Menjadi Pewaris Para Nabi

0
58
santri gontor

Menjadi Pewaris Para Nabi

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

Tak ada manusia yang kekal di dunia ini. Setiap yang bernyawa, pastilah akan meninggalkan dunia fana yang ditinggalinya. Karena, kita semua percaya bahwasanya kepada Allah kita akan kembali setelah melakukan perjalanan panjang di dunia.

Setiap kali ada yang meninggalkan dunia ini, segala sesuatu yang menjadi miliknya di dunia pastilah akan ditinggalkan. Tak ada satupun yang dia bawa ke akhirat kecuali amal sholihnya. Dan tentu saja 3 hal yang tak bisa terputus sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.  3 hal itu adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholih yang senantiasa mendoakannya.

Apa-apa yang ditinggalkan oleh manusia ketika meninggal, sering kita sebut dengan warisan. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan sedikit kata tentang apa yang diwariskan oleh para Nabi ketika meninggal.

Seperti halnya manusia yang lainnya, Para Nabi juga meninggal dan kembali pada penciptanya. Dan perlu kita ketahui, bahwasanya ketika mereka meninggal bukanlah harta yang mereka tinggalkan. Mereka meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi ummatnya. Sehingga, setelah mereka tak ada di dunia ini, ummatnya tak akan tersesat dengan bujuk rayu setan.

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah; Nabi terakhir yang Allah utus kepada manusia dalam sabdanya,

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”

(Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

Dalam hadits di atas telah dijelaskan bahwasanya Para ulama (orang-orang yang berilmu adalah pewaris para Nabi). Ya, meskipun mereka tak punya hubungan nasab/keturunan secara langsung dengan Rasulullah ataupun para Nabi sebelumnya, namun mereka tetap menjadi pewaris para Nabi. Karena mereka mewarisi ilmu dan perjuangan para Nabi dan Rasul untuk menegakkan kalimatullah di muka bumi ini.

Memang benar, bahwasanya para Nabi dan Rasul tidaklah mewariskan harta berupa dinar dan dirham. Namun apa yang ditinggalkan berupa ilmu dan syariat ini lebih bermakna daripada dunia dan seisinya. Dan itu lebih bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat. Karena, syariat itu ada untuk menjadikan hidup kita teratur dan baik di dunia serta akhirat kelak.

Dan para pewaris Nabi ini akanlah selalu ada sampai hari kiamat kelak. Bahkan, setiap 100 tahun Allah akan memunculakn dari ummat ini orang-orang yang akan memperbarui agama ini sebagaimana asalnya ketika diturunkan syariat ini. Meskipun banyak orang telah mengubah dan mencampuri syariat dengan hal-hal yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Mereka akan memperbarui agama ini dan membebaskan syariat sehingga menjadi murni kembali.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini,

“ Sesungguhnya Allah akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama umat ini.” (HR. Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1874)

Dari hal ini, dapat kita simpulkan bahwasanya Allah akan selalu menjaga kemurnian syariat Islam dengan mengutus para pewaris Nabi yang akan senantiasa menjaga Syariat-Nya dengan sungguh-sungguh meneruskan perjuangan para Nabi memberikan nasihat dan peringatan pada Manusia agar selalu berada dalam lurus jalan-Nya.

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah mengatakan: “Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Apabila muncul, manusia akan diterangi jalannya dan bila gelap manusia akan mengalami kebingungan.” (Tadzkiratus Sami’, hal 34)

Semoga, kita bisa menjadi para pewaris Nabi yang bisa meneruskan perjuangan dalam menegakkan kalimatullah di muka bumi ini, serta membimbing Manusia kembali ke Jalan-Nya yang lurus.

***

Jakarta, 29 April 2018