Berjilbab, Tapi Kok?

0
651
berjilbab
Berjilbab, Tapi Kok?
Oleh : Newisha Alifa
“Pakai jilbab tapi kok masih pacaran?”
“Berjilbab sih, tapi kok suka ngomongin orang?”
“Mending mana berjilbab tapi suka bohong, sama yang nggak berjilbab tapi jujur?”
Pernahkah kita mendengar atau membaca rangkaian kata-kata di atas? Boleh jadi ditujukan untuk diri kita sendiri, atau untuk orang lain.

 

Lalu bagaimana cara terbaik menyikapinya?

 

Pertama-tama perlu kita ingat, bahwa menutup aurat; berhijab atau berjilbab dengan berakhlak baik adalah dua hal yang berbeda, tapi sejatinya berkaitan.

 

Bicara hijab, berarti kita bicara cover, kemasan, packaging. Intinya tentang ‘outter’. Sedangkan akhlak sebaliknya; tentang sifat, attitude, habit, atau ‘inner’ yang seringkali tak kasat mata, namun bisa dirasakan perbedaannya. Itu mengapa, kita sering mendengar istilah ‘inner beauty’ yang artinya kecantikan dari dalam diri. Bukan sebatas kecantikan lahiriah semata. Jadi jelas kan, bahwa sebenarnya keduanya berbeda dan tidak mutlak akan saling mempengaruhi satu sama lain?

 

Nah, makanya sebaiknya kita tidak mudah menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Lihatlah segalanya lebih dekat. Ketika tampilan luarnya kelihatan baik, jangan berekspektasi terlalu tinggi, khawatir kecewa. Begitu pula sebaliknya. Jika melihat penampilan seseorang yang belum baik, bahkan cenderung buruk, janganlah langsung menghakiminya begini begitu. Siapa tahu sebenarnya di mata Allah dia lebih mulia dari kita.

 

Kembali ke masalah jilbab atau hijab dengan perangai muslimahnya yang belum baik. Kita akan membahasnya dari dua sudut pandang.

 

• Jika objeknya adalah diri sendiri (aku, saya)

 

Sebagai seorang muslimah yang telah memutuskan untuk berhijab, harusnya kita sadar bahwa kemungkinan orang lain menganggap kita lebih baik dari yang belum atau tidak berhijab, menjadi lebih besar. Di antara perkiraan awal mereka terhadap perempuan berjilbab adalah, sholatnya sudah nggak perlu diingatkan lagi, juga tepat waktu. Berbakti kepada ibu orang tua. Intinya, lebih terjaga dalam bersikap dan bertutur kata.

 

wanita berjilbabJadi ketika kita memilih untuk berhijab, urusannya nggak cuma kita sama hijab yang kita pakai saja. Tapi secara nggak langsung, kita akan menjadi ‘duta’ hijab itu sendiri. Jangan kesal atau marah kalau orang lain berharap kita bisa lebih menjaga perbuatan juga perkataan dalam kehidupan sehari-hari. Bukannya kita dituntut untuk jaim, bukan. Namun ketika kita melakukan suatu kesalahan dan kita berhijab, kemungkinan yang akan terkenang oleh orang lain bukan nama kita saja. Misalnya penilaian di bawah ini.

 

“Tuh dia aja pake jilbab, tapi tukang bohong!”
Nggak mau dong, cuma karena kesalahan yang sebenarnya bisa kita hindari, muslimah lain jadi kena imbasnya?

 

• Jika objeknya adalah orang lain (dia, mereka)

 

Kita perlu belajar memahami orang lain. Apa motivasinya berhijab? Ya, kita nggak bisa tutup matalah, bahwa masih saja ada perempuan-perempuan yang berhijabnya bukan karena sudah memahami ilmunya, tapi baru karena ikut-ikutan. Sekadar lagi nge-trend.

 

Kalau memungkinkan, kita nasehati teman-teman kita ini dengan cara yang baik:
“Fulanah, kamu yakin masih mau pacaran. Apalagi sampai pegangan tangan begitu?”
“Emang kenapa?”
“Kan kamu udah berhijab sekarang.”
Sekadar mengingatkan saja. Nggak usah memaksakan. Selebihnya, biar teman kita itu berpikir dan merenungkan semuanya sendiri.

 

Perlu diingat juga, jangan membiasakan diri untuk memukul rata sesuatu yang sejenis, hanya karena dikecewakan dengan satu sampel dari suatu ciri khas tertentu. Misalnya, karena kita punya satu teman berhijab yang hobinya berutang, terus lama bayarnya atau susah ditagihnya, jangan langsung kita berkesimpulan bahwa semua atau kebanyakan perempuan berhijab itu tukang berutang dan menyebalkan seperti itu.
Itu tak jauh berbeda misalnya, kita dikecewakan sama seseorang dari daerah bersuku X. Tidak berarti semua orang yang berasal dari suku X tersebut berperilaku sama buruknya dengan orang yang pernah mengecewakan kita. Tentunya kita juga nggak mau kan, dianggap buruk atas perbuatan buruk yang tidak kita lakukan? Bersikap bijaklah.

 

Semoga tulisan ini bisa membuat kita lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi sesuatu, agar tidak mudah terjebak dalam stigma-stigma buruk masyarakat terhadap hal-hal yang dianggap sebagai identitas seorang muslim. Aamiin.

 

Bekasi, 2 September 2016
Berjilbab, Tapi Kok?

Save

Save

Save