Dik, buat apa sih pacaran?

0
378
anak-anak smp

Dik, buat apa sih pacaran?
Oleh : Newisha Alifa

Usiamu baru belasan. Bahkan mungkin masih berseragam putih biru dongker. Lantas, apa yang hendak kau cari dari hubungan bernama ‘pacaran’ itu?

Hmmm … karena saya pernah ada di posisi kalian, maka In Syaa Allah, saya paham banget apa alasan utamanya, “Biar kayak temen-temen” | “Gak pacaran, gak kekinian.” Gitu kan inti dari keputusanmu berpacaran?

Sebenarnya mungkin ada alasan lain yang nggak kalah populer, “Aku kan suka sama dia. Aku sayang dan cinta sama dia.”

Kalau suka, mungkin. Biasanya itu berawal dari ketertarikan yang bersifat lahiriah semata. Entah karena si doi itu cantik atau ganteng, pintar, kaya, terkenal dan seabrek kelebihannya yang lain. Tapi eitsss, apa kau bilang tadi? Sayang? Cinta? Masa sih?

Percayalah, contoh sayang dan cinta yang sebenarnya adalah bentuk kasih kedua orangtua kepada anaknya. Yang seharusnya kau balas dengan prestasi gemilang, bukan sensasi karena pacaran di usia belia ini.

Pacaran buat penyemangat.”

Apa iya begitu? Kalau kau sama pacarmu lagi berantem, apa nggak ngaruh ke semangat belajarmu? Bete. Galau. Banyakan mikirin si dia ketimbang kualitas belajarmu di sekolah. Apa itu alasan yang kau agung-agungkan?

Duh, Dik …
Ini fakta. Bukan lagi nakut-nakutin. Terutama jika kau adalah seorang gadis. Harusnya kau tahu dan paham, bahwa di luar sana, banyak perempuan muda yang boleh jadi seusiamu, harus kehilangan MASA DEPANNYA, berawal dari hubungan bernama pa-ca-ran.

Kau tidak akan serta merta menjadi dewasa dengan berpacaran. Dengan saling memanggil Ayah-Bunda. Bahkan Umi-Abi. Aduhai, jika suatu saat kau menyadari semua ini, pasti kau akan malu sekali pernah melakukannya. Yang sering terjadi adalah, kau hanya akan berpotensi mempraktikkan hubungan orang dewasa. Hubungan yang sebenarnya hanya halal dilakukan setelah seorang laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan resmi bernama pernikahan.

Ya, pernikahan!
Kalau kau benar mencintainya, maka kau harus menikah dengannya. Apa kau sudah siap menghadapi konsekwensi sebuah pernikahan? Mengurus anak. Menafkahi istri. Melayani suami. Sudah siap?

Bukankah kau masih harus menyelesaikan sekolahmu? Oh! Bahkan kau pernah bercita-cita untuk mengejar beasiswa hingga ke luar negri?

Jika semuanya terasa rumit untuk kau pahami, maka berhati-hatilah dalam memilih prioritas hidup. Jangan sampai kau salah mengambil keputusan yang boleh jadi akan kau sesali seumur hidupmu.

Menyukai lawan jenis adalah salah satu fitrah kita sebagai manusia. Allah memang sengaja menciptakan kita begitu. Ada kecenderungan pada lawan jenis. Namun, dalam Islam pun sudah diatur solusi terbaik untuk perihal satu ini, yakni dengan menikah! Titik! No other option anymore!

pacaranNanti ada waktunya, Dik.
Kau akan bertemu dengan dia yang memang Allah takdirkan untuk menjadi pasangan hidupmu. Dia yang kualitasnya sama denganmu, In Syaa Allah!

Jika semasa mudamu, kau menghabiskan waktu dengan hal-hal positif; belajar, mengaji, berbakti dan membantu orang tua, berorganisasi di OSIS misalnya. Maka yakinlah, jodohmu kelak adalah seseorang yang menjaga masa mudanya juga sepertimu.

Pacaran itu kelihatannya saja asik, seru, kekinian. Padahal masalah dan kerumitan hidup sudah menantimu di belakangnya jika kau memilih untuk berpacaran. Putus. Sakit hati berkepanjangan. Selingkuh. Aduh, sayang banget, waktu muda dihabiskan dengan urusan-urusan nggak penting begitu!

Kalau hari ini kau mulai merasa tertarik pada seseorang. Cukup simpan dalam hati. Tak perlu ikut-ikutan yang lain untuk ‘nembak atau ditembak’. Ingatlah Allah yang telah melarang kita untuk mendekati zina. Ingatlah wajah kedua orang tua kita yang jauh lebih pantas untuk kita hujani kasih sayang, bukan dia. Jika kalian memang berjodoh, pasti suatu saat, ketika keduanya sudah sama-sama siap, Allah akan mempertemukan kalian lagi dengan cara-Nya yang indah. Dengan jalan yang boleh jadi tak pernah kau sangka-sangka.

Bekasi, 26 Syawal 1437H

Save