Harapan yang Tak Pernah Sia-sia

0
478
harapan yang tidak sia-sia

Sahabat, setiap manusia tentu memiliki harapan dalam hidupnya. Baik harapan jangka pendek maupun jangka panjang, harapan kecil maupun harapan besar, setiap insan yang bernyawa memang telah seharusnya memiliki harap sebagai iringan tujuan hidup. Sebab jika hidup hanya sekedar hidup, hewan-hewan pun memiliki kehidupan. Dalam konteks ini yang kita bahas adalah insan-insan yang mempunyai harapan baik dan keinginan untuk memenuhi tujuan hidupnya.

Jika kita analisa kembali, harapan manusia tentu akan beraneka ragam rupanya. Dalam beberapa situasi yang sering saya temukan, ada orang-orang yang memiliki harapan BESAR dalam hidupnya. Keinginan yang besar, dalam proses perwujudannya tentu juga harus memiliki keyakinan yang besar untuk berhasil. Selama harap itu berada dalam konteks kebaikan, maka janganlah takut untuk mengajukan proposal keberhasilan kepada Allah SWT. Yang paling penting ialah, jangan pernah takut untuk berharap dan meminta.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ulama mengatakan mengenai tafsir hadist tersebut bahwa jika kita meyakini Allah akan membantu kita, maka Allah akan membantu. Jika kita memohon ampunan, maka Allah akan mengampuni, jika kita mendekat pada Allah, maka Ia akan menjadi lebih dekat. Sedangkan ulama lain berpendapat maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2).

Hadist di atas merupakan sebuah hadist qudsi yang dapat membentuk konsep diri kita agar tak pernah takut untuk meminta dan berharap pada Allah SWT. Dengan meyakini Allah sebagai Dzat yang maha mampu, maka Allah pun akan senantiasa berkenan mengabulkan doa-doa kita.

Percayalah, Allah tak akan pernah bosan mendengar dan mengabulkan harapan-harapan hambaNya. Bila kita lihat dari cermin manusia, kebanyakan pengalaman memberi pengajaran ketika satu kali seorang meminta bantuan, ia masih memberi sembari tersenyum. Kali kedua seorang tadi kembali meminta bantuan, ia masih memberi namun telah hilang senyumnya. Dan pada kedatangan ketiga kalinya, hilanglah senyum dan pemberiannya. Sedangkan Allah yang maha baik, berpuluh-puluh kali kita meminta pun Allah tak akan pernah bosan untuk tetap mendengar dan mengabulkan. Bahkan meski kita telah menyadari betapa banyak dosa yang telah kita perbuat, namun Allah masih saja berkenan mengabulkan doa kita. MasyaAllah..

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60)

Dalam surat Al Baqarah Allah Swt berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Kalau kita merasa tergugah kala mendengar saudara A yang berhasil dalam bisnisnya, mendengar teman B yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri, mendengar nikmat-nikmat yang dimiliki orang lain begitu mudahnya karena mereka mampu. Jangan merasa rendah diri, sahabatku. Itu memanglah rezeki mereka. Yang perlu terus ditanamkan ialah pemikiran bahwa kita pun mampu. Kita pun memiliki kesempatan itu jika kita mau berusaha dan meminta kepada Allah SWT.

harapanSeperti ungkapan seorang bijak dalam sebuah buku, “Jika kamu merasa tak mampu dan tak mungkin mendapat apa yang kamu harapkan, maka mintalah kepada Allah yang maha mampu.” Kalkulasi Allah selalu maha hebat. Kalimat tersebut seakan ingin menyampaikan pada kita agar tetap berani untuk menggapai mimpi. Meraih harapan yang meskipun terasa tak mungkin dalam kacamata manusia, namun jika kita memintanya kepada Allah, maka tak ada harap yang tak dapat diwujudkan.

Lalu, apa saja yang harus diubah dalam pola pikir agar keyakinan kita dapat mewujud?

Pertama, tetapkan target dan prioritas. Urutkan tujuan dan kegiatan yang akan lebih dulu dilakukan berdasarkan prioritas. Sesuaikan dengan kemampuan diri dan batas waktu kapan poin-poin dalam prioritas tersebut dapat tercapai.

Kedua, lakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Berusahalah dengan optimal untuk meraih apa yang kita harapkan. Tak perlu takut berpikir apa yang akan terjadi nanti. Jika usaha kita masih berada dalam koridor kebenaran, maka jangan mudah patah dalam menjalankan prosesnya. Terkadang, bagi sebagian orang fase ini terasa cukup melelahkan sehingga mereka cepat merasa puas, padahal baru sedikit ikhtiar yang dijalankan. Jangan mudah terlena dalam fase ini, yang perlu ditekankan ialah jangan sampai kita berbuat sesuatu namun tak memiliki arti, atau dengan kata lain kita membiarkan satu hari dalam hidup ini terbuang percuma. Padahal ada banyak orang lain di luar sana yang berlomba untuk mewujudkan mimpinya.

Ketiga, bersikap tawakal pada Allah. Apabila proses telah kita jalankan dengan baik, ikhtiar telah cukup, dan doa telah menggunung, maka tinggal sikap tawakal yang harusnya kita terapkan. Serahkanlah semuanya pada Allah SWT. Seperti pepatah dari seorang bijak, “Jika kamu telah melaksanakan ikhtiar semampumu, maka setelahnya biarkan doa dan kuasa Allah yang berperan di langit.”

Pada intinya, tak ada harapan yang mustahil. Bukannya ingin menanamkan konsep ambisius, tulisan ini hanya bermaksud mengobarkan “jiwa optimis” kembali pada pemuda-pemudi yang kini semangatnya terlihat banyak mengendur. Semoga semua harapan baik kita akan terwujud. Jangan takut duluan, kita selalu punya Allah yang maha mampu.

Palembang, 22 Agustus 2016

Oleh: Aannisah Fauzaania