Sesekali Mengingat Kematian

0
231
kematian

Apa yang sering terlintas di benak kita ketika pertama kali mendengar atau membaca kata ‘kematian‘?

Menakutkan, menyeramkan, mengerikan, menyakitkan dan berbagai kesan negatif lainnya. Padahal, ia; kematian, adalah suatu keniscayaan yang pasti dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa. Ya, sebab tak hanya manusia, hewan dan tumbuhan pun cepat atau lambat akan merasakan mati. Bedanya, mereka –hewan dan tumbuhan– mati ya mati saja. Tidak seperti kita, yang usai meninggalkan dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban semasa hidup.

Dzikrulmaut, atau mengingat kematian, adalah sesuatu yang sebaiknya sering kita lakukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad).

Mengapa demikian? Karena dengan mengingat kematian akan membuat kita sadar, bahwa kita takkan hidup selamanya di dunia ini. Dengan mengingat dan menyadari bahwa tak ada satupun manusia yang tahu kapan ia akan mati, seseorang akan menjadi lebih awas dalam menjalani hidupnya.

Kesadaran yang betul tentang hakikat kematian, serta keyakinan bahwa sejatinya akan ada kehidupan baru setelah kematian, harusnya secara otomatis akan membuat seseorang lebih bijaksana dan cerdas dalam memaknai kehidupan dunia yang sejatinya cuma sementara ini. Tua dan dalam keadaan sakit, adalah dua penyebab kematian yang sering melenakan kita yang masih hidup. Seolah-olah jika saat ini kita masih muda dan dalam keadaan sehat wal afiat, segar bugar, maka mustahil malaikat maut akan datang untuk menjemput. Padahal, syarat mati itu bukan tua atau sedang sakit kritis.

Betapa sering kita mendengar kabar, bocah yang belum juga duduk di bangku TK, sedang asyiknya bermain, tetiba berpulang ke Rahmatullah. Atau kita dikejutkan dengan berita meninggalnya teman kita yang masyaa Allah, baru seminggu lalu bersua, ngobrol, bercanda dan melakukan berbagai aktivitas bersama, tapi ternyata kini ia tinggal nama.

Hari ini, mungkin mereka jadi trending topic pembicaraan kita yang masih hidup. Entah itu di lingkungan tempat tinggal, sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas atau organisasi. Tapi siapa tahu, belum sampai 24 jam kemudian, nama kitalah yang akan menjadi bahan pemberitaan di sela-sela obrolan baik secara langsung atau mungkin sekadar via aplikasi chat.

“Nggak nyangka ya, si fulan udah nggak ada.”

“Ya Allah, baru kemarin kita ngobrol bareng. Dia bahas pengen ini itu. Kelihatan segar sekali, ehh… Hari ini….”

Dan berbagai kalimat lainnya yang menunjukkan keterkejutan, ketidakpercayaan atau apa pun istilahnya ketika mendengar kabar duka atas kematian seseorang.
Harusnya semua itu membuat kita sadar pada satu titik, bisa jadi kita adalah tuan rumah dari kunjungan Izroil selanjutnya. Apakah perbekalan kita menuju kampung akhirat sudah mencukupi?

ingatlah kematianJadi, janganlah berlebihan atau sampai anti mendengar pembahasan kematian. Rugi sekali. Pasalnya, suka tidak suka, mau tidak mau, percaya atau tidak, jika memang sudah waktunya, ajal akan tetap menemukan kita meski kita sudah bersembunyi di benteng terkokoh di dunia sekalipun.

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muhammad)”. Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun).” (QS. An-Nisa’: 78)

“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)

Perbanyaklah ilmu tentang kematian. Sering-seringlah mengingatnya agar menjadi manusia yang lebih memahami dan menghargai nilai sebuah kehidupan. Supaya kita tak sembarangan atau sampai melampaui batas dalam berbuat sesuatu.

Jangan sampai, sudah mengetahui mati adalah sebuah kepastian, kita malah pakai prinsip sesat satu ini: “Karena hidup cuma sekali, makanya harus sering-sering party, biar kita happy-happy”.

Wallahu A’lam Bisshowab.
Ditulis oleh : Newisha Alifa
Di Bumi Allah, 1 Rabi’ul Awal 1438 H