26.6 C
Jakarta
Saturday, December 5, 2020
Array

Inilah Keajaiban Adzan

Must Read

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama Oleh: Bunda Atika. S.Pd (Praktisi Pendidikan di Balikpapan) Menteri Pendidikan dan...

Umumkan Kemerdekaan Papua Barat, Benny Wenda Jadi Presiden Sementara

Umumkan Kebebasan Papua Barat, Benny Wenda Jadi Kepala negara Sementara Benny Wenda, pelopor aksi kebebasan Papua, hendak didaulat jadi Kepala...

Pahami 5 Cara Kerja Uang Maka Anda Akan Menjadi Kaya Raya

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa..! Di edisi kali ini saya akan membahas tentang ‘Cara Kerja Uang’. Anda pasti...




Wahidnews.com, Jakarta – Tak hanya fenomena, lafal azan yang berisi kalimat tauhid mampu menggugah sebagian pendengarnya. Dengan suara yang merdu, jernih, dan penuh penghayatan, azan mampu memberi hikmah dan hidayah bagi sekelompok orang. Beberapa di antaranya bahkan masuk Islam karena seringnya mendengar azan. Tak hanya terbatas pada waktu dan kondisi tertentu, seseorang yang dibukakan hidayah hatinya oleh Allah bisa mendengarkan suara azan kendati berada di atas ketinggian.

Itulah yang dialami Yenni Farida. Ia justru mendengar seruan azan saat berada di atas pesawat pada ketinggian sekitar 3000-3600 kaki dari permukaan laut. Konon, Neil Armstrong pernah mendengar kalimat serupa ketika sedang berada di bulan. Namun, kebenaran Neil Armstrong ini masih banyak diperdebatkan khalayak.

Tak hanya mereka, Wahyu Soeparno Putro dan Cicha Koeswoyo akhirnya memeluk Islam karena mendengar kesyahduan dan kerinduan hatinya pada kalimat tauhid itu. Bahkan, banyak mualaf lainnya yang juga akhirnya memeluk agama Islam dari azan. Inilah keajaiban azan, kalimat tauhid, penyeru umat untuk segera melaksanakan shalat.

Namun demikian, ternyata ada sekelompok orang yang ‘rupanya kurang senang’ dengan seruan azan ini. Bahkan, tak jarang ada yang marah dan menggugat lantunan azan yang diperdengarkan dari pengeras suara yang terdapat di menara-menara masjid, mushala, atau lainnya. Mereka merasa terusik dengan lantunan tauhid tersebut. Bahkan, hanya gara-gara pengeras suara yang mereka anggap berlebihan akhirnya merusak silaturahim di antara umat.

Itulah yang pernah dikemukakan seorang menteri di Maroko yang meminta masjid-masjid di negara Muslim itu untuk mengatur waktu kumandang azan. Menurut menteri perempuan yang bernama Nazha Shaqli itu, azan yang dikumandangkan saat waktu istirahat (Subuh) mengganggu para wisatawan. Namun, permintaan itu ditolak menteri wakaf Maroko yang menyatakan bahwa hal itu merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk memanggil saudaranya agar segera mengerjakan shalat.

”Hanya orang-orang yang telah ditutup telinganya oleh Allah yang merasa terganggu. Apalagi, perbedaan waktu antara satu daerah dan daerah lain tentu tidak memungkinkan azan dikumandangkan secara bersamaan,” terang Ahmad Taufik yang menjabat sebagai menteri wakaf dan agama, Maroko.

Di Indonesia pun terjadi hal serupa. Sekelompok umat Islam yang tinggal di sekitar masjid dan mushala juga ada yang merasa terganggu dengan lantunan kalimat tauhid yang diserukan oleh muazin melalui pengeras suara di masjid dan mushala.

Sebuah buku yang ditulis berdasarkan hasil diskusi kelompok anak muda Muslim mengenai azan dengan judul Islam tanpa TOA, seolah menyindir para muazin yang melantunkan kalimat tauhid sebagai pertanda waktu shalat.

Benarkah suara azan yang dilantunkan melalui pengeras suara mengganggu istirahat warga? Bukankah sesuatu yang baik harus disampaikan dan diserukan? Kurang bijaksanakah ketika Rasulullah memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan di puncak menara untuk memanggil umat Islam agar segera shalat sehingga suaranya bisa terdengar di mana-mana?

Hanya orang-orang yang tertutup hatinya yang enggan menerima hidayah Allah. Mungkin, sangat tepat Allah berfirman bahwa mereka punya mata, namun tak pernah digunakan untuk melihat; punya telinga, namun tak mau mendengar; dan punya hati, namun hatinya telah tertutup. ”Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.” (Alfurqan ayat 44, Al-A’raf ayat 179, dan Albaqarah ayat 171). Na’udzubillah.

Semoga Allah membukakan pintu hati umat manusia sehingga lapang dada menerima firman-firman Allah. Wa Allahu A’lam. [ROL]

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama Oleh: Bunda Atika. S.Pd (Praktisi Pendidikan di Balikpapan) Menteri Pendidikan dan...

Umumkan Kemerdekaan Papua Barat, Benny Wenda Jadi Presiden Sementara

Umumkan Kebebasan Papua Barat, Benny Wenda Jadi Kepala negara Sementara Benny Wenda, pelopor aksi kebebasan Papua, hendak didaulat jadi Kepala negara sementara Republik West Papua. Perihal...

Pahami 5 Cara Kerja Uang Maka Anda Akan Menjadi Kaya Raya

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa..! Di edisi kali ini saya akan membahas tentang ‘Cara Kerja Uang’. Anda pasti senang sekali. Jadi, anda harus mengerti...

Dijemput Petugas Medis, Satu Guru Honorer Warga Ledug Banyumas Positif Covid-19

BANYUMAS – Seseorang warga Desa Ledug, Kecamatan Kembaran dijemput petugas medis. Penderita laki- laki berumur 36 tahun ini dijemput buat menjalani isolasi karena terkonfirmasi...

Murid SD Panambangan Cilongok Dibubarkan Saat Pelajaran Sedang Berlangsung

PURWOKERTO – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Panambamgan pada Senin (23/ 11) pagi masih berjalan. Sesuai instruksi Bupati Banyumas, PTM oleh sekolah- sekolah...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x