Berislamlah Secara Kaffah!

0
44
islam kaffah

Berislamlah Secara Kaffah!
Oleh: Aannisah Fauzaania

Mungkin diantara kita pernah mendengar kalimat tak sedap karena kecintaan kita terhadap Islam yang justru dianggap anomali oleh sebagian orang.
“Jangan terlalu fanatik lah. Jadi islam yang biasa-biasa saja.” sebut mereka.
Iya, biasa-biasa saja. Tak perlu secara kaffah. Terlalu berlebihan katanya.

Padahal sebenarnya berislam secara Kaffah itu wajib. Karena jika tidak Kaffah, Iman kita terancam pudar. Apa arti Kaffah? Kaffah berasal dari bahasa arab yang artinya menyeluruh. Dalam Al qur’an surat Al baqarah ayat 208 Allah menyerukan agar kita masuk islam secara menyeluruh dan beriman secara penuh dalam agama ini. Perkara tersebut terpatri abadi dalam Al qur’an surat Al Baqarah yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menegaskan bahwa maknanya adalah lakukan seluruh ajaran Islam, yaitu berbagai cabang iman dan berbagai macam syari’at Islam. Dalam hal akhlak, aqidah, muamalah, juga untuk setiap bagian kehidupan sehari-hari, setiap kita telah diperintahkan untuk menjalankannya dalam ketaatan pada Allah secara kaffah.

Saya pernah, suatu kali bertemu seorang perempuan di tengah keramaian publik. Masyaallah ia mengenakan cadar ketika sedang berbelanja. Betapa teguh ia menggenggam izzah dan iffah untuk berusaha taat pada rabbNya. Tetapi, memanglah dunia ini adalah ladang ujian. Akan selalu ada manusia-manusia lain yang dihadirkan sebagai penguji iman.

bercadarKala itu saya melihat, beberapa pasang mata menatapnya sinis. Bahkan ada beberapa anak-anak yang menghambur sembari berceletuk bahwa perempuan itu lebih mirip dengan ninja. Perempuan itu menunduk. Mungkin hatinya tengah merasa pilu. Saya ikut miris. Padahal ia hanya tengah berusaha untuk menjadi taat. Padahal ia hanya tengah berusaha menjadi hamba terbaik dengan menjaga diri sebagai muslimah. Allahu musta’an. Semoga Allah selalu melimpahkan banyak kebaikan untuk perempuan itu, aamiin.

Menjadi yang terbaik. Kalimat terbaik tentu distigmakan sebagai sesuatu paling istimewa. Hadiah paling indah. Seseorang yang paling membanggakan. Begitu kan? Ada banyak sekali lapisan-lapisan hidup ini yang menyediakan ruang agar kita bisa memilih. Pilihan tingkat dasar, tingkat sedang, hingga tingkat terbaik. Selanjutnya kitalah yang berhak memilih ingin berada di tingkat yang mana.

Mungkin kita yang sering tak menyadari, begitu banyaknya perkara-perkara dunia yang malah lebih diistimewakan. Ketika menjadi mahasiswa, misalnya. Tentu mayoritas menginginkan berhasil lulus jadi sarjana berprestasi yang terbaik. Ketika menjadi pegawai kantoran, misalnya lagi. Tentu semua karyawan berharap bisa menjadi karyawan terbaik agar bisa dekat dengan atasan dan mendapat gaji yang tinggi. Lalu, ketika Allah perintahkan untuk menjadi hamba yang istimewa dan terbaik, mengapa kita malah menganggap hal tersebut terlalu berlebihan?

Islam adalah agama sempurna. Berbagai macam perkara hidup hingga bagian terkecil bahkan telah ditulis dalilnya secara lengkap beserta penyelesaiannya. Tak ada yang perlu diragukan hingga sampai hati kita menganggap saudara-saudara kita yang tengah menjalankan syariat disebut berlebihan.

Allah SWT berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْالَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ [الأعراف/]
“Kalau seandainya penduduk-penduduk negeri tersebut mau beriman dan bertaqwa kepada Allah maka pasti Kami akan bukakan untuk mereka pintu-pintu barakah dari langit dan bumi”. (Q.S Al-A’raf: 96)

Dalam tafsir ibnu katsir disebutkan, makna ayat ini yaitu hati mereka beriman kepada apa yang disampaikan oleh rasul-rasul, membenarkannya, mengikutinya, dan bertakwa dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

MasyaaAllah. Betapa banyaknya keberkahan yang akan Allah turunkan dari pintu-pintu langit jika kita mau berusaha untuk senantiasa taat. Untuk senantiasa menjalani agama yang sempurna ini dengan kaffah. Bukankah Allah SWT telah berkata Sami’na wa atho’na? Kami dengar dan kami taat. Memanglah tak ada seorangpun yang telah sempurna keimanannya di dunia ini. Namun, setidaknya kita mau untuk terus berusaha menjalani seluruh perintah Allah dan meninggalkan apa-apa yang dilarangNya.

Berusaha untuk taat memang butuh proses. Tapi, itu tak akan berjalan jika kita terus meyakini kata orang-orang bahwa proses tersebut adalah sesuatu yang berlebihan. Wallahu a’lam. Semoga kita bisa menjadi hambaNya yang selalu mau taat dan ingin belajar menjadi lebih baik.

Palembang, Sya’ban 1439H.