Memaknai Kemerdekaan yang Sebenarnya

0
218
presiden indonesia

17 Agustus, 71 tahun yang lalu, seperti yang kita ketahui bersama, dua proklamator negeri ini mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan para penjajah.

Kita dijajah bukan belasan atau puluhan tahun, tapi lebih dari tiga abad! Kemerdekaan bangsa ini bukanlah hadiah dari para penjajah, tapi buah dari perjuangan, pengorbanan dan kerja keras para pejuang. Tak peduli mereka yang ketika mati dimakamkan di taman makam pahlawan atau tidak, pejuang tetaplah pejuang.

Tak peduli di dadanya tersemat ‘bintang’ atau tidak, sejatinya pahlawan tetaplah pahlawan. Manusia mungkin tidak mengenal namanya, tapi malaikat … Takkan luput mencatat usaha para pejuang itu sebagai sebuah amal shalih. Insyaa Allah.

Bicara tentang kemerdekaan, maka sejatinya Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai sebuah kemerdekaan, kebebasan, juga hak asasi manusia untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Semuanya dimulai dari: tidak adanya paksaan dalam memeluk satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ini.

Perjuangan meraih kemerdekaan juga sudah berlangsung sejak zaman para nabi dulu. Masih ingatkah kita bagaimana Fir’aun berkuasa dan menganggap dirinya sebagai tuhan pada zaman Nabi Musa AS? Di penghujung zaman, Nabi Muhammad SAW juga menjadi tauladan kita dalam memperjuangkan kebebasan kaum muslimin dari aturan, adat dan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang sebenarnya bertentangan dengan nilai ‘kemerdekaan’ itu sendiri.

Manusia memang merdeka. Bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun sesungguhnya, makhluk mana yang benar-benar bisa ‘merdeka’ dari Sang Penciptanya? Bagaimana bisa bebas, jika hakikatnya hidup mati kita semuanya tergantung Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Kita ini terikat. Takkan pernah bisa lepas. Hidup di dunia saja kita ngontrak. Semakin tak berdayanya kita, karena bahkan kita tak tahu, kapan waktu ‘jatuh tempo’ kita kan tiba? Lantas, kemerdekaan seperti apa yang kita banggakan saat ini? Kebebasan macam apa yang kita elu-elukan, bahkan untuk melanggar ketentuan-ketentuan Allah? Apakah masih disebut kemerdekaan dan hak asasi, jika sudah mengganggu, bahkan menzalimi hak asasi orang lain?

Sebagai contoh, mereka yang menganggap aktivitas merokok adalah hak asasinya dengan statement, “Mulut-mulut saya. Duit-duit saya. Kalau saya mau bakar, kenapa jadi Anda yang repot?”

Oh, tentu mutlak menjadi hak asasi Anda, ketika Anda juga sanggup memastikan bahwa asap yang mengepul dari rokok yang Anda hisap, akan Anda hirup sendiri. Silakan, nggak masalah. Tapi saat Anda dengan angkuhnya merokok di area umum, di sekitarnya terdapat orang lain yang tidak merokok, bahkan ada anak kecil, ibu hamil atau manula yang sangat sensitif terhadap asap rokok, jelas Anda sudah mengganggu hak asasi manusia lain untuk menghirup udara bersih!

pekik takbir bung tomo untuk kemerdekaan

Atas nama kemerdekaan berpendapat, tak jarang kita temui, ada saja orang yang seenaknya menjelek-jelekkan orang lain. Menjatuhkan nama baik dan harga diri orang lain.

Atas nama kebebasan berpikir, berseni, tak sedikit wanita yang rela, bahkan ada yang ngotot minta alisnya dicabut lalu disulam, tubuhnya ditato, setelah itu dijajakan untuk diambil gambarnya dan dinikmati setiap lekuk tubuhnya oleh sembarang laki-laki.

Tanpa sadar, apa yang mereka sebut dengan kemerdekaan itu telah merusak moral generasi penerus bangsa lewat gambar atau video porno yang bersebaran di berbagai media. Entah dengan sengaja atau tidak, mereka adalah pemicu tindak pelecehan seksual, bahkan pemerkosaan terhadap perempuan lain. Tidakkah berpikir hingga sejauh itu?

Apakah untuk tujuan ini, para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan darah bahkan nyawa mereka?

#

Silakan gunakan kemerdekaan apa pun yang kita miliki sekarang. Kemerdekaan untuk menjadi ta’at atau durhaka kepada Allah, semuanya ada di tangan kita. Kebebasan untuk berbuat sesuka hati, atau memikirkan kepentingan orang lain, juga terserah kita.

Namun kita perlu tahu …
Namun perlu kita ingat …
Kemerdekaan kita sejatinya ada batasnya. Dan ketika Allah sudah menggunakan hak-Nya untuk mencabut kemerdekaan hamba-Nya … Yang tersisa tinggal hari penghakiman-Nya untuk setiap kita.

Wallahu A’lam bisshowab.

Oleh : Newisha Alifa

Bekasi, 16 Agustus 2016