Tingkatan Manusia Dalam Ilmu Syar’i

0
227
menuntut ilmu

WahidNews.com – Perbedaan tingkatan manusia dalam suatu ilmu merupakan sunatullah yang berlaku di dunia ini. Perbedaan ini merupakan suatu hikmah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dia tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka. Selain itu juga, perbedaan ini adalah sebuah keharmonisan jika masing-masing tingkatan tersebut menyadari sepenuhnya akan kapasitas dan kedudukannya.

Secara tersirat, perbedaan tersebut telah disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. An Nahl 43]

Ayat di atas memerintahkan dan mewajibkan bagi orang yang tidak mengetahui suatu hukum syar’i untuk menanyakannya pada ulama dan mengamalkan apa yang telah mereka fatwakan kepadanya. (Muhammad Al Amin Asy Syanqithi, Adhwaa’ul Bayan, 3/9).

Dalam hal ini, setidaknya terdapat dua kelompok manusia, yaitu (1) Orang yang tidak tau suatu hukum, dan (2) orang yang menjadi tempat rujukan untuk bertanya, yaitu ulama.

Dalam istilah ushul fiqih, kelompok pertama dikenal sebagai muqallid, sementara kelompok kedua disebut sebagai mujtahid.

Namun berdasarkan realitas yang ada, sebagian ulama ushul fiqih lebih cenderung untuk membagi tingkatan manusia dalam ilmu syar’i dalam tiga kelompok yaitu : mujtahid, muttabi’, dan muqallid.

mengaji1.Mujtahid (ulama)

Mujtahid adalah seseorang yang memiliki perangkat-perangkat ijtihad dan mampu untuk menyimpulkan suatu hukum syar’i dengan langsung bersumber dari adilatul ahkam sumber primer hukum syar’i, seperti al Qur’an, sunnah, ijma’, qiyas, dan lain-lain).

Al-Jurjani berkata, “Mujtahid adalah seseorang yang mengetahui al-Qur’an beserta makna-maknanya; mengetahui sunnah dengan mengetahui jalur-jalur periwayatannya, redaksi-redaksinya (matan), dan makna-maknanya. Dia juga tepat dalam menggunakan qiyas serta memahami kebiasaan (‘urf) manusia.” [Al-Jurjani Mu’jam At-Ta’riifaat, 171].

Oleh karena itu, gelar mujtahid hanya diberikan kepada seseorang yang ahli dalam ilmu syar’i, tidak pada ilmu lainnya.

Pada dasarnya seseorang yang telah sampai pada derajat mujtahid tidak diperbolehkan untuk bertaqlid pada mujtahid lain dalam menetapkan suatu hukum syar’i. Ketentuan ini berlaku jika mujtahid telah melakukan penelitian dalam suatu masalah dan telah sampai pada hukum syar’i yang diyakininya (ghalabatuzh zhan).

Adapun jika seorang mujtahid tadi belum melakukan penelitian, atau telah melakukannya namun belum sampai pada kesimpulan hukum syar’i yang diyakininya, sementara kebutuhan terhadap hukum syar’i tersebut mendesak untuk segera diamalkan, maka -menurut pendapat yang rajih- dia diperbolehkan untuk bertanya atau bertaqlid pada mujtahid lain atau yang lebih pandai darinya.

Dan apabila kebutuhan terhadap hukum syar’i tersebut tidak mendesak untuk segera dia (mujtahid) amalkan sedang dia belum sempat untuk melakukan penelitian, atau sudah melakukannya namun belum sampai pada kesimpulan hukum yang diyakininya, maka dia tawaqquf (tidak menyimpulkan hukum untuk sementara) dan tidak diperbolehkan untuk bertaqlid.

Oleh karena itu sekiranya dia dimintai fatwa mengenai permasalahan yang belum dia ketahui hukumnya, maka dia harus mengarahkan orang yang meminta fatwa tersebut kepada mujtahid lain, atau dengan menukilkan fatwa mujtahid lain kepada si penanya, bahwa syaikh Fulan telah berfatwa begini dan begini. [‘Iyadh bin Nami As-Sulami, Ushuul Al-Fiqh alladzi Laa Yasa’u Al-Faqiih Jahluhu, 485-486].

2.Muttabi’ (Penuntut Ilmu)

Kelompok kedua ini pada dasarnya masuk dalam kategori muqallid. Akan tetapi realita menunjukkan bahwa terdapat sebagian manusia yang memang tidak memiliki perangkat-perangkat ijtihad dan tidak mampu untuk berijtihad, namun mereka mampu untuk mengetahui suatu hukum beserta dalil-dalil yang mereka dapatkan dari seorang mujtahid. Untuk itu, muttabi’ didefinisikan sebagai seseorang yang menerima pendapat seorang mujtahid beserta dalil-dalilnya.

Dalam mengambil suatu hukum syar’i, muttabi’ seharusnya memilih pendapat mujtahid yang dalil-dalil argumentasinya paling kuat dibanding dengan mujtahid lain. Jika dia tidak mampu untuk memilih pendapat yang dalilnya paling kuat, maka dia mendahulukan pendapat mujtahid yang paling pandai dan paling wara’.

Apabila tidak mengetahui siapa diantara mujtahid tersebut yang paling pandai dan paling wara’, maka dia bertanya pada orang (muttabi’) lain yang bisa mengetahui mujtahid yang paling pandai dan paling wara’.

3.Muqallid (Orang Awam)

Terakhir, kelompok ketiga adalah orang yang selain tidak memilki perangkat-perangkat ijtihad dan tidak mampu berijtihad, juga tidak mampu untuk mengetahui suatu hukum syar’i beserta dalilnya. Dari situ, muqallid didefinisikan sebagai orang yang menerima pendapat seorang mujtahid tanpa disertai dalilnya.

Kewajiban muqallid adalah bertanya kepada seorang mufti (mujtahid) mengenai suatu hukum syar’i. Muqallid diperbolehkan bertanya kepada salah seorang mufti yang dia percayai, meskipun terdapat mufti lain yang lebih pandai. Wallahu a’lam. (Ali Shodiqin – Hujjah)