Merindukan Surga di Dunia

0
282
rumahku surgaku

Baity Jannati… Tentu itu kata yang tidak asing, bukan? Ya, rumahku adalah surgaku. Baru sekarang aku begitu merasakan makna dari kata tersebut. Ketika sudah tinggal di tempat rantau, ketika berada di daerah orang, ketika sudah tidak tinggal bersama keluarga tercinta lagi.

Rindu… Suasana rumah yang di dalamnya memberikan kedamaian lahir maupun batin. Ketika hidup di tanah rantau, baru bisa menyadari arti dari kebersamaan yang teramat sangat mahal harganya. Kebersamaan yang hanya bisa dirasakan sewaktu hanya sedang berada di dalam rumah.

Surga, adalah kata yang bilamana kita mendengarnya saja sudah bisa membayangkan kenikmatan dan kebahagiaan di dalamnya. Begitu pula dengan rumah, canda tawa dan tangis bahagia pernah dirasakan di sana. Kedamaian sangat terasa hingga tidak ada waktu yang paling berharga selain ketika tengah bersama anggota keluarga. Bahkan uangpun tidak lebih berharga dibandingkan dengan meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga.

Merantau yang jauh dari keluarga harus rela meninggalkan surganya di dunia demi sebuah proses menggapai cita-cita, walaupun jalannya seolah melewati neraka. Ya, ketika kita jauh dari keluarga, mungkin di saat itulah baru benar-benar menyadari bahwa rumah kita adalah tempat yang di dalamnya terdapat banyak penghidupan dan pelajaran. Ketika sudah di tanah rantau, baru menyadari arti dari setiap omelan yang pernah ibu lontarkan. Saat jauh dari ibunda, benar-benar bisa mempraktikan segala yang pernah ibu ajarkan.

Sedih… Bila mengingat bagaimana indahnya kehidupan di dalam surga dunia yang tidak lain adalah sebuah rumah sederhana dan penuh pesona. Walau rumah itu tidak semegah istana atau tidak semewah hotel bintang lima, melainkan hanya rumah sesederhana gubuk semata, tapi surga yang satu ini memang beda dari segala kemegahannya.

rumah sederhanaKesederhanaan membawa kebahagiaan, itu benar adanya. Rindu lantunan penggorengan ibu di pagi buta. Rindu tangisan adik di malam gulita. Rindu waktu makan bersama kita.
Rindu pula dongeng pengantar tidur yang selalu didendangkan sang ayah.

Jauh dari rumah, yang ada saat ini hanyalah kenangan semata. Kenangan indah yang jika mengingatnya mampu menguras air mata walau hanya sekejap. Jika biasanya ada yang selalu membangunkan, jika biasanya ada yang selalu memasakkan, jika biasanya ada yang selalu mempersiapkan, jika biasanya selalu ada sandaran. Kini, ketika kita di tanah rantau, barulah kita menyadari bahwa di dunia ini tidak ada lagi surga seperti rumah kita.

Tidak ada lagi tangan-tangan halus yang membangunkan. Tidak ada lagi sosok yang setia memasakkan. Tidak ada lagi persiapan yang siap digunakan dan tidak ada lagi pundak untuk sandaran atau nasihat yang selalu mengingatkan. Yang ada hanyalah kemandirian.
Mau tidak mau harus bangun sendiri, memasak di pagi hari, harus berdikari, dan mau tidak mau memang harus dijalani.

Jika sebuah rumah diibaratkan surga, apakah tanah rantau harus diibaratkan neraka? Tentu tidak. Ketika kita bisa beradaptasi dengan orang yang berbeda-beda suku dan budaya, harus bisa memahami setiap bahasa, dan harus bisa menghargai perbedaan agar bisa tetap bersama. Namun, di tempat yang jauh dari rumah, kini kita bisa merasakan bagaimana rasanya merindukan. Rindu yang teramat dalam, bahkan lebih dalam dari palung di lautan. Rindu akan surga di dunia, rumah kita.

Ditulis Oleh: Jamilah Milah