Pembawa Obor Peradaban

0
205
muhammad al fatih

Pembawa Obor Peradaban

Oleh : Alya Adzkya

إِنَّ فِى يَدِ الشُّبَّانِ أمْرُ الأُمَّةِ وَفِي إقْدامِهَا حَيَاتَهاَ

“Sesungguhnya, di tangan para pemudalah, semua urusan ummat. Dan setiap langkahnya, menentukan detak kehidupan ummat.”

Pemuda adalah tonggak peradaban. Kemajuan suatu bangsa juga dapat diukur dari para pemudanya. Jika para pemudanya baik, maka dapat dipastikan masa depan suatu negeri akan gemilang. Bila para pemudanya buruk? Masa depan negeri itu mungkin hanya tinggal beberapa saat saja. Mengapa peran pemuda menjadi amat penting? Bukankah kepemimpinan suatu negara dipegang oleh yang lebih tua dan berpengalaman?

Ya, mungkin saat ini kepemimpinan negeri masih dipegang oleh yang lebih tua dan berpengalaman. Tapi, apakah semua itu akan berlangsung selamanya? Tidak, kan? Ada saatnya estafet kepemimpinan akan beralih generasi. Jika saatnya itu tiba, sudah siapkah kita?

peradaban islamPeradaban, dari masa ke masa selalu menempatkan pemuda sebagai pembawa nyala obornya. Di masa awal hingga kejayaan Islam pun, para pemuda setia berbaris untuk menegakkan agama yang mulia ini. Sebut saja Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang di usia 18 tahun. Atau Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usianya yang baru menginjak 21 tahun.

Jika para pemuda hebat itu telah berhasil mengukirkan namanya dalam lembaran sejarah, bagaimana dengan kita? Apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini?
Mungkin banyak dari kita yang pesimis. Jangankan memikirkan masa depan negeri ini, masa depan sendiri saja tidak menentu seperti apa. Kawan, kita adalah pembawa obor peradaban. Jika kita terus-menerus pesimis dan tidak melakukan apa-apa, mau dibawa ke mana nasib negeri ini kelak?

Maka lekaslah, Kawan. Tidak ada kata terlambat. Lekaslah kita perbaiki diri. Terus belajar. Sedikit demi sedikit mengukir prestasi. Berkarya, untuk kemajuan dan masa depan negeri ini.

Kawan, saat ini pena peradaban tengah tegak, bersiap mencatat siapa saja yang pantas terukir dalam pahatan emasnya. Saatnya kita memilih, hanya duduk manis menyaksikan atau ikut berkontribusi mengukir peradaban?

Medan, 08 Agustus 2016