Teruslah Beramal Hingga Surga Kau Dapat

0
266
meraih surga

Merindukan surga | Ketika malam menjelang, maka sungguh hati ini semakin merasakan apa yang ada di balik semuanya. Angin berhembus sepoi-sepoi, dedaunan melambai-lambai, alam seakan mulai tertidur dengan malam yang semakin pekat. Tapi ada sebuah luka yang memberkas, ada kekecewaan terus melintas, bahkan mata berkaca-kaca mengingatnya. Eksistensi diri ini terusik.

Aku muslim, kaupun juga muslim. Kita sama-sama muslim, tapi kenapa mudah untuk akhirnya saling menghakimi atas apa yang sangat dhaif mengetahui kebenarannya. Siapa yang tak merindukan surga? Pasti semua menginginkan surga. Apa syarat untuk bisa mendapatkan surga? Sebagai muslim pasti dengan beragama yang baik, menjadi pemeluk agama yang baik kan sahabatku?

Islam adalah agama yang Allah berikan kepada Rasulullah Muhammad SAW dengan seperangkat aturan yang tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Pasti kau setuju kalau kamupun muslim. Bagaimana Islam mengatur urusan ibadah, makan minum, hukum syariat, muamalah, bahkan bagaimana kita harus berpakaian. Kalau kau muslim pasti juga ingin melaksanakan apa yang Allah wajibkan.

Ibadah sesuai yang disyariatkan dengan tidak mengada-ada, makan minum yang halal baik dhahir maupun bathin, hukum dan sanksi dari yang menciptakan kita, muamalah dan interaksi dalam kehidupan sesuai dengan aturan yang Allah tetapkan, berpakaian pun dengan yang Islam ajarkan. Pasti kau juga ingin mengikutinya.

Tapi, saat ini kita sebagai muslim hanya mampu melaksanakan apa yang Allah perintahkan sebatas ibadah mahdah saja, urusan ibadah langsung kepada Allah saja, tetapi belum mampu untuk melaksanakan yang lainnya, sanksi, makan minum, muamalah ataupun pakaian.

Apa iya? Iya karena ketika berbicara makan minum, maka akan sangat sulit kita temukan makanan yang benar-benar thayyib dan halal di jaman yang serba uang dan materi ini, pasti banyak beredar makanan yang diragukan kehalalannya. Hukum-hukum Allah juga diabaikan, dimana syariat Allah potong tangan, jilid, rajam dan sebagainya? Bagaimana riba begitu marak dan sudah menjadi makanan sehari-hari tanpa merasa berdosa? Perzinaan, prostitusi, pelecehan banyak terjadi, bahkan di lingkungan kita hanya karena banyak yang tak tahu bagaimana menutup aurat yang benar.

Karenanya aku berdakwah dengan ilmu yang mungkin sangat sedikit, bahkan bisa jadi kita memang tidak sempurna dan banyak khilaf. Tapi, diri ini tak sanggup menanggung dosa kelak ketika dimintai pertanggungjawaban karena berdiam atas kemungkaran dan tidak berupaya merubahnya menjadi kondisi seperti halnya Islam jelaskan dan Rasulullah contohkan. Maka inilah upaya yang mungkin hanya lisan yang mampu berucap atau tangan mampu menuliskannya demi sedikit langkah amar ma’ruf nahi munkar.

Jika kau bilang, stop! Lebih baik sibukkan perbaiki dirimu dulu. Sungguh, dalam beratnya jalan dakwah yang membutuhkan sepenuh pengorbanan tenaga, waktu, pikiran bahkan sering harus mengeluarkan biaya yang terkadang kita mengkaji tidak seperti yang kalian kaji. Kita memang mengkaji solusi praktis ataupun ideologis untuk mewujudkan Islam sebagai bukti kita menghamba Allah dan memeluk Islam dengan baik.

merindukan surgaTapi, kitapun di sela waktu memperbanyak ilmu-ilmu hadits, ilmu Qur’an, bahasa Arab dan sebagainya. Mungkin ketika terbangun di sepertiga malam, di tengah malam, di tengah hari, bahkan terkadang tertidur dalam buku genggaman. Kitapun berbenah dan sekaligus membenahi lingkungan tanpa menunggu kita baik karena manusia tiada yang baik sempurna, manusia tempat khilaf dan dosa.

Aku rindu pemimpin layaknya ketika Rasulullah SAW memimpin, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khaththab, Khallifah Utsman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib dan masih ada banyak puluhan pemimpin Islam yang tak mampu kusebutkan. Pemimpin sejati yang memikirkan umatnya, kesejahteraan dan keimanan umatnya, sehingga nyawa dilindungi, tidak ada pencurian, pemerkosaan, pelecehan, pembunuhan dan sejenisnya. Iya, kira-kira seperti itu. Bukankah saat itu surga terasa begitu dekat, ketika pemimpin kita memaksa untuk kita beriman.

Tapi….

Air mata ini meleleh, tak mampu kutahan dan kubendung, saat kau saudara muslimku bilang, kamu hanya ambisi materi dunia dan kekuasaan.

Allah, Allah, Allah. Astaghfirullah, Allahu Akbar. Diri ini terasa terhempas dari ketinggian yang bermil-mil. Sakit, terluka, kecewa, tangis yang justru semakin mengalir deras. Selama ini rela berkorban tenaga, waktu, pikiran, bahkan materi dunia hanya karena ingin kemuliaan Islam, bukan yang lainnya.

Sungguh bukan karena materi dunia dan ambisi kekuasaan. Ketika kumenginginkan dunia, maka sungguh sangat mudah untuk mendapatkannya. Bukan bermaksud takabbur, yang akhirnya menggugurkan atas  niat yang lurus, tapi aku ingin menunjukkan kepadamu saudaraku.

Kamu saudara muslimku, sampai kapanpun, darah dan kehormatanmu kulindungi. Aku hanya ingin bercerita kepadamu, bagaimana seseorang mau berkorban apapun ketika dia melihat jauh ke depan dan memahaminya dengan hati yang bijaksana, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Ali Imran: 133)

Karena itu saudaraku, aku dan mungkin para saudara kita yang lain yang menyibukkan dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar mengajak pada Islam kaffah hanya karena melihat jauh ke depan surga yang seluas langit dan bumi, dan akupun merindukannya. Inginku untuk diizinkan berada di dalamnya. Bukankah kau juga menginginkannya?

Oleh : Khansaa Alma Alfirdausi