blusukan dilakukan demi mengetahui kondisi masyarakat sebenarnya, bagaimana kualitas layanan publik, dan untuk berkomunikasi dengan masyarakat secara langsung. Blusukan biasanya dilakukan tanpa pemberitahuan lebih dahulu ,mendadak, dilakukan secara diam-diam,dan tanpa tanpa publikasi. Bila definisi blusukan demikian, maka Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz telah melakukan blusukan dengan benar. Kedua Umar yang merupakan cucu dan cicit ini melakukan blusukan tanpa keramaian,tanpa publikasi,tanpa orang tahu bahwa mereka adalah khalifah. Khalifah Umar bin Khatab sering melakukan blusukan di malam hari nan sunyi, sedangkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz seringkali menyamar menjadi rakyat biasa,bergabung dengan kafilah-kafilah lalu mengorek informasi dari mereka mengenai kualitas kehidupan di negaranya dan kualitas pemerintahannya.

Suatu malam Khalifah Umar ,Ra melakukan blusukan dengan ditemani Aslam. Beliau mampir di sebuah gubuk tua yang dari luar terdengar tangisan anak kecil. Suara wanita menenangkan dan menidurkan anak tersebut. Umar mengetuk gubuk tersebut. Seorang wanita mempersilahkan masuk . Umar pun bertanya,”kenapa anak ibu menangis?” “Dia lapar,” jawab ibu tersebut. Umar tertegun. “Khalifah Umar sangat jahat, tidak peduli dengan kesejahteraan umatnya hingga kami kelaparan,”lanjut wanita lusuh tersebut.
“Apa yang sedang kau masak,Bu?”
“Aku memasak batu demi menyenangkan anakku. Sejak pagi kami belum makan. Anakku menangis karena lapar maka aku memasak batu untuk membohonginya agar dia mau tidur. Sungguh jahat Khalifah Umar.” Aslam marah mendengar Khalifah Umar diumpat wanita tersebut namun Khalifah Umar mencegahnya. Sang Khalifah yang hatinya tidak karuan pamit kepada wanita tersebut dan menuju baitul mal untuk mengambil bahan makanan. Beliau memanggul sendiri berbagai bahan makanan menuju gubug wanita tersebut,bahkan Aslam pun dimarahinya ketika ingin menggantikan memanggul. Sesampainya digubug ,Khalifah Umar dan Aslam memasak lalu menghidangkan ke ibu dan anak tersebut.

Sang Cicit, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyamar menjadi rakyat biasa dan bergabung dengan sebuah kafilah. Beliau menginap di tenda-tenda mereka,mengobrol,dan bertanya bagaimana kondisi umat ketika beliau menjadi pemimpin. Namun Umar bin Abdul Aziz tetap menangis dan memohon ampun kepada Allah meskipun kondisi umatnya menjadi lebih baik di bawah kepemimpinanya.

Beliau yang ketika diangkat menjadi khalifah menjual semua asetnya dan menyerahkannya ke baitul mal mendadak menjadi miskin padahal sebelumnya beliau dalam kehidupan yang sangat mewah. Beliau juga menolak kendaraan mewah untuk khalifah. Semua itu karena rasa takutnya kepada Allah. Sangat berbeda sekali dengan pemimpin zaman sekarang yang kebanyakan bergelimang harta dan kemewahan.

Selain menyamar, beliau juga seringkali menanyakan kondisi umatnya kepada asistennya. “Tuanku,kondisi umat kian baik di bawah kepemimpinanmu tapi ada pihak yang kondisinya tidak labih baik,”kata sang asisten. “Siapa mereka?”tanya Umar bin Abdul Aziz. “Aku, kudamu, dan keluargamu.” Sang Khalifah yang beristri sangat cantik ini menangis karena sejak menjadi khalifah,keluarganya juga harus hidup miskin. Semua itu dilakukan karena ketika menjadi khalifah ,Umar bin Abdul Aziz ingin berorientasi akhirat.

Setidaknya ada 3 misi besar dalam hidup beliau yaitu ingin menikahi gadis cantik, ingin menjadi gubernur Madinah, dan yang terakhir ingin masuk surga. Fatimah adalah istrinya yang sangat cantik yang dulu sangat diimpikannya. Ketika menjadi gubernur Madinah, kehidupannya sangat mewah meskipun beliau memimpin dengan cara yang baik dan adil.

Ketika beliau ingin fokus ke akhirat, bersamaan beliau menjadi khalifah maka segala kehidupan mewahnya ditinggalkan bahkan beliau memberi opsi kepada istrinya, menjual semua perhiasan dan diserahkan ke baitul mal atau dipulangkan ke ayahnya. Istrinya memilih menjual perhiasannya dan menyerahkan ke baitul mal karena ia ingin menjadi istri khalifah hingga di surga.