Jualan, Kok Judes Sih?

0
492
berjualan

Jualan, Kok Judes Sih?


Seringkali saya dibuat kesal dengan ketidakramahan pelayanan pedagang atau penjual jasa. Pun keluhan semacam itu juga datang dari teman-teman yang mengalami hal serupa. Entah bentuk keluhannya diungkapkan lewat curhatan biasa, update status di media sosial, atau kalau yang aktif menulis, maka benar-benar akan dibuatkan tulisan panjang seperti yang saya lakukan sekarang.

Faktanya memang keramahan dan kesupelan adalah sesuatu yang ‘mahal’ bagi sebagian orang. Menarik bibir untuk membentuk senyum itu terasa sulit sekali. Akibatnya, dicap jutek atau judes pun akan menjadi ‘gelar’ tambahan yang disandang oleh orang tersebut.

Sebenarnya anjuran untuk bersikap ramah terhadap orang lain, bukan hanya ditujukan bagi para penjual atau pedagang saja, tapi untuk kita semua dalam berbagai interaksi sosial. Hanya saja, bagi orang-orang yang memutuskan untuk menjadi penjual jasa atau pedagang, masalah pelayanan atau service, adalah salah satu poin penting dalam kepuasan pembeli atau pelanggan.

PEMBELI ADALAH RAJA

Kalimat di atas mungkin sudah sering kita dengar. Sebuah ungkapan yang berarti bahwa seorang pembeli harus dilayani dengan sebaik mungkin —tentunya syarat dan ketentuan berlaku— oleh si penjual.

Seenak apa pun makanan yang Anda jual, sebagus apa pun kualitas barang yang Anda miliki, semurah apa pun harga yang Anda tawarkan, jika tidak disertai dengan pelayanan yang ramah, hmmm … Akan terbuka kemungkinan pelanggan enggan berbelanja di tempat Anda.

Sejatinya, posisi pembeli dan penjual itu sejajar. Tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya saling membutuhkan. Si pembeli membutuhkan barang yang dijual. Pun si penjual membutuhkan pembeli untuk mendapatkan keuntungan dari apa yang dijualnya. Namun umumnya, jika sebagai penjual Anda memiliki banyak pesaing, maka terbuka kemungkinan si pembeli akan membandingkan, mana penjual yang memberikannya keuntungan lebih banyak. Selain harga murah dan mutu produk yang bersaing, pelayanan penjual adalah faktor lain yang akan diperhitungkan oleh pembeli ketika membeli suatu barang.

jualan kudu sering senyum
Senyum pedagang

Saya pribadi termasuk orang yang sangat kritis dalam menilai sebuah pelayanan. Saya lebih memilih untuk menempuh jarak yang lebih jauh, atau membayar dengan harga yang lebih mahal, daripada makan hati diperlakukan dengan tidak baik atau jutek oleh seseorang. Pembeli itu bayar loh, bukan minta gratisan.

Karyawan, kasir, pramuniaga atau pramusaji adalah perwakilan pemilik usaha yang dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik bagi para pembeli atau pelanggan. Misalnya, di salon muslimah tempat saya biasa melakukan facial, ada salah satu karyawannya yang manyun melulu ketika menangani tamu. Setelah orangnya berhenti bekerja, owner salonnya yang kebetulan sudah akrab dengan saya menceritakan, bahwa ia pernah mendapat semacam complaint dari salah satu tamu tentang sikap karyawannya tersebut. Oh, rupanya ketika saya memilih diam untuk tidak melaporkan ketidaknyamanan saya, ada tamu lain yang berani menyampaikan keluhannya terhadap orang yang sama.

Teruntuk para penjual, semoga tidak mengabaikan hal ini, karena akan berpengaruh terhadap rezeki atau omset usaha Anda loh. Kalau satu dua pembeli yang merasa tidak nyaman mungkin nggak akan jadi masalah besar. Tapi kalau sudah banyak orang yang ‘menandai’ bahwa pelayanan di tempat usaha Anda itu tidak menyenangkan, bukannya mustahil usaha Anda akan sepi pembeli nantinya. (Oleh : Newisha Alifa)

Bekasi, 8 Dzulqoidah 1437H