Cinta Palsu, Lantang di Lisan Sepi di Kalbu

0
100
cinta nabi muhammad

Ada yang mencinta sepenuh jiwa dan raga. Lisan menyatakan, hati merasakan dan raga membuktikan. Memberikan segala kasih dan sayang, perhatian, pengorbanan dan pembelaan. Bahkan sampai melebihi kecintaan pada diri sendiri. Itulah cinta sejati milik para sahabat kepada Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun diantara ummatnya, ada yang menyatakan cinta namun tingkatnya hanya sebatas lisan belaka. Berbunga dalam kata, tapi kering dalam rasa dan karsa. Indah didengar telinga, tanpa bukti yang nyata. Ribuan sholawat dilantunkan, selaksa pujian diucapkan, tapi raga menyelisihi karena perbuatanya justru bertolak belakang dari tuntunan dari sang nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam.

Cinta sejati akan membuat hati ingin mengenal, dekat dan bersama. Atau merindu jika yang dicinta jauh di mata. Tapi cinta palsu tak merasakan hal itu. Banyak yang menyatakan cinta kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam, tapi enggan mempelajari sirohnya. jangankan pertanyaan detail tentang bagaimana fisik Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana sikap-sikap beliau saat menghadapi masalah, mengenai hal-hal sederhana tentang siapa saja nama anak-anak Nabi pun barangkali sulit dijawab.

Tak kenal maka tak sayang, katanya. Aneh jika ada yang mengaku cinta tapi malas untuk mengenal orang yang dicinta. Tak mau kenal tandanya tak cinta. Dan bagaimana pula bisa meneladani, jika kenal saja tak sudi?

Allah Subhanahu wa T’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri telada yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)

Cinta sejati kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam akan membuat jiwa dan raga memuliakan, mengutamakan beliau dari semua manusia. Tapi cinta yang palsu adalah cinta yang khianat. Mengaku cinta Nabi, tapi seenaknya menyingkirkan sabda dan sunnah Nabi dan lebih menuruti omong kosong para filusuf, tokoh sufi, tokoh-tokoh masa kini bahkan lebih mendahuluhkan kata hati dari sabda Nabi.

Oleh : Taufik Anwar [Ar-risalah]