Fenomena Rumah Akhir Zaman

0
1003
rumah megah

FENOMENA RUMAH AKHIR ZAMAN

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (Terjemah QS. At-Takasur: 1-2)

Sebuah ilustrasi menggambarkan kehidupan seorang lelaki tua. Ia menyesali masa tuanya yang hanya berteman dengan sepi. Ia seorang pemilik rumah mewah yang mentereng di kasawan elit ibu kota.

“Sungguh, ambisiku di masa muda telah kuhabiskan untuk mengejar dunia, dunia, dan dunia. Hingga aku lalai bahwa semua itu akan kutinggalkan. Bahkan, sebelum kutinggalkan, mereka telah meninggalkanku,” ucapnya lirih penuh penyesalan.

Bagaimana tidak? Rumah mewah mentereng itu kini hanya dihuni oleh dirinya seorang.  Ada pembantunya, seorang satpam, dan supir pribadinya, namun mereka bukan keluarganya. Ia menjalani sisa  masa tua yang getir seorang diri. Terkurung dalam rumah yang ia impikan sejak muda dan terperangkap dalam kesunyian di dalamnya. Kedua anaknya tidak jauh berbeda seperti ia ketika muda. Sibuk, sangat sibuk! Terlebih keduanya tinggal jauh di luar negeri. Istrinya, satu-satunya teman hidup yang ia miliki telah lebih dulu meninggalkannya setahun lalu. Tinggallah ia bersama rumah impiannya dulu, yang kini menjadi mimpi buruk bagi akhir hidupnya.

interirorRumah adalah salah satu perhiasan dunia yang dibuat nampak indah dalam pandangan manusia. Ia menjadi sebuah simbol seseorang disebut ‘berada’, hingga kita lalai akan eksistensi dari rumah itu sendiri. Rumah sebagai tempat tinggal, tempat berteduh dan berlindung, namun kini fungsi keberadaannya mulai berubah.

Berubah seiring berjalannya waktu mengantarkannya pada fenomena akhir zaman. Perlahan menghilangkan fungsi rumah itu, lalu berubah menjadi suatu kompetisi, persaingan, dan perlombaan. Dijadikan nilai harga diri yang berlevel, berkelas dan bergengsi, hingga manusia lupa diri akan sebuah nilai dalam rumah itu. Terpusat pada nilai angka dan nominal sebuah rumah yang  mengedepankan kelebihannya, bukan pada kecukupannya.

Lihatlah, betapa banyak rumah-rumah membesar, sedangkan penghuninya hanya beberapa orang. Setiap sudutnya terkesan membangun kemubadziran. Bahkan penghuninya pun tak sempat menikmati setiap bangunannya, karena kebutuhannya sudah tercukupi dari beberapa petak ruangan saja. Inilah fenomena di masa kini.

Ingatlah sebelum lalai! Keberkahan rumah itu bukan dirasakan dari besar kecil ukurannya, dan tidak pula dari mewah tidaknya sebuah rumah. Keberkahan itu dari rasa qonaah (merasa cukup) yang ada pada hati para penghuninya.

Rumah hanyalah bangunan yang ditinggali, bukan bangunan yang untuk dipamerkan. Maka, kenyamanannya ada pada rasa syukur. Bersyukurlah, dan syukurilah rumah yang kita tinggali kini dengan rasa cukup, niscaya kita akan merasakan nyaman di rumah kita.

Kita tidak perlu memaksakan diri untuk memiliki rumah dengan cara-cara yang dilarang agama. Impikanlah, dan bermimpilah terlebih dahulu mengunjungi rumah Allah (Baitullah), baru kemudian mengunjungi rumah tempat tinggal di dunia. Dengan memohon pertolongan Allah –insya Allah— kita akan dimudahkan memiliki rumah dengan tenang penuh keridhaan-Nya, bukan dengan ambisi penuh ketergesaan.

Makmurkanlah rumah itu dengan mencari keberkahan di dalamnya. Bagaimana caranya? Hidupkan cahaya rumah dengan memperbanyak shalat dan membaca Al-Qur’an, hingga rumah nampak teduh, jauh dari istilah rumah seperti kuburan yang terkesan angker. Senanglah menyambut tamu dan sering-seringlah mengajak sanak saudara mengunjungi rumah kita. Karena sungguh, rumah yang didatangi tamu itu membawa keberkahan bagi penghuninya.

Jika Allah memberi kelebihan rumah –entah jumlah atau ukurannya—, wakafkanlah karena Allah Ta’ala agar menjadi amal yang terus mengalir. Apabila kita memiliki ukuran rumah yang cukup besar, maka kita bisa mewakafkan sebagian rumah kita sebagai tempat singgah para musafir, atau tempat pengajian majelit ta’lim dan taman pendidikan Al-Qur’an.

Marilah mengembalikan fungsi rumah kita. Rumah bukan sekedar untuk berbangga diri, atau untuk memamerkan kekayaan hingga disebut sebagai orang yang berada karena ia memiliki rumah yang besar. Kembalikan rumah kita sebagai tempat tinggal yang penuh cinta dan keberkahan.

Ditulis Oleh Laila Husna