Pudarnya Iman Dalam Hati

0
257
iman

Pudarnya Iman Dalam Hati
Oleh: Aannisah Fauzaania

Sahabat, bila tak kautemukan lagi nikmatnya bercengkrama dengan Allah dalam shalat, bila tak kautemukan lagi nikmatnya bermunajat, bila tak tergugah lagi sanubarimu kala mendengar kematian, bila tak kaurasakan lagi nikmatnya bersyukur, maka mari menunduk kembali, merenungi apa yang telah terlewati di hari-hari. Astaghfirullahal ‘adzim. Jangan-jangan ada pendar yang telah hilang dalam hati kita, ada hidayah Allah yang telah terhapus dari ruangnya, dan iman yang tak cukup lagi pada porsinya.

Sahabat, tak terbayangkan bagaimana jadinya kala Allah cabut sedikit demi sedikit iman tersebut dalam diri kita. Bukan Allah tak sedih, tetapi diri kitalah yang menganggap remeh ketika berbuat maksiat kecil. Diri kitalah yang menjadi buta dan tuli sekejap ketika mengabaikan perintah-Nya. Sehingga tak terasa lagi kala lapisan iman telah semakin menipis dari yang sebelumnya penuh berlapis.

Benarkah ia telah menjadi semakin pudar? Jika ingin melihat tanda-tandanya, sahabat, manakala hati kita telah berubah menjadi beku, tak pernah lagi menangis merenungi dosa-dosa, tak ingin lagi berlama-lama dalam sujud pada-Nya, tak lagi punya waktu untuk melantunkan ayat-ayat suci-Nya . Maka diantara pilihan-pilihan tersebut kita baru dapat menyadari ada sesuatu yang berkurang dalam diri. Jika kemudian semakin jauh, tentulah tak akan lagi ada artinya jasad ini di hadapan Rabb. Bukankah bagimu Allah bukan lagi jadi yang utama?

Lalu, bagaimana agar iman kita tetap bisa terus meningkat? Berikut ini terdapat beberapa ulasan mengenai usaha yang dapat kita lakukan.

Pertama, memohon kepada Allah SWT agar ditambahkan lagi iman kita. Sungguh, Allah Maha pemilik hidayah. Ia yang menentukan hamba mana yang akan dipilih untuk diberikan hadiah yang penuh nikmat berupa iman dalam diri. Maka jika kita tak ingin iman dalam diri terus memudar, memohonlah kembali kepada Allah. Perbanyak bersujud dan munajat pada-Nya, wujudkan perkataan kita yang menyatakan cinta pada-Nya dengan pembuktian dalam perbuatan.

Diriwayatkan dari Imam Al Hakim dalam Mustadrak, dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya iman itu diciptakan di jauf (hati) salah seorang dari kalian sebagaimana diciptakannya baju. Karena itu, memohonlah kepada Allah agar memperbaharui iman di hati kalian. ”

pudarnya iman karena jarang kumpul dengan orang sholehKedua, banyak berkumpul dengan orang-orang Shalih.
Poin kedua ini telah saya yakini benar mujarabnya. Berkumpul dengan orang Shalih dalam majelis ilmu atau diskusi keagamaan senantiasa memberi semangat baru untuk terus dan tetap mengingat Allah. Kita seakan diberi penyemangat berupa saudara-saudari yang sama-sama berjalan mencari ridho Allah. Berdekat dengan mereka pun bisa mengurangi bisikan buruk untuk berbuat maksiat. Akan ada yang mengingatkan dan senantiasa membantu kita untuk tetap berada dalam aktivitas yang baik dan tak keluar dari koridorNya.

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Saudara-saudara kami lebih berharga menurut kami daripada keluarga kami. Keluarga kami mengingatkan kami tentang dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami tentang akhirat. ”

Ketiga, senantiasa mengingat mati dan waspada dari su’ul khatimah.
Kematian merupakan jodoh yang pasti akan ditemukan oleh setiap hamba-Nya. Ia datang tanpa memandang usia, situasi, maupun status seseorang. Dengan mengingat kematian, kita bisa lebih memotivasi diri untuk selalu berbuat baik dan beribadah pada-Nya. Siapalah kita di dunia ini jika tak mengharap bantuan dari Allah, sedangkan saudara kita yang lain berlomba-lomba untuk mencari perhatian Allah agar terhindar dari kematian yang buruk.

Dengan niat yang ikhlas dan lillah, semoga hati kita akan dimudahkan kembali untuk merasakan nikmat iman yang diberikan Allah begitu indah. Barakallahu fiikum saudaraku, aamiin.