Di Balik Kalimat “Semua Akan Indah Pada Waktunya”

1
12329
semua akan indah pada waktunya

Kali ini kita membahas tentang kalimat, “akan indah pada waktunya”. Menulis atau mengucapkan kata-kata merupakan hak yang bebas dilakukan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Namun, pernahkah kita berpikir terlebih dahulu sebelum kata-kata itu keluar dalam bentuk ucapan maupun tulisan? Apalagi jika kata-kata tersebut ‘identik’ dengan keyakinan atau kepercayaan pada agama lain. Bukankah ada kaidah, al “ilmu qoblal qoul wal ‘amal” (ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan)?

Kata-kata yang penuh pesona dan sering disampaikan banyak orang, salah satunya adalah, “Indah pada waktunya”. Betapa indah kalimat ini, seindah harapan yang ada di dalamnya. Namun, perlu kita ketahui asal muasal dari kalimat tersebut. Apakah ada hubungan dengan keyakinan atau kepercayaan agama lain?

Ternyata, kalimat “Indah pada waktunya” terdapat di dalam Bibel, pada bagian kelompok kitab Perjanjian Lama. Kalimat tersebut dijumpai dalam Kitab Pengkhotbah 3: 11, yang berbunyi :

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Versi bahasa Inggris :

He has made everything beautiful in its time. He also has planted eternity in men’s hearts and minds [a divinely implanted sense of a purpose working through the ages which nothing under the sun but God alone can satisfy], yet so that men cannot find out what God has done from the beginning to the end.

Kalimat tersebut merupakan salah satu kalimat yang sangat populer dalam syi’ar umat Nashrani, termasuk yang sering diucapkan di gereja-gereja dan forum-forum Kristiani, baik melalui khotbah, diskusi maupun syair-syair lagu rohani. Berikut ini salah satu bagian dari bait lagu, “Indah Pada Waktunya” yang menjadi lagu populer umat Nashrani, khususnya di Indonesia.

Mungkin tak kupahami

Apa yang kini ku alami

Namun ku tahu pasti

Kasih Allahku takkan berhenti

Kan ku s’rahkan semua

Pergumulanku padamu Yesus

Karna ku tahu pasti

Semuanya ‘kan jadi indah pada waktunya

bunga yang indahJika kalimat “Indah pada waktunya” telah menjadi bagian dari syi’ar agama Kristiani, maka sepatutnya kita meninggalkannya agar tidak terjebak pada tasyabuh (menyerupai) kaum kafir. Allah SWT memperingatkan kita dalam firman-Nya,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Hadiid: 16].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Firman-Nya :  ‘janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya’ ; merupakan larangan yang bersifat mutlak dalam hal penyerupaan terhadap mereka (orang kafir). Larangan ini juga khusus menyerupai mereka dalam hal kerasnya hati, sedangkan kerasnya hati termasuk di antara buah kemaksiatan” [Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim, 1/290].

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai mereka (orang kafir) dalam hal apapun, baik dalam perkara pokok maupun cabang.” [Tafsir Ibnu Katsir, 8/20].

Bahkan, larangan untuk menggunakan kalimat ‘indah pada waktunya’ yang merupakan kata-kata istimewa dalam syiar Kristiani sebagai bentuk tasyabuh, juga tersirat melalui hadits Nabi SAW,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya, serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwaa’ no. 1269].

Sebagian ulama berpendapat bahwa menyerupai orang kafir bisa terjadi dalam perkara qalbiyyah yaitu berupa akidah, kehedak atau iradah, dan perkara kharijiyyah (yang keluar dari panca indera) seperti perkataan dan perbuatan. Para ulama bersepakat agar kaum muslimin menyelisihi ahli kitab dan non-Arab, serta melarang menyerupai orang kafir.

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Dan termasuk dalam bentuk menyerupai orang kafir adalah bercakap-cakap dengan bahasa orang-orang kafir pada kebutuhan yang tidak mendesak, serta menulis dengan bahasa mereka di tempat-tempat berjualan di negara kaum muslimin. Atau mencampur kalimat dan istilah-istilah dari bahasa mereka di dalam buku-buku Islam dan karya-karya lainnya.” [Al Khuthab, 2/168].

Berhenti memakai kalimat “indah pada waktunya” niscaya lebih baik dan lebih berhati-hati. Apabila perlu mencari pengganti, maka dapat digunakan kalimat, “Alhamdulillah ‘ala kulli haal” yang artinya “segala puji bagi Allah atas segala sesuatu.” Atau bisa pula menggunakan, “Setelah kesulitan ada kemudahan.”

Wallahu a’lam.

Ditulis Oleh : Asadullah Al Faruq