Refleksi Isra’ Mi’raj dan Keimanan Abu Bakar

0
18
peristiwa isra' mi'raj

Rajab, satu dari empat bulan haram, bulan yang diistimewakan Allah dengan dilipatgandakan kebaikan dan juga pelarangan melakukan kedzaliman. Karena dosa yang dilakukan pada bulan haram pun akan dilipatgandakan.

Banyak peristiwa besar yang terjadi di bulan Rajab, mulai dari isra’ mi’raj, momen pertemuan pertama Nabi SAW dengan kaum Anshar, peralihan kiblat kaum muslimin hingga perang melawan kaum kafir pun terjadi saat itu.

Di penghujung Rajab, Rasulullah menerima “paket tour” spesial dari Allah swt berupa perjalan semalam. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dari Baitul Maqdis menuju langit ke tujuh bertemu dengan Allah SWT, menerima perintah shalat.

Isra’ dan Mi’raj sungguh peristiwa yang berada di luar batas logika manusia. Sepintar apapun ia, tidak akan mampu begitu saja menerima keajaiban perjalanan Rasulullah SAW begitu saja tanpa adanya keimanan. Tidak heran jika pagi harinya, ketika Rasulullah mengabarkan kepada penduduk Quraisy mengenai kejadian semalam, banyak dari mereka yang mencemooh, tidak percaya bahkan murtad.

Musyrikin Quraisy bahagia bukan kepalang karena menemukan celah untuk menyerang dakwah Rasulullah. Lalu beberapa dari mereka datang kepada Abu Bakar.

“Bagaimana pendapatmu  tentang sahabatmu, wahai Abu Bakar? Ia mengaku pada malam hari pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana, kemudian pulang lagi ke Makkah!”

“Apakah kalian tidak mempercayai ceritanya?” tanya Abu Bakar.

Orang-orang itu menjawab bahwa mereka tidak percaya dengan bualan tentang isra’ apalagi mi’raj. Namun jawaban Abu Bakar membuat mereka terdiam. “Demi Allah, jika itu yang ia katakan, sesungguhnya ia berkata benar!”

Masya Allah, tidak ada keraguan setitik pun dalam diri Abu Bakar mendengar cerita orang Quraisy. Hingga ia pun berjalan menemui Rasulullah saw dan menanyakan tentang ciri Baitul Maqdis. Setiap kali Rasulullah saw menjawab pertanyaan Abu Bakar, ia berkata, “Engkau berkata benar, Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Abu bakar, sejak saat itu diberi gelar AshShidiq, orang yang membenarkan. Setidak masuk akalnya suatu peristiwa, ia menjadi orang terdepan untuk berkata, “Engkau benar ya Rasulullah SAW.”

Pada perjanjian Hudaibiyah pun, di saat banyak kaum muslimin tidak puas dengan isi yang menyudutkan posisi mereka, Abu Bakar adalah orang yang juga percaya tanpa sebutir biji keraguan di hatinya.

Di bulan Rajab ini, ketika kita kembali mengingat tentang peristiwa isra’ mi’raj, marilah kita teladani sosok Abu Bakar, sang pembenar. Terlebih, di era pemikiran liberal yang sering mempertanyakan syariat Allah dan meragukan sunah Rasulullah, sikap keteguhan iman Abu Bakar adalah yang kita butuhkan. Hingga tidak ada lagi perdebatan cadar dan konde, adzan dan kidung, pemimpin kafir tapi jujur, LGBT adalah fitrah, bahkan semua agama sama perlu kita hempaskan jauh-jauh dari pikiran kita. Jika Abu Bakar hidup di jaman ini, mungkin ia akan berkata, “Itu salah, yang benar adalah apa yang berasal dari Allah dan Rasulullah.”

(‘Aqilah Rasyidah)