Jangan Paksa Mengubah Sifat Dasar Seseorang

0
373
bergaul

Jangan Paksa Mengubah Sifat Dasar Seseorang

Oleh: Afdalil Zikri

Seringkali dalam hidup ini, kita menginginkan orang lain atau orang terdekat, untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan. Di satu sisi, akan menjadi suatu kebanggaan bagi kita kalau orang lain bisa mengikuti apa yang kita inginkan, karena kita bisa mengendalikan pola pikir, tingkah laku atau sifat orang lain tersebut. Namun di sisi lain, kita tidak bisa menghargai hak-hak dasar manusia. Padahal Al Quran mengatakan bahwa Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Salah satu faktor penyebab pertengkaran atau timbul perdebatan dalam kehidupan disebabkan oleh keinginan yang kuat untuk menjadikan orang lain seperti apa yang kita inginkan tidak lagi terkontrol, dan merampas hak orang lain untuk hidup seperti apa yang diinginkan. Kebebasan hidup seseorang kita abaikan demi memuaskan hasrat kita semata. Orang bijak berkata, “Tidak tercela ketegasanmu, tetapi keras dan kaku tidak pada tempatnya yang menjadi masalah, bukan lemah lembutnya yang disalahkan, tetapi lemahnya engkau terhadap rayuan syahwat dan lemah terhadap samarnya kebatilan”.

Para sahabat Rasulullah SAW memiliki berbagai sifat dasar, seperti Abu Bakar yang bersifat lemah lembut, Umar bin Khaththab yang tegas,dan sifat Utsman bin Affan yang pemalu. Rasulullah tidak pernah mengubah sifat dasar para sahabat beliau. Beliau menempatkan sahabat beliau sesuai dengan sifat dan karakteristik para sahabat.

Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau menggabungkan semua kelebihan dan karakteristik, fleksibel dalam semua hal. Keras pada tempatnya, lembut saat harus lembut dan kadang beliau juga bercanda dengan para sahabat. Beliau adalah manusia yang paling bisa menghargai berbagai sifat para sahabat beliau tanpa mengubah sifat dasar para sahabat. Lalu apakah kita yang menjadikan Rasulullah sebagai panutan pantas mekaksakan orang lain untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan menurut nafsu dan syahwat kita?

Sifat tegas dan keras yang tidak pada tempatnya, inilah yang tercela. Seringkali kita menjumpai cap kafir dan menyebut ahli bid’ah tanpa ilmu yang memadai. Menegur dengan cara yang kasar tanpa harus tahu mengapa seseorang melakukan hal tersebut. Padahal Allah melarang dalam firman-Nya,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

sifat dasarIslam tidak memaksa mengubah sifat dasar seseorang, karena Allah menciptakan manusia itu unik dan berbeda dengan yang lainnya. Terkadang kita tidak suka dengan satu sifat seseorang, tetapi bukan berarti sifat yang lainnya jelek. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah, jika dia membenci salah satu sifatnya, niscaya dia akan ridha dengan perangai yang lain,” (HR. Bukhari)

Hidup dengan menghargai sifat dasar seseorang akan terasa nikmat, saling mengisi satu sama lain dan akan tercipta suasana yang kondusif. Saat kita memaksakan kehendak kepada orang lain, bukankah orang lain jadi cerminan diri kita? Lalu di manakah letak keunikan tiap orang kalau semua sifat sama? Jadi hargailah perbedaan sifat, karena Islam tidak memaksa mengubah sifat dasar seseorang.

Solok, 17 Juli 2016