Hukum Mengeraskan Suara Dzikir Setelah Shalat

0
214
dzikir

wahidnews.com – Di banyak masjid dan mushola, masalah membaca dzikir setelah shalat dengan suara keras atau suara pelan masih menjadi sebab renggangnya ukhuwah. Tidak jarang pihak yang membaca dzikir dengan suara pelan menuduh dzikir dengan suara keras sebagai perbuatan bid’ah. Sebaliknya, pihak yang membaca dzikir dengan suara keras menganggap dzikir dengan suara pelan menyelisihi tuntunan Nabi ﷺ.

Padahal sebenarnya masalah ini adalah masalah ijtihadiyah. Perbedaan pendapat dalam masalah ini sudah terjadi sejak zaman salaf.

SUNAH MENGERASKAN DZIKIR

Sebagian ulama fikih menyatakan hukum mengeraskan bacaan dzikir setelah shalat wajib adalah sunnah. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Jarir AthThabari, Ibnu Hazm Azh-Zhahiri, para ulama madzhab Hambali, dan madzhab Zhahiri.

Pendapat ini didasarkan kepada beberapa hadits shahih. Di antaranya hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu bahwasanya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang selesai mengerjakan shalat wajib adalah hal yang telah dilakukan di masa Nabi ﷺ. Ibnu Abbas radhiallahu’anhu juga berkata, “Saya mengetahui hal itu saat mereka selesai mengerjakan shalat wajib, sebab saya mendengar suara keras mereka.” (HR. Bukhari no. 841 dan Muslim no. 583)

Dalam riwayat lainnya, Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan, “Saya mengetahui selesainya shalat Nabi ﷺ dengan adanya suara takbir (dengan suara yang keras).” (HR. Bukhari no. 842 dan Muslim no. 583)
Juga berdasar hadits dari Mughirah bin Syu’bah radhiallahu’anhu bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ selesai shalat membaca dzikir Laa Ilaaha Illa Allahu wahdahu laa syarika lahu, lahu almulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir… “(HR. Bukhari dan Muslim no. 593)

Saat menjelaskan hadits Ibnu Abbas di atas, An-Nawawi berkata, “Ini merupakan dalil bagi pendapat sebagian salaf bahwasanya disunahkan mengeraskan bacaan takbir dan dzikir setelah shalat wajib. Di antara ulama mutaakhirin yang menyatakan sunah adalah Ibnu Hazm Az-Zhahiri.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, V/71)

SUNAH DZIKIR DENGAN SUARA LIRIH

Adapun mayoritas ulama fikih berpendapat hal yang disunnahkan adalah membaca dzikir setelah shalat dengan suara pelan. Pendapat ini dipegangi oleh para ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i.

Pendapat mereka didasarkan kepada beberapa alasan. Pertama, keumuman firman Allahوَتَعَالَى

سُبْحَانَهُ ,, “Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan sore…” (QS. Al-A’raf [7]: 205)

Dan firman-Nya, “Berdoalah kepada Rabb kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut (lirih, tidak keras)! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 55)

Kedua, hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari a, ia berkata, “Kami bersama Nabi ﷺ dalam sebuah perjalanan. Jika kami mendaki tempat yang tinggi, kami membaca tahlil dan takbir dengan suara yang keras. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Wahai manusia, berlaku lemah lembutlah kepada diri kalian sendiri. Sebab kalian tidak berdoa kepada Tuhan yang tuli lagi jauh. Sesungguhnya Ia menyertai kalian, Ia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (HR. Bukhari no. 2992 dan Muslim no. 2704)

Ketiga, mayoritas riwayat hadits dari para sahabat tidak menunjukkan Rasulullah ﷺ mengeraskan suara dzikir secara rutin atau terus-menerus setiap kali selesai shalat wajib. Beliau melakukannya hanya dalam hadits Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan Mughirah semata. Hal itu mengindikasikan bahwa Rasulullah ﷺ lebih sering membaca dzikir dengan suara lirih.

Imam Asy-Syafi’i menjelaskan bahwa Nabi ﷺ kadang-kadang mengeraskan bacaan dzikir sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair, agar masyarakat mempelajarinya dari beliau. Namun bukan berarti beliau n dan para sahabat terusmenerus membaca dzikir dengan suara keras. Sebab, mayoritas riwayat hadits tidak menyebutkan dzikir secara keras. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, II/414 dan Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, III/451)

An-Nawawi berkata, “Ibnu Bathal dan para ulama lainnya menyatakan bahwasanya para ulama pendiri madzhab-madzhab yang diikuti dan ulama lainnya bersepakat atas tidak disunnahkannya mengeraskan suara saat berdzikir dan bertakbir.” (Syarh AnNawawi ‘ala Shahih Muslim, V/71)

Beliau juga berkata, “Demikian pula para ulama kami (Syafi’iyah) mengatakan bahwa dzikir dan doa setelah shalat disunnahkan untuk dibaca secara lirih. Kecuali jika ia adalah seorang imam yang ingin mengajarkan tata cara dzikir kepada masyarakat, maka ia hendaknya membacanya dengan keras agar masyarakat bisa mempelajarinya. Jika mereka telah mempelajarinya dan mereka telah memahaminya, maka hendaklah imam kembali membacanya dengan suara lirih.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, III/451)

KESIMPULAN

Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pendapat di atas adalah bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdzikir dengan suara keras dan suara lirih. Maka kedua cara tersebut boleh dilakukan dan tidak perlu dipertentangkan. Wallahu a’lam. [Source : hujjah]