Lakukan Sepenuh Hati

0
204
kerjakan sepenuh hati

Lakukan Sepenuh Hati

Oleh : Newisha Alifa

Tadi siang sebelum berangkat ke rumah teman yang baru melahirkan, saya pun mampir dulu ke salah satu toko serba ada—dekat tempat tinggal—untuk membeli kado.

Toko tersebut terkenal menyediakan additional service pembungkusan kado oleh karyawannya, tentunya dengan bentuk yang lucu-lucu dan menarik. Usai memilih barang apa yang mau dihadiahkan untuk sang bayi pun, saya tiba di kasir.

“Sekalian dibungkus di sini ya, Mbak,” ucap saya pada si Mbak kasir.

Dengan ramah, perempuan muda berjilbab itu pun tersenyum dan mengangguk. “Iya.”

Saya senang memerhatikan orang yang mahir dalam membungkus kado. Karena meski terkesan sepele, sejatinya hal tersebut membutuhkan keterampilan khusus yang tentunya harus dipelajari dan terdapat ‘seni’ di dalamnya. Tidak main-main, dibutuhkan ketelatenan, kesabaran dan juga perhitungan dalam proses pengerjaannya.

Ah, karena terlalu asiknya memerhatikan kelihaian tangan si Mbak-nya dalam memperkirakan muat tidaknya kertas kado dengan ukuran barang yang akan dibungkus, melipat kertas, menaruh solatip dan hal lainnya, saya sampai lupa mengambil gambar kado dan prosesnya. Tahu apa yang sedang saya renungkan selama menyimak proses pembungkusan kado tersebut? Ia melakukannya dari hati! Kok tahu? Karena proses dan hasilnya yang menjadi bukti dari hal itu!

#

Apa yang kita lakukan setiap saat. Entah itu sesekali atau menjadi rutinitas sehari-hari, usahakanlah untuk mengerjakannya sepenuh hati dan niatkanlah dalam rangka beribadah pada Allah SWT.

Jika selama ini kebanyakan kita tahunya bahwa ibadah itu hanya sholat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an atau hal-hal yang bersifat ritual lainnya, maka sejatinya belajar-mengajar, bekerja, memasak, jika dilakukan karena Allah juga bisa bernilai ‘ibadah’ loh!

Pun ketika kita melakukan segala bentuk ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an dan lain-lain sudah semestinya kita melakukannya juga dari hati, bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban semata.

Berawal dari wudhu misalnya, jangan takut basah. Namanya juga wudhu, pasti basah. Untuk perempuan misalnya, jangan takut make up-nya luntur karena kita berwudhu dengan benar, sesuai aturan. Saya tidak berani mengklaim wudhu saya sudah benar, cuma suka bingung kalau melihat ada teman wanita yang wudhunya asal keciprat-kecipret aja. Membasuh tangan kan harus sampai sikut, ini nggak. Atau ketika menyapu kepala, cuma asal dipeperin doang airnya ke rambut. Pernah diingatkan, cuma nyengir doang. Hmmm … bukankah pelaksanaan wudhu yang benar, adalah langkah awal menuju sholat yang khusyuk?

#

sepenuh hatiPerhatikanlah dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang sederhana saja misalnya; mencuci piring, memasak, mengepel, berdagang, mengerjakan tugas di kantor, sudahkah kita melakukannya dengan hati? Dengan ketulusan? Bukan sekadar pakai prinsip, “Ya saya bekerja karena saya digaji.” Atau “Saya mencuci piring karena saya baru selesai makan.”

Pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan hati, maka baik proses dan hasilnya pun akan berbeda. Selama proses pengerjaannya, hati kita akan terasa lebih ringan, bukan seperti terpaksa, apalagi dihujani dengan keluhan-keluhan yang membuat hati jadi lebih berat melaksanakannya. Dari proses yang berbeda, tentu akan menghasilkan hasil yang berbeda pula.

Contohnya ya, cerita si Mbak kasir di atas tadi. Saya yakin, ia melakukan pekerjaannya dengan segenap hati. Ia menyambut setiap pengunjung toko yang datang dengan salam yang ramah disertai senyuman kecil, namun tetap terasa ketulusannya. Ia membungkus kado saya dengan tenang, dengan sungguh-sungguh, sehingga hasilnya pun bukan sempurna, tapi memuaskan!

Jadi mulai hari ini, yuk lakukan semuanya dengan hati. Niscaya kebahagiaan kita ketika mengerjakannya pun akan menghampiri.

Bekasi, 22 Syawal 1437H