Hukum Mengiyakan Permintaan Cerai dari Istri

0
2248
khulu

Dalam berumah tangga, ada kalanya sepasang suami istri mengalami ketidakharmonisan dan terjadilah pertengkaran diantara keduanya.

Ketika bertengkar, mungkin saja seorang istri membuat suatu permintaan yang sangat membahayakan kelangsungan rumah tangga. Misalnya si istri mengucapkan kalimat, “Ceraikan aku!”.  Karena sudah kesal dan pertengkaran sudah mencapai klimaknya, sang suamipun keceplosan dengan menjawab, “IYA” atas permintaan cerai dari istrinya itu.

Padahal bisa jadi mereka berdua akan akur kembali setelah bertengkar. Maka hati-hatilah menjaga lisan. Jangan sampai kata-kata yang terucap berakibat fatal.

Menanggapi jawaban sang suami yang mengiyakan permintaan cerai dari istrinya seperti cerita tersebut, apakah kalimat “IYA” dari sang suami mengakibatkan perceraian? Apakah telah jatuh talak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebelumnya perlu diketahui bahwa lafadz talak terdiri dari 2 bentuk lafadz :

  1. Lafadz talak Sharih (eksplisit/tegas)

Menurut Syaikh Sayid Sabiq rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul Fiqh Sunah, disebut talak sharih jika sudah bisa dipahami maknanya dari ucapan yang disampaikan pelaku. Atau dengan kata lain, lafadz talak sharih adalah lafadz talak yang maknanya adalah perceraian.

Dalam hal ini Imam as-Syafi’i berkata, “Lafadz talak yang sharih intinya ada tiga yaitu: talak (arab: الطلاق), pisah (arab: الفراق), dan lepas (arab: السراح). Dan tiga lafadz ini yg disebutkan dalam Alquran.” (Fiqh Sunah, 2/253).

2. Lafadz talak Kinayah (implisit/tidak tegas)

Syaikh Sayid Sabiq rahimahullah mengatakan bahwa lafadz talak kinayah (tidak tegas) adalah lafadz yang mengandung kemungkinan makna talak dan bukan talak. Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana.., jangan pulang sekalian.

Lebih lanjut beliau berkata, “Kalimat talak yang tegas statusnya sah tanpa melihat niat yang menjelaskan apa keinginan pelaku. Mengingat makna kalimat itu sangat terang dan jelas.” (Fiqh Sunah, 2/254)

Untuk cerita di atas termasuk talak sharih atau talak kinayah?

ceraiDalam mazhab Syafi’i terdapat dua pendapat, sebagian menganggap talak sharih, dan sebagian lagi menganggap talak kinayah.

Yang menganggap talak sharih sebagaimana disampaikan oleh Imam Nawawi dalam kitab Minhaj Al-Tolibin :

ولو قيل له استخبارا أطلقتها فقال نعم فإقرار، فإن قال أردت ماضيا وراجعت صدق بيمينه، وإن قيل ذلك التماسا لإنشاء فقال نعم فصريح وقيل كناية .

Artinya: Apabila ditanyakan pada suami “Apakah kamu menceraikan istrimu” Suami menjawab, “Iya” maka itu dianggap ikrar (pengakuan). Apabila suami berkata, “Maksud saya itu dulu, dan sekarang sudah rujuk” maka ucapan suami dibenarkan dengan sumpah. Apabila hal itu dikatakan pada suami untuk kepastian, lalu suami menjawab, “Iya” maka hukumnya menjadi talak sharih, menurut pendapat lain dianggap talak kinayah.

Disebut sebagai talak kinayah seperti yang diungkapkan oleh Khatib Al-Syarbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj hal. 4/528. Beliau berkata :

( وقيل ) هو ( كناية ) يحتاج لنية لأن نعم ليست معدودة من صرائح الطلاق

Artinya: Ucapan “Iya” dianggap talak kinayah yang membutuhkan niat karena “iya” tidak dianggap talak sharih.

Sedangkan menurut mazhab Hanafi, jawaban sang suami yang mengiyakan permintaan talak dari sang istri tidak menimbulkan talak. Imam Ibnul Hammam dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah 8/138 menyatakan :

ولو قاله ـ أي : نعم ـ في جواب طلقني لا تطلق وإن نوى، ولو قيل له ألست طلقتها فقال ( بلى ) طلقت أو (نعم ) لا تطلق والذي ينبغي عدم الفرق فإن أهل العرف لا يفرقون بل يفهمون منهما إيجاب المنفي

Artinya: Kalau suami mengatakan “Iya” sebagai jawaban dari (permintaan istri) “Ceraikan saya!”, maka tidak terjadi talak walaupun suami berniat talak. Apabila ditanyakan pada suami, “Bukankah kamu sudah menceraikan istrimu?” Lalu suami menjawab, “Iya, aku telah menceraikannya”, tidak terjadi talak karena para ahli tradisi (bahasa) tidak menganggap berpisah; mereka memahami ucapan itu sebagai menjawab pertanyaan negatif (nafi).

Wallahu a’lam bishowwab.