Gula Jagung Lebih Sehat Daripada Gula Tebu, Benarkah?

0
350
gula tebu

Gula, zat makanan ini tentu tak asing lagi bagi kita. Bagaimana tidak, dalam setiap harinya selalu saja ada makanan yang berunpanganan yang kita makan. Zat manis ini dapat kita temukan di banyak jenis makanan, baik yang berbentuk langsung maupun tidak langsung. Jika yang berbentuk langsung berwujud gula pasir seperti yang biasa kita campur dalam minuman, sedangkan yang tidak langsung dapat tersimpan dalam nasi, kue, buah, susu, minuman kaleng, dan beberapa jenis lainnya. Biasanya gula yang tersembunyi lebih banyak terdapat pada makanan atau minuman instant.

Di era yang semakin berkembang kini, seiring dengan bertambahnya jumlah obat dan cara penyembuhan dengan teknologi, bertambah pula ragam penyakit yang dapat diderita manusia. Resiko terkena penyakit ini ada dalam tiap tubuh, terutama bagi orang-orang yang senang mengonsumsi makanan atau minuman cepat saji. Biasanya mereka akan lebih mudah terkena penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang akan berpengaruh pada penurunan fungsi organ tubuh.

Salah satu penyakit degeneratif yang sering muncul ialah diabetes. Diabetes memiliki beberapa tipe, namun masing-masing tentu memiliki faktor resiko yang sama untuk mengancam kehidupan bagi penderita. Seseorang dengan riwayat penyakit diabetes, biasanya akan mulai mengalami penurunan kepekaan organ, penurunan daya tahan tubuh, dan tak dapat lagi mengonsumsi sembarang makanan.

Kondisi yang mengkhawatirkan ini tentu membuat banyak masyarakat resah. Sehingga mereka mulai berpikir untuk mengurangi penyebab yang membuat penyakit dapat bertambah akut. Salah satu alternatif yang banyak dipilih ialah mengganti gula pasir biasa dengan gula jagung.

Gula jagung dipercaya masyarakat lebih aman dikonsumsi bagi penderita diabetes. Dalam analisanya disebutkan gula jagung memiliki struktur gula berupa fruktosa. Fruktosa merupakan jenis gula paling manis diantara pecahan karbohidrat lain. Struktur ini juga banyak terdapat dalam buah-buahan. Sedangkan gula tebu biasa mengandung struktur gula berupa sukrosa. Sukrosa memiliki rasa yang kurang manis dibanding fruktosa, namun gula ini pun yang dianggap paling tinggi kalori.

gula jagungLalu, benarkah gula jagung lebih sehat?

Dokter Robert H. Lustig dalam presentinya yang berjudul ‘Sugar: The Butter Truth’ dinyatakan ternyata gula jagung memiliki peluang resiko lebih besar dalam kontribusi terkenanya penyakit diabetes dalam diri seseorang.

Dilansir dari klikdokter.com, sebuah penelitian yang membandingkan efek larutan fruktosa dan larutan sukrosa terhadap tikus menunjukkan bahwa tikus yang mendapatkan larutan fruktosa ternyata lebih cepat mengalami obesitas jika dibandingkan dengan tikus yang mendapatkan larutan sukrosa.

Hal tersebut disebabkan karena meskipun memiliki selisih kalori lebih rendah satu angka dari sukrosa, namun penelitian mengatakan konsumsi fruktosa dalam jumlah banyak dapat berpengaruh pada penekanan hormon ghrelin atau pemberi sinyal kenyang, sehingga menyebabkan tubuh akan terus mengirim sinyal lapar yang berkelanjutan. Akibatnya seseorang akan makan dan minum lebih banyak lagi dari biasanya.

Hal ini juga berpengaruh pada kondisi hepar yang memproduksi trigliserida dalam jumlah tinggi. Semakin banyak fruktosa, semakin banyak pula trigliserida yang dapat memicu terjadinya obesitas dalam tubuh.

Jadi, konsumsi gula jagung yang rendah kalori tak selalu baik. Dalam anjuran beberapa ahli gizi, tetaplah konsumsi gula tebu, namun dalam batas sewajarnya. Maksimal konsumsi gula pasir dalam sehari sejumlah empat sendok teh. Batasi juga mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman dalam kemasan.

Kesehatan memang bukanlah segalanya, tetapi segalanya tanpa sehat pun tak akan berarti apa-apa kan. Maka, mari jaga selalu kesehatan kita.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, aamiin.

 

Palembang, 22 Agustus 2016

Oleh: Aannisah Fauzaania