Semua Sudah Dituliskan, Maukah Kita Menjemputnya?

0
94
semut

Semua Sudah Dituliskan, Maukah Kita Menjemputnya?
Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

Seekor semut, dengan langkah kecilnya tak lelah berjalan. Menyusuri dedaunan kering yang berserakan. Melalui celah-celah dedaunan kering itu, ia terus melangkah menyusuri luasnya dunia ini. Dengan tanpa lelah, ia mencari rizki yang telah dijanjikan oleh Allah; Pencipta segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Sudah janji Allah, bahwasanya semua yang ada di muka bumi, entah itu manusia, hewan yang terbang di udara, maupun hewan yang melata di muka bumi, semuanya akan diberi rizki oleh Allah Yang Maha Memberi. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang luput dari rizki yang Allah berikan.

Bahkan, tiada seorang pun yang mampu memberikan rizki kecuali hanya Allah. Dalam sebuah ayat, Allah menegaskan,
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rizkinya.”
(QS 11 Huud ; 6)

Menerangkan ayat ini, Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di dalam tafsirnya Taisiirul Kariimirrohman fii tafsiiri kalaamil mannaan berkata, “Yang dimaksud dengan kata daabbah dalam ayat ini adalah segala sesuatu yang berjalan di muka bumi; manusia, hewan yang ada di darat, maupun hewan yang ada di laut. Maka sungguh, Allahlah yang menanggung semua rizki dan apa yang mereka butuhkan. Semua rizkinya, hanya dari Allah.”
(Taisiirul Kariimirrohman fii tafsiiri kalaamil mannaan, Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di. Hal 499)

Sudah jelas, itu merupakan sunnatullah yang ada di bumi, bahwasanya semua yang ada di dunia ini, hanya Allahlah yang memberi mereka rizki. Namun, perlulah kita ingat juga tidaklah semua yang ada di bumi akan mendapatkan rizki secara tiba-tiba dari langit. Makhluk-makhluk di bumi ini haruslah berusaha untuk menjemput rizki itu.

Sebagaimana seekor semut tadi, ia akan terus berjalan dengan ribuan langkah kecilnya untuk mencari karunia dari Allah. Setelah ia mendapatkan makanan, maka tidaklah dengan rakus ia menghabiskan apa yang didapatnya. Dibawalah makanan tersebut ke sarangnya untuk dinikmati bersama dengan kawanannya. Jikalau tak mampu membawanya seorang diri, maka ia akan kembali bersama teman-teman sekawanannya mengangkat makanan tersebut.

Tak hanya semut, semua makhluk ciptaan-Nya pastilah selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari karunia dari-Nya.

Rasulullah juga peenah memberikan sebuah permisalan dalam menjemput rizki, dalam sebuah hadits disebutkan,
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”
(HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam hadits di atas semakin jelas bahwa setiap dari kita haruslah belajar dari makhluk-makhluk kecil ciptaan Allah lainnya, bahwa Allah sudah memberikan kita rizki. Yang jadi masalah adalah, “Apakah kita mau berusaha untuk menjemputnya?”

Mari kita renungkan. ^^

***
Jakarta, 23 Februari 2018